[Book Review] Kabut di Bulan Madu by Zainul DK

Tersangka kasus penembakan di sebuah kafe yang menewaskan seorang preman adalah Roby. Ia melakukan penembakan itu karena tak terima kekasihnya, Linda, diganggu. Ia pun berhasil ditangkap oleh Inspektur Ariel untuk menjalani hukuman penjara. Tidak sanggup melihat sang kekasih bersedih mengetahui dirinya dijebloskan ke penjara, Roby menyuruh Linda untuk berlibur menaiki kapal pesiar mewah.

Di sisi lain, ada pasangan yang baru menikah hendak berbulan madu : seorang penyiar berita bahasa Jepang, Helena Lizzana, dan pria keturunan Jepang-Timur Tengah, Ihdina Shirota. Mereka berencana menikmati momen indah itu dengan naik kapal pesiar.

Pasangan muda tersebut berada dalam satu kapal pesiar yang sama dengan Linda. Tak disangka terjadi musibah : kapal pesiar itu menabrak karang dan karam. Dari hasil evakuasi, dinyatakan bahwa hanya ada satu korban jiwa meninggal, yaitu LINDA!

Memperoleh berita nahas ini, Roby tentu saja tidak terima. Menurutnya, ada keanehan yang menyebabkan kekasihnya saja yang menjadi korban. Ia percaya seseorang sengaja membunuh Linda. Ia pun menyusun rencana untuk kabur dari penjara, dan mencari tahu siapa pembunuh sang kekasih. Inspektur Ariel mesti mati-matian mencegahnya!


image

Paperback, 249 pages
Published August 2016 by Ellunar Publisher
ISBN13 9786020805733
NO RATING, NO SPOILER, NO JUDGE, IT’S ONLY A CRITICISM FOR A BETTER AUTHOR


Review

Tau kalimat “Manusia berencana, Tuhan yang menentukan”? Begitulah yang saya alami ketika membaca novel ini hingga tuntas dan sampai akhirnya saya menunda memublikasikan reviewnya. Banyak halangan. Yah, siapa tau apa yang akan terjadi dalam hidup seseorang sebelum orang itu menjalaninya? None.

Yaps, untuk memenuhi janji yang terlanjur dibuat.🍻

Beberapa bulan yang lalu saya selesai membaca novel ini. Novel dengan label thriller dan romance yang menurut saya tidak cocok dengan labelnya. Novel ini lebih bisa dikatakan sebagai novel detektif. Pengungkapan motif, alibi, dan tersangka. Nggak pas kalau masuk ke jenis thriller karena hanya ada satu kali “proses” mengerikan yaitu ketika Linda tanpa sengaja dikatakan dibunuh oleh Helena.

Namun anehnya, tersangka yang dimaksud dalam kasus ini sudah diketahui dari awal. Yaitu Helena. Nah, pertanyaannya, apa yang sebenarnya akan penulis ceritakan di buku ini?

Bagi saya sendiri, penggunaan bahasa dalam novel ini tidak cocok untuk saya. Kenapa? Ini terlalu… Melayu, mungkin? Atau baku? Beberapa kalimat yang sebenarnya bisa dipendekkan dengan konjungsi sehingga bisa lebih efisien. Terkadang penulis juga tidak konsisten dalam penggunaan kata “Tak” dan “Nggak” padahal pengunaan diksi sangat berpengaruh dalam menciptakan atmosfer novel.

Yang pertama harus saya rasakan dalam sebuah novel adalah karakter. Ketika karakter itu kuat dan berkesan, berkesan bisa jadi membuat saya ingin mencaci maki saking menyebalkannya atau membuat saya terpesona. Yaa selalu ada hal positif dan negatif. Dalam novel ini tokoh utama Robi memiliki karakter yang meledak-ledak. Seperti remaja. Padahal dia sudah dewasa. Sebagai saran, penulis seharusnya memberikan penjelasan atau penggambaran latar belakang yang lebih detail mengenai alasan kenapa Robi berkarakter seperti itu. Karena itu sangat kurang pas. Seharusnya laki-laki seumuran dia lebih menggunakan otaknya untuk berpikir bukan menggunakan perasaannya. #HasilPenelitianSaya

Karakter lain yaitu Ariel. Porsinya kurang. Padahal di blurbnya seakan-akan novel ini adalah ceritanya. Tapi dia tidak berperan sangat besar. Namun juga tidak bisa dihilangkan karena dia yang akhirnya “sadar” ada yang janggal dengan terdakwa Roby (akhir cerita).

Karakter yang perlu disayangkan lagi adalah Tim kepolisian. Bagi saya dialog mereka terlalu banyak. Padahal mereka sedang berada di lapangan dan hendak menangkap tersangka. Tim penyergap ini akan lebih baik jika digambarkan dengan narasi yang berisi gerakan mereka, gestur mereka, cara mereka saling memberikan kode untuk menyergap.

Sekali lagi saya mau mengomentari diksi. Banyak hal yang harus penulis perbaiki dengan diksinya. Penggunaan istilah kekinian atau gaul layaknya “sakitnya tuh di sini” akan lebih baik jika didukung dengan emosi tokoh yang tepat, tempat yang tepat dan waktu yang tepat. Tidak semua adegan bisa disisipi dengan kata-kata yang gunanya untuk melucu. Karena itu malah bisa menggagalkan konflik. Penggunaan diksi “You” yang digunakan oleh Ariel cukup merusak mood saya karena kurang pas ada di setting ini.

Lalu penggunaan huruf kapital. Semua orang tau kadang menulis kata dengan huruf kapital semua dapat menekankan perkataan. Namun, format seperti ini tidak bisa dilakukan terus menerus karena dapat membuat pembaca seakan-akan sedang “Diteriaki di depan hidungnya secara langsung dengan toa”.

Overall novel ini punya ide cerita yang menarik. Sungguh, blurbnya dapat dijadikan sebagai “inti cerita” yang baik. Yang perlu penulis lakukan adalah memolesnya lagi. Dan yaaa saya agak terkejut dengan twist di akhir. Bikin saya melongo “what?”. Penulis juga telah memberikan hal baru melalui kilasan cerita Jepang dan Arab. Butuh riset lebih banyak lagi agar plot yang dibangun bisa berdiri tegak.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s