[Sabtu Nongkrong] Cara Keren Curhat di Sosial Media

Kenapa saya suka bermonolog di sosial media alias ngomongin apa yang terjadi pada saya tapi jarang membaur dengan teman-teman maya?

Pertanyaan panjang yang jawabannya juga panjang.

Saya punya cukup banyak orang yang saya kenal di “dunia lain” a.k.a sosial media. Tapi nggak semuanya saya ajak ngobrol. Bahkan yang sudah dekat pun frekuensinya masih dikit.

image

Source background : greencrest.com | Edited by me

Alasannya karena pertama, saya takut interaksi tiba-tiba dapat mengganggu kalian. Kedua, saya takut kalau saya nimbrung ternyata malah gaje atau kurang dipahami atau malah bikin “krik-krik”. Ketiga, saya bukan pembicara yang baik dan nggak punya segudang cara buat bikin obrolan asik. Keempat, saya merasa kalau itu SKSD, sekalipun saya berusaha kenal dengan teman dunia maya. Kelima, saya kenal banyaaak orang sukses dan tiap kali mereka menciptakan suatu kreasi, saya sulit untuk mengatakan suatu kebohongan publik seperti, “Waaah! Saya menunggu sekali!” Karena saya tidak akrab dengan dia, saya belum pernah mencoba kreasi sebelumnya, dan saya kurang (sangat tidak) yakin benar-benar akan mencicipi kreasinya. Oleh sebabnya saya tidak bisa berbohong. Keenam, saya sebenanrnya pendiam (Sumpah! Tapi sosial media bikin saya banyak curcol, mungkin karena dahulu kala saya mikir, “Curcol di sosmed aja, yang kenal secara asli kan dikit.”)

Pertanyaannya, bagaimana saya bisa menjalin suatu hubungan baik dengan orang lain sedangkan ketakutan saya untuk memulai terlalu banyak dan banyak orang yang belum tentu memahami apa yang akan-sedang saya lakukan?

Baca juga : Cara Terbaik Menyelesaikan Masalah (Bukan) Dengan Mencari Pelampiasan

Satu lagi ketakutan saya, saya takut dianggap negatif sama orang yang bahkan nggak saya kenal akrab. Itu membuat saya seperti melakukan kesalahan besar pada orang yang belum pernah ditemui. Apalagi ini sosial media, belum tentu ketemu secara nyata.

Untuk kalian semua, seberapa sering kalian menghujat orang lain di sosial media? Menyindir, mengolok-olok, memberi kode buruk, menggunjing, dsb? Saya sering. Tapi saya lebih menggunakan olokan itu untuk diri saya.

Misalkan saya tidak suka dengan sikap orang lain, maka saya akan membuat perumpamaan. “Jika saya ada di posisinya, seharusnya saya (blablabla).” atau membuat kutipan-kutipan sok bijak sebagai bentuk membuat pikiran postif bagi diri saya sendiri. Contohnya ketika SBY curhat di twitter, saya pun ikut membahasnya di twitter namun dengan cara yang saya rasa halus. ūüėāūüėŹ

image

Pasti pada nggak sadar kalo itu untuk mantan presiden kita, nyatanya saya memang membicarakan reaksi netizen di sosial media terhadap sikap SBY.

image

Salah satu cara membicarakan orang lain di sosial media tanpa menimbulkan konflik yang terlalu besar adalah dengan membuat kalimat ambigu atau tidak mudah dipahami. Saya biasanya pakai analogi atau puisi atau bahkan cerita pendek untuk mengungkapkan kekesalan saya terhadap diri sendiri atau orang lain. Tapi ingat, etika jurnalistik dan moral manusia seharusnya nggak kebanyakan nyindir. Dosa lho! Mending ngomongin diri sendiri aja. Ngetawain kebodohan diri sendiri.

image

Ini salah satu sindiran saya terhadap diri saya sendiri. Saya merasa seperti dapat kode dari orang lain tapi saya masih kurang paham jadi saya mengolok-olok diri sendiri yang pernah jadi pramuka tapi malah murtad. #LOL

image

Nah ini saya tweet setelah melihat seseorang membuat blog namun isinya copy paste. Karena itu saya membagikan pikiran saya soal betapa tidak bermanfaatnya membuat blog kalau kontennya copy-paste. Bagi saya sosial media emang lebih sering buat tempat curhat, tapi sebisa mungkin saya memberikan hikmah dari kejadian yang menimpa saya. Jadi isi apa yang saya bicarakan bisa berfaedah dan general (sekalipun hidup saya random)

Gimana reaksi kalian kalau menemukan orang yang kalian kenal ternyata malah menyindir kalian hingga membuat kalian sakit hati? Tentu saja sakit (elaaah!).

image

Source : blogs.thenews.com.pk

Mari kita renungkan, guys, setiap tindakan, pasti ada latar belakangnya. Bisa karena emosi, lingkungan dan juga karakter. Kita sebagai manusia normal (kalian normal juga kan?) harus tau kalau toleransi itu bisa menetralkan kehidupan. Konflik yang sudah hampir meletus kayak bisul bisa dikempesin dengan baik kalau ada toleransi. Jiwa orang yang kelewat kalem bisa ditoleransi oleh orang lain yang berjiwa urakan.

Sekali lagi, selalu ada alasan untuk setiap perbuatan, jadi kalau mau menghujat orang, pikirkan diri kalian kalau ada di posisi itu.

Baca juga : [Monolog] Something Wrong with Me

Lalu, kalau kalian menemukan orang seperti saya dan saya‚ÄĒyang suka gak jelas, SKSD, labil dan negatif di mata kalian, saya mohon jangan cepat-cepat memberi saya label buruk. Saya punya banyak alasan kenapa melakukan itu. Namun jika saya memang sudah keterlaluan, ingatkan saya. Ingatkan saya akan prinsip hidup di sosial media yang saya anut.

“Tulis apa pun yang saya mau tapi dengan etika jurnalistik. Mulai dari tidak copy paste tanpa menyertakan sumber hingga berusaha menkritiki orang dengan halus. Tentunya tidak menimbulkan SARA dan meminimalkan kemungkinan terjadinya konflik.”

Saya gaje karena saya takut menyakiti orang lain. Saya lebih suka membicarakan orang dengan cara yang saya anggap lucu. Membuat perbandingan dengan saya, misalnya. Sehingga fokus akan ada di saya yang terlihat bodoh, bukan di orang yang sebenarnya sedang saya gunjing.

Kesimpulannya, dua pertanyaan di atas sudah saya jawab. Selalu ada alasan untuk setiap tindakan orang lain, jika kita tidak sepaham, berilah toleransi. Namun jika sudah kelewatan tidak benar, tegur dengan cara baik.

Curhat di sosial media pake teknik jurnalistik bisa bikin kamu punya kemampuan jadi jurnalis. Kamu juga bikin followers mendapat ilmu dan juga sedikit yang sadar kalau itu ternyata curahan hati pribadi.

Nah, gimana, mau mulai sekali dayung dua tiga pulau terlampaui? Yuk, buat kehidupan sosial media lebih asik dengan konten yang dikemas apik!

Hidup jurnalistik!

Iklan

3 thoughts on “[Sabtu Nongkrong] Cara Keren Curhat di Sosial Media

  1. Setuju banget tu, meskipun curhat harus juga punya etikanya. Jangan asal tulis, main ambil punya orang, ngutip sana sini tanpa ada referensi. Aturan dalam kepenulisan juga harus dipahami, ya kan mbak!

    Disukai oleh 1 orang

  2. dulu saya sering ngerasa kesindir kalo ada yang nulis di medsos nyakitin hati
    walaupun g secara langsung
    sekarang sih dah woles aja kalo nggak keterlaluan banget
    bawaannya jadi pusing kalo mikirin curhatan orang ehehe

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s