[Book Review] Menjadi Selamanya by Luna Torashyngu

Bagi Jovanka Mileena menjadi sukses dan terkenal adalah segalanya. Setelah melalui perjuangan panjang, akhirnya Jovanka berhasil menjadi penyanyi. Sayangnya kenyataan pahit kembali untuk Jovanka: albumnya tak laku di pasaran, stasiun TV tak mempedulikan dia, dan manajernya berhenti demi penyanyi lain.

Ketika Jovanka mencari cara untuk tetap bertahan di industri musik, ia menemukan lagu “Melodi Rembulan”. Mendadak sorot lampu panggung kembali meneranginya: terang dan menyilaukan. Namun kemudian kematian dan kejadian misterius mulai membayangi Jovanka. Kini semua membawanya ke sebuah pertanyaan: berapa harga yang pantas untuk menjaga keabadian?

<!–more–>


Cover Novel

Paperback, 256 pages
Published December 2013 by PlotPoint
ISBN13 9786029481532
Rating: ⭐⭐⭐⭐


STYLE

Sebuah novel yang ber-ide sangat kompleks, mengandung unsur Horor, Mysteri, Thriller, History, Mistic, Legend bahkan sampai ada kemiripan dengan film. Khususnya Final Destination.

Kalau membaca blurbnya saya nggak sampai berfikir kalau cerita ini bakal berhubungan dengan hal-hal yang berbau mistis dan horor. Yang ada dalam pikiran saya malah cerita semodel D’Angel yang full pembunuhan-pembunuhan ilmiah, bukannya yang mistis.

Nggak ada sisi romantis disini (padahal kan saya paling suka sama romance story). Karena itu novel ini full petualangan. Jadi jangan harap ada cowok kece yang bakal jadi kekasihnya Jo (tokoh utama). Walau sempat disebut sekali tentang hubungan Jo dan satu orang cowok yang sukses membuat saya berharap lebih. Tapi saya kena php.

Kesan horor dan mistisnya benar-benar kuat. Bayangan hantu yang mencabut jantung manusia, Nyi Roro Kidul, perkampungan di pinggiran hutan, semuanya digambarkan dengan baik. Hingga imajinasi pembaca semakin liar namun tetap terkontrol.

SETTING

Bahasa Jawa sebagai bahasa beberapa tokoh yang dituliskan juga tidak ada masalah. Namun ada sedikit ganjalan mengenai penggunaan sebutan garwo. Dalam bahasa Jawa (Temanggung, Jawa Tengah), garwo diartikan sebagai istri namun bukan selir. Garwo berasal dari dua kata yang digabung yaitu sigaring nyawa atau belahan jiwa. Memang bisa saja kata itu dipakai untuk menyebut selir raja.

Penggunan bahasa ini juga memberi kekuatan dalam latar tempat cerita. Terasa sangat nyata. Sebuah perkampungan di dalam hutan yang sangat jauh dari kota bahkan belum tentu ada orang yang sadar sebenarnya di sana terdapat kampung.

EVENTS

Semuanya ditakar Luna Torashyngu dengan pas. Pengenalan, klimaks, antimklimaks, ending, sangat memuaskan. Tidak ada yang terburu-buru atau terlalu lambat.

Endingnya, saya merasa segala teror itu telah berakhir setelah Cleo “berperang” dengan Nyi Rarang. Tapi nyatanya tidak. Ending yang mirip Final Destination.

PLOT

Keren! Tapi bintang 4 saja. Soalnya saya dibuat ketakutan sekali dengan hantu yang mengeluarkan tangan dari kaca untuk menarik jantung korbannya. Brrrr!!

Cocok dibaca sambil dengerin lagu Lingsir Wengi wkwk. Kidding! Jangan, nanti kalian kesurupan.

I would recommend this book to Luna Torashyngu’s fans yang selalu memikat pembaca dengan cerita petualangannya.

Tentang Luna Torashyngu

Iklan