[Book Review] One Little Thing Called Hope by Winna Efendi

Aeryn
Hidup Aeryn seolah nyaris sempurna. Pintar, cantik, populer. Namun, setelah kehilangan ibunya, Aeryn menyadari bahwa kebahagiaan tidak pernah berlangsung terlalu lama. Selalu ada sesuatu yang terjadi. Kehadiran Flo dan Tante Hera membuat segalanya berubah. Bahagia ternyata tak seperti yang ia duga.

Flo
Bagi Flo, hidup adalah makanan manis, kue, tas perca dan aksesori buatan tangan, kotak-kotak susu aneka warna, serta Genta dan Theo – dua cowok paling berarti baginya. Bahagianya hampir terasa lengkap ketika ia memiliki Aeryn sebagai kakak perempuan yang ia idamkan. Namun, bahagi ternyata tak seperti yang ia duga.

Ini kisah persahabatan yang tak terduga di antara orang-orang yang dipertemukan secara tak sengaja, keteguhan hati untuk bertahan pada pilihan meski itu sulit. Juga tentang cinta dan harapan yang harus dibagi dan direlakan pergi.

“Walaupun satu orang penting dalam hidup lo menghilang, bukan berarti yang lain juga akan pergi.”—hlm. 66 (Mari kita sebut ini Hope, harapan)


image

Dok. Pribadi

Paperback, 419 pages
Published June 2016 by Gagas Media
ISBN: 13 9789797808228
Rating: ⭐⭐⭐⭐


“Apa yang membuat kamu tertarik baca buku ini?”

Itu adalah pertanyaan giveaway yang diadakan di blog Kak Kitty yang diisi oleh Kak Nana hampir dua bulan yang lalu. Dan alhamdulillah saya menang. Jadi begini jawaban saya:

One Little Thing Called Hope, buku ini udah terbit lama tapi baru kali ini aku baca secara keseluruhan review-nya. Aku terkejut ketika membaca blurb-nya. Nggak nyangka sang tokoh bakal hamil di luar nikah. Apalagi sama sahabatnya sendiri! Ya Tuhan…

Aku tertarik dengan buku ini karena dari pertama tau buku ini banyak orang yang menanti-nantikan. Banyak orang yang lekas beli buku bercover yg menurutku kalem dan terlihat kayak timbul gitu rajutannya. Bahkan, sahabatku juga pengen beli buku ini tapi kendala di toko buku yang nggak ada di kotaku.

Aku tertarik sama buku ini karena judulnya bikin penasaran, ini harapan yang dimaksud itu apa? Bakal kayak apa sih ceritanya? Soalnya aku baru 2x baca karyanya Winna.

Dan setelah baca blurbnya, waow! Nggak nyangka buku seperti ini bakal bercerita soal keluarga, kebanyakan dan biasanya (yang kubaca) novel lebih bercerita romance.

Bagiku tema seperti ini bakal asik juga nih, bisa membuat pembaca sadar betapa pentingnya keluarga, dan pasti ada banyak amanat yang terkandung. Bisa juga bikin pembaca sadar dan akhirnya memperbaiki sikap terhadap keluarga.

Kalau soal bagaimana cara penulis bercerita kayaknya nggak perlu dipertanyakan, di novel Melbourne aku suka banget cara penulis menceritakan tokohnya.

Semoga dapat buku ini biar saya bisa tambah suka sama Winna Efendi, biar bukunya saya pamerkan lalu saya pinjamkan ke sahabat saya wahahaha!


REVIEW

Hello!! Seharusnya saya sudah ngereview ini minggu lalu tapi kendala waktu jadi baru bisa hari ini.

Seperti yang saya katakan di atas, One Little Thing Called Hope menjadi kali ketiga saya baca karyanya Winna Efendi. Dan saya sangat suka! Lebih suka ini daripada membaca Refrain (Buku Winna yang pertama saya baca).

“Memikirkan aneka versi seandainya nggak akan bawa kita ke mana-mana. Yang ada kita cuma jalan di tempat, terperosok dalam kemungkinan-kemungkinan yang nggak bakal terjadi.”—hlm. 266

GENRE
Buku ini menceritakan tentang Aeryn dan Flo yang menjadi satu keluarga. Keduanya memiliki sifat dan sikap yang berbeda, terutama soal keluarga. Bagi Aeryn, keluarga yang sempurna adalah ketika dirinya, Mama dan Papa menjadi satu. Namun bagi Flo, keluarga yang sempurna adalah ketika ia, Bunda, dan seorang Ayah yang tidak pernah memukul, dan seorang Kakak perempuan yang selalu ia impikan hidup bersama.

Tema keluarga itu diangkat sangat kuat di buku ini. Berbeda dengan novel remaja lain yang lebih menitikberatkan pada cerita romance dan pergaulan sosial.

“Nyokap gue dulu selalu bilang, cokelat hangat dengan taburan kayu manis ekstra dan marshmallows yang banyak bisa bikin segala sesuatunya lebih baik.”—hlm. 119

image

5 buku terbaru Winna Efendi | Mau Somedaaaayyy. Some Kind of Wonderful sih rencana dibaca bulan Juni. Sekarang lagi pengen Someday.

STYLE
Winna Efendi emang nggak perlu dipertanyakan. Duh, ini cerita remaja namun dengan penceritaan yang dewasa, kalem, nggak meledak-ledak membuat saya sangat suka. Nggak terasa udah 66 halaman tanpa ada hal yang saya cacati wakakakak. Bahkan saya pun bingung bagaimana meresensinya. Semuanya mendekati sempurna. Teknik menulis, gaya bercerita, nggak perlu diragukan. Udah keren bangetlah.

Prolognya bikin syok dan juga menebak-nebak siapakah laki-laki yang dimaksud si perempuan hamil di luar nikah. Saya tidak menebak siapa laki-laki itu, tapi malah menebak si perempuan. Dan tebakannya saya benar dong. Terlihat dari blurb dan sinopsis dari giveaway kemarin. Wakakakaka…

“Sekarang, mungkin semuanya terasa mustahil dan sulit. Tapi seiring dengan waktu, mungkin lo akan melihat segala sesuatunya dengan lebih jelas.”—hlm. 121

FAVORITES
Saya akan selalu menyukai interaksi Theo dan Aeryn! OTP OTP OTP wkwkwk

Yang paling saya suka karena saya ingat cuit-cuit soal ini di twitter yaitu cerita di halaman 222 dan 329. Saya nggak bisa gambarin dengan detail tapi yang pasti saya deg-degan sambil senyum gajelas ketika membaca bagian ini. Seperti nunggu kejutan manis meleleh perlahan. Huum, Winna Efendi berceritanya perlahan-lahan jadi merasuk dan selalu bikin penasaran.

Ini deh quote di masing-masing halaman yang saya favoritkan.

“Theo sadar, dirinya pun sedikit demi sedikit berubah. Dunianya tak lagi berotasi di sekeliling Flo. Apa yang dirasankannya tak lagi sama.”—hlm. 222

“Tapi, sekarang lo ada di sini.
“Karena lo ada bersama gue.”—hlm. 329

UNIQUENESS
Buku ini tidak menceritakan tentang bagaimana hasil akhir dari suatu kejadian melainkan bagaimana suatu kejadian diproses untuk mencapai hasilnya.

Tema hamil di luar nikah diangkat dan diurai dengan baik. Penceritaannya pun nggak memaksakan walau menurut saya ini hal baru. Menambah wawasan dan membuka persepsi baru lagi. Bagaimana seharusnya kita bersikap ketika diri sendiri menjadi Flo yang harus memilih aborsi atau merawat anak. Atau ketika kita menjadi Aeryn yang melihat adiknya hamil di luar nikah dan sang laki-laki tidak mau tanggungjawab.

Novel ini punya sudut pandang yang berbeda dari cerita bertema mirip lainnya. Soal hamil lebih baik aborsi atau melahirkan. Soal kepergian mama yg membuat papa harus menikah lagi bukan karena anaknya yang minta tapi papanya yang mau membahagiakan anaknya, mau melengkapi anaknya yang masih butuh kasih sayang orangtua lengkap.

“Sering kali, seseorang ternyata berbeda dari apa yang lo asumsikan.”—hlm. 295

CHARACTERS
Karakter Flo yang dibangun bertingkah seperti masih anak-anak berhasil memperkuat bayangan dalam kepala saya. Juga kekontrasannya dengan Aeryn. Sosok Aeryn dalam novel ini terlihat pas sekali sebagai anak SMA. Sudah besar, cukup dewasa, dan memang berpostur tinggi.

Theo mengingatkan saya dengan Galih di film “Galih dan Ratna” yang menyukai mixtape. Dia cowok yang pacarable banget😳. Karakternya pasti disukai banyak pembaca novel. Cowok yang punya IQ tinggi tapi tidak suka belajar sangat keras, jenis cowok yang suka kebebasan.

Berbeda dengan Theo, porsi Genta di cerita ini sedikit banget padahal dia karakter yang nggak boleh diabaikan. Semua pembaca tahu dia menyebalkan sekali, ambisius, perfeksionis dan egois melekat kuat di karakternya. Pengen saya tampol tapi saya sadar diri jangan-jangan saya juga sama kayak Genta. Ini nih, pokoknya novel ini relate sekali dengan kehidupan saya. Bukan dari plotnya sih, tapi dari karakternya membuat saya bisa belajar banyak hal untuk menyikapi perbedaan karakter dalam hidup.

Kalau diingat-ingat, Winna Efendi sering nulis cerita yang ada hubungannya dengan musik, ya? Di Refrain, Melbourne, dan novel ini. Tapi di sini takarannya nggak banyak. Cuma sebagai pelengkap yang benar-benar bisa melengkapi kekuatan karakter.

“Asal lo tahu, tempat ini akan selalu jadi milik lo kalau lo menginginkannya.”—hlm. 68

SHORTAGE
Bagian penyakit penyakit itu agak kurang mudeng. Soalnya pake istilah medis dan tanpa footnote. Padahal saya malas nginget-inget materi biologi (dan belum tentu ada di materi saya)

image

Dok. Pribadi

OVERALL
Ternyata oh ternyata bookmark ini gambar sepatu rajut bayi. Saya nggak ngeh. Imut sekali!😍

Saya sangat suka novel ini! Semua ekspektasi saya yang saya curahkan di giveaway kemarin sama seperti kenyataannya! Sampai nggak bisa ngomong banyak saking sukanya.

Feelnya dapat! Sedih karena perpisahan orangtua, marah karena tidak ada pertanggungjawaban, keki dengan karakter Flo yang terlalu naif dan baik hati, senang karena ada cinta baru yang bersemi.

Mungkin ini novel bakal saya baca ulang. Tapi kurang tahu kapan. Kekaleman dan kelancaran penceritaannya membuat saya nggak sadar sudah selesai membaca. Masih kurang!! Padahal ini cukup tebal hohoho.

Karena saya kurang ekspresif, saya kasih banyak kutipan dari novel ini aja ya! Selamat membaca dan jangan lupa hestek #TeamTheo hahaha

Btw, ada cerita cinta Aeryn dan Theo ada lanjutannya nggak ya? Yang lebih ke cerita romance dan teenlit gitu. Sssttt, saya penasaran dengan Someday karya terbarunya Winna Efendi.

“Selama perasaan itu ada, ia hanya perlu bergerak maju dan mencari tahu ke mana rasa itu membawanya.”—hlm. 223

Iklan

15 thoughts on “[Book Review] One Little Thing Called Hope by Winna Efendi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s