[Pos Cinta Tribu7e] Surat-Surat yang Terlambat Dikirim

image

Sore, Red Girl,

Ah, rasanya aneh menulis surat seperti ini. Seakan aku bukan laki-laki normal. Benarkah? Tentu saja tidak.

Ayahku pernah bercerita soal cinta. Beliau menyukai seorang wanita ketika teknologi masih sebatas mesin ketik yang tidak bisa meng-undo typografi. Ayahku menulis banyak sajak indah untuk seorang wanita dengan mesin itu.

Ketika pertama kali bertemu dengan wanita itu, Ayahku baru saja selesai salat dzuhur di masjid. Sedangkan wanita itu baru sampai di masjid untuk salat.

Bukan kecantikan yang membuat laki-laki jatuh cinta. Melainkan sikap dan sifat yang bermartabat. Begitu kata Ayahku.

Setelah itu Ayahku sadar sering melakukan zina pikiran dan zina hati. Memikirkan wanita itu, berharap dapat mengenal lebih jauh, dan harapan-harapan tinggi milik orang yang jatuh cinta.

Kesadaran itu membuat Ayahku menulis surat. Setidaknya satu sajak ia ketik atau tulis pada selembar kertas buram. Ia tidak ingin hidupnya penuh mimpi tanpa ada usaha. Kata teman-teman kita saat ini, “Biar berfaedah.” Hahaha…

Setiap surat yang Ayahku buat selalu ada titimangsa yang menandai selesainya surat itu ditulis. Namun Ayahku tidak menyampaikannya tepat setelah surat selesai ditulis. Saat itu Ayahku bukanlah tukang pos baik untuk dirinya sendiri.

Satu tahun berlalu sejak Ayahku mulai menulis surat, surat-surat itu pun ia berikan pada wanita yang ia cintai.

Tapi Ayahku terlambat. Waktu tidak berpihak padanya. Kelulusan dan perbedaan rantauan membuat mereka berpisah sekalipun surat itu diterima di hari pertama mereka berdua, sekaligus hari terakhir mereka bersama.

Red Girl, apa menurutmu ini tragis? Karena bagiku iya. Tapi, tunggu cerita selanjutnya.

Surat-surat Ayahku dibalas di hari yang sama ketika ayahku menulisnya. Biasanya selisih setahun dari waktu ditulis. Begitu seterusnya hingga semua surat terbalas dengan manis. Semanis harapan Ayahku ketika menulisnya.

Wanita tersebut mencintai Ayahku lewat setiap kata yang tertulis di surat.

Sayangnya Ayahku hancur karena sebuah foto yang diselipkan di surat balasan terakhir.

Foto itu menggambarkan sang wanita berbaju biru langit. Keanehan ada pada kepalanya, Red Girl‚ÄĒada selang di hidung, wajah pucat, dan kepala wanita itu tanpa rambut.

Surat balasan itu mejawab ajakan Ayahku bertaaruf. Wanita itu menjawab “Ya” dan rentetan kesediaannya.

Namun wanita itu tiba-tiba mengubah kata “Ya” menjadi “Maaf” di akhir surat.

Wanita itu akan operasi untuk kesekian kali ketika surat itu ditulis. Wanita itu tidak yakin kali ini dia akan selamat. Dia pun memohon pada Ayahku untuk memikirkan lagi. Apalagi ia berkata di suratnya kalau surat itu dikirim bersama sebuah foto, lebih baik Ayahku mengakhiri perasaannya.

Karena itu tandanya sang wanita telah tiada.

Red Girl, aku tidak tau kenapa aku menceritakan hal ini padamu. Padahal aku sangat yakin aku tidak akan mengirim surat ini padamu.

Aku hanya ingin menceritakan cerita lama yang membuatku yakin untuk mengusahakan dirimu menjadi bagian hidupku.

Aku tidak ingin kehilangan kesempatan seperti ayahku, Red Girl. Aku tidak ingin membuang waktu lebih lama.

Jadi, ketika surat ini selesai ditulis, aku hanya akan menyimpannya di laci meja. Namun yang perlu kamu tau, Red Girl, ketika surat ini berada di laci meja, selang beberapa saat aku berjanji akan mendekatimu dan mengusahakanmu menjadi bagian hidupku.

Aku sadar ini terlalu tiba-tiba. Pertanyaannya, maukah kamu menjadi bagian hidupku?

Blue Boy


Catatan penulis:
Wahahahaha!!! Nggak tau kenapa ceritanya jadi gini. Rencananya bukan ini. Rencananya saya mau cerita bagaimana Blue Boy mengenal Red Girl hingga ia jatuh cinta. Tapi saya lelah mau mikir lagi. Mana udah setengah 6 lagiūüėďūüė≥ #Deadline-ers

Semoga menghibur dan berfaedah wkwkwk…ūüėĚūüėč

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s