[Book Review] Dark Memory by Jack Lance

Monster itu merentangkan sayapnya. Mengangkat tubuhnya dan terbang. Ia menjadi mangsa makhluk itu; ia diambil oleh kekuatan gelap. Semakin tinggi, semakin tinggi lagi ia berada di langit gelap. Ia mengira monster itu akan membawanya keluar dunia dan masuk ke dalam tempat persembunyiannya, ke dalam sarangnya, di mana tulang-tulangnya akan membusuk di antara sisa-sisa mangsa lainnya.

Rachel Saunders menghadiri pemakaman Jenny Dougal, sahabat baiknya yang meninggal karena kecelakaan tragis. Namun tak lama setelah pemakaman, ia sendiri menghilang secara misterius. Hal ini membuat khawatir Jonathan Lauder, kekasih Rachel, yang langsung terbang ke skotlandia untuk mencari kekasihnya.

Tiga hari kemudian, Rachel muncul kembali secara misterius. Tetapi, ia mengalami amnesia jangka pendek dan tidak bisa mengingat apa pun selama tiga hari sebelumnya, hingga minggu-minggu terakhir sebelum dirinya menghilang.

Namun satu hal yang ia yakini, Jenny belum meninggal. Sahabatnya itu masih hidup. Ia ada di suatu tempat, dan Rachel merasa harus segera menemukan dan menolongnya, sebelum terlambat!

Jonathan dan Rachel berusaha mencari tahu dan merekonstruksi hari-hari saat Rachel menghilang, demi mencari kebenaran mengenai Jenny, dan mencari penyebab Rachel kehilangan ingatannya.

Namun apa yang Rachel temukan adalah teror yang menakutkan. Satu-satunya jalan untuk bertaha bhidup, dan mungkin untuk menyelamatkan Jenny adalah dengan menyingkap tabir gelap masa lalunya….


image

Dok. pribadi


Paperback, 340 pages
Published December 5th 2016 by Bhuana Ilmu Populer
(first published September 2004)
ISBN13: 9786023943685
Edition Language: Indonesian
Rating: ⭐⭐⭐


REVIEW

Sebelumnya, mau ngomentarin bahan cover. Saya suka model cover seperti ini. Kalau dielus tuh adeem gitu hahah. Kayak covernya Satu Mata Panah pada Kompas yang Buta by Suarcani.

-STYLE-
Seingat saya sih ini buku dari Belanda pertama yang saya baca. Ada sedikit rasa penasaran gimana aslinya buku ini ditulis dalam bahasa Belanda. Karena bagiku terjemahan buku ini bagus. Hanya saja mungkin karena Jack Lance memang bercerita dengan tempo cepat sehingga membuat cukup banyak informasi yang sulit untuk diresapi.

Kalau kalian baca buku pasti pernah dong merasakan penulis sedang bercerita dengan cepat? Nah itu yang saya rasakan ketika membaca novel ini.

Plotnya cepat tapi sekaligus juga diulur. Nggak cap-cus gitulah. :3

Selain ini buku asal Belanda yang pertama saya baca, ini juga buku horor pertama yang kubaca setelah nggak tau apa long time ago aku pernah membaca buku horor. Sebuah kemajuan.

Kukira ini pure thriller. Pembunuhan-pembunuhan tanpa melibatkan makhluk gaib atau makhluk di luar pikiran rasional orang skeptis seperti saya.

Untung saja horor di sini nggak sehoror film The Conjuring atau Mirror atau film-film horor Indonesia. Ini lebih baik untuk kesehatan jantung saya.

“Di sana ada sesuatu yang bukan berasal dari sini.”—hlm. 191

Ada tema lain selain horor dan thriller, tema psikologis. Tema ini selalu disematkan penulis dalam menceritakan Jon dan Rachel yang sedang menguak masa lalu. Rasanya saya seperti kembali membaca Alter Ego karya Rani Puspita. Sedikit hal soal psikologi ini mirip. Tentang bipolar atau orang kelainan jiwa yang berlaku keji. Bedanya di Dark Memory itu ada unsur makhluk gaib, kalau Alter Ego nggak ada.

“Jangan menyalahkan dirimu. Tidak ada gunanya dan tidak adil.”—hlm. 326

-SETTING-
Aku bisa membayangkan setting Inggris dengan cukup baik. Sekitar dua tahunan yang lalu aku membaca banyak sekali cerita kerajaan-kerajaan di Inggris Raya. Dan ya, rasanya masih sama. Ada kesan jaman dulu dan suatu tempat yang sangat Eropa (Beda banget rasanya ketika membaca cerita bersetting Amerika).

Untuk karakter, aku menjagokan Jonathan dan Stephen. Jon itu pacarnya Rachel yang sayangnya hubungan mereka nggak pernah lebih serius selain buat alat pemuas sex. (Ugh, saya nggak nyangka bakal ada adegan dewasa, mana saya masih di bawah umur. Sebaiknya sih ada tanda semisal “Novel Dewasa” gitu di covernya.)

Jonathan itu sangat mencintai Rachel. Sedangkan Rachel memiliki masa lalu yang membuatnya tertahan untuk menjadi pendamping hidup Jon. Di situ salah satu kunci ceritanya.

“Bagaimana mereka bisa berhubungan serius kalau dia merahasiakan sesuatu darinya?”—hlm. 77

Sedangkan Stephen, dia adalah laki-laki tua yang hampir menabrak Rachel di tepi hutan. Pada saat itu Rachel sedang melarikan diri dari demon yang menyekapnya di hutan. Untungnya Stephen orang baik, dia membawa Rachel pulang lalu merawatnya bersama sang istri, Ellen. Bahkan di akhir buku, Stephen pun ikut membantu Jon mengungkap misteri. Dia kakek yang pemberani, untung saja penulis nggak berbuat jahat padanya. Huehehe.😄

Untuk Rachel sendiri, saya greget bukan main. Rahasia di masa lalunya yang diungkap sedikit demi sedikit oleh penulis membuat saya shock. Ternyata dia itu… argh! Saya nggak nyangka dia punya hubungan seperti itu. Masa lalunya bikin saya merinding. Hanya saja, bagian Rachel dan Jenny yang menyangkut “hubungan itu” tidak dijelaskan secara rinci. Kenapa bisa keduanya jadi seperti itu? Apa sebenarnya hanya ada satu yang terjerumus dan yang satu hanya bersimpati?

Dalam novel ini, tokoh-tokohnya tidak digambarkan detail dari segi fisik, tapi lebih ke psikis lewat pemikiran dan emosi yang tercipta.

“Cinta yang hebat butuh pengorbanan besar.”—hlm. 315

image

Source: jacklance.com

-EVENTS-
Unpredictable! But really fun! Saya suka cerita seperti ini. Sedikit demi sedikit kita dibuat penasaran dengan apa yang terjadi. Dalam mengungkap fakta, beberapa tokoh baru terus bermunculan, terseret untuk menjadi saksi kejadian di masa lalu. Seperti tagline-nya, ‘Menyingkap tabir gelap masa lalu’.

Tertuduh pun seperti dirolling. Tebakan pembaca dibuat berputar untuk menuduh tokoh satu ke tokoh lain. Sama halnya yang dilakukan Agatha Christie dalam novel Buku Catatan Josephine dan Misteri Patung Garam-nya Ruwi Meita.

“Apa kata orang tentang orang gila? Mereka yakin bahwa semua orang adalah orang gila—kecuali dirinya sendiri.”—hlm. 144

-PLOT-
Novel ini lebih banyak narasinya. Dari narasi itu kita seperti berada pada arus yang cepat, menyeret kita pada setiap detail kegiatan tokoh, pada setiap pemikiran-pemikiran tokoh. Penulis ini benar-benar pandai soal narasi yang nggak bikin pembaca jenuh melainkan malah nggak mau berhenti karena saking tegangnya. Misterinya dapat banget!

Sekalipun penulis menggunakan POV 3, rasanya seperti menggunakan POV 1. Penulis yang serba tahu itu mencoba menjelaskan kegiatan dari sudut pandang Rachel, lalu berganti ke sudut pandang Jon. Hal-hal yang dipikirkan tokoh jadi lebih banyak yang dijelaskan.

“Namun keberadaan diri Rachel tidak menentu. Apa kemarin dia ada?”—hlm. 85

Ngomongin soal kelogisan, menurut saya penulis sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menggambarkan monster dan orang jahat dalam satu waktu.

Di covernya sudah ketahuan kan kalau ada gambar serigala? Dia itulah monsternya.

Monster itu yang membuat Rachel amnesia parsial. Melupakan kejadian di beberapa minggu terakhir. Padahal itu kejadian-kejadian penting mengenai kematian sahabatnya, Jenny, dan alasan dia jadi ada di Whitemont, bukan di London.

image

Monster serigala bersayap dalam suatu mitologi | Source: mysteryfact.wordpress.com

Em, duh, mungkin ini karena saya terlalu skeptis, saya masih kurang dengan gambaran penulis soal monster itu. Etapi, tunggu, kalau kalian udah baca sampai ending, diceritain kok kenapa bentuk monsternya seperti itu, punya sayap, berwajah serigala, karena itu semua… masuk ke dalam tema psikologis! Exactly! Jangan lupakan itu. Emang dominan di horor dan misteri, tapi tema psikologisnya berjalan bareng sama keduanya. Dan kalau nggak dicari-cari, tema psikologis itu nggak terlihat.

“Ini bukan kelelawar, Jon… ini sesuatu yang jahat. Ini nyata dan aku pernah melihatnya. Ada bersamaku.”—hlm. 141

Kalian suka twist? Di novel ini ada. Tapi nggak terlalu bikin saya terjungkal. Penyelesaian masalah yang diulur membuat twistnya tidak terasa besar. Apalagi narasi-narasi yang membuat alur cerita halus.

Twist cuma di bagian akhir. Di mana dalang dari semua masalah terkuak yang membuat saya sebal karena nggak pernah kepikiran sekali pun. Seperti yang saya katakan di atas, dimunculkan tokoh-tokoh baru dan memaksa mereka untuk kita tuduh. Jadi, saya nggak bisa nebak siapa pelaku sebenarnya. prok prok prok!👏

-FAVORITE-
Saya memfavoritkan emosi cerita yang nggak bisa bikin saya berhenti tegang. Bahkan kalau diingat-ingat, ada bagian novel yang masuk dalam mimpi saya karena saking nggak biasanya saya baca cerita horor.

Feel cerita ini dari awal sampai akhir emang parah. Deg-degan dan takuut mulu.

Oh, saya juga suka prolognya! Dalam prolog itu diceritakan langsung permasalahan yang dialami tokoh. Bagian Rachel yang tiba-tiba terbangun di dalam hutan dengan keadaan luka-luka dan tidak tahu siapa dirinya.

Prolog ini mengingatkan saya akan prolog novel Nyawa karya Vinca Callista. Memang nggak segila novel Nyawa, tapi rasa tegang yang diceritakan berhasil membuat kita harus melanjutkan cerita.

-SHORTAGE-
Ada beberapa bagian vulgar yang membuat saya memutar mata. Masih di bawah umur buat baca gituan. Huhuhu.

Saya merasa deg-degan tiap kali saya membaca investigasi-investigasi yang menghasilkan clue. Monster dan Dark Memory. Sebenarnya apa yang terjadi di kehidupan Rachel jaman dulu? Kenapa banyak banget pengungkitnya? Lalu apa hubungan Paula yang hilang selama belasan tahun dan sampai buku ini selesai tetap menjadi misteri? Apa kasus Paula hanya sebagai alat untuk mengungkap misteri namun dengan bukti yang kurang jelas? Kurasa di sinilah kekurangannya. Paula memang menjadi kunci, tapi dia juga misteri.

“Ada banyak hal yang harus kukerjakan. Kata Rachel waktu itu. Kalau tidak aku tidak akan pernah bisa tenang.”—hlm. 80

Selain masalah Paula, email yang dikirim Jenny kepada Rachel maknanya juga masih samar. Sekalipun penjelasan di akhir buku sudah cukup banyak. Masalah terlalu… rumit. Sampai-sampai aku merasa kehilangan fakta yang telah dikuak. Teka-tekinya terus bermunculan. Memang bagus dalam membuat cerita misteri, tapi seharusnya bombardir itu frekuensinya tidak sangat tinggi. Ada jeda untuk pembaca memahami atas apa yang telah terjadi.

“Apakah semua ini tidak akan pernah selesai? Akankah musibah akan terus menghantamnya dalam bentuk ombak penderitaan yang tiada pernah berakhir?”—hlm. 337

image

-ENDING & OVERALL-
Beberapa kata sering di italic padahal udah diterjemahin, mungkin sebagai bentuk penekanan emosi. Malah kurasa akibatnya lebih dari itu. Saya jadi berpikir apakah ini clue? Hehe.

Cerita ini punya plot layaknya pohon rimbun yang bercabang. Teka-teki satu belum selesai, ada masalah lain yang muncul. Dan semua itu hanya berasal dari satu akar. Alias rumit.

Buat ending, bab-bab akhir dimana klimaksnya mulai diceritakan rasanya saya benar-benar nggak mau berhenti baca. Bahkan tinggal beberapa halaman saja penulis masih berusaha membuat ketegangan dalam cerita ini.

Tapi untung saja, diakhiri dengan harapan yang akan menciptakan bright memory hehe…

“Kau bisa kembali bersembunyi, menutup pintu di dalam pikiranmu itu, dan membuang kuncinya. Tapi kalau kaulakukan itu, demin itu suatu saat mungkin akan menemukan kunci itu dan mengunjungimu.
“Apa pilihan lainnya?
“Kau bisa menikah denganku dan kita bisa hidup bahagia selamanya.”—hlm. 325

-RECOMMENDATION-
Buat kalian yang sudah dewasa dalam artian bukan hanya umur tapi psikologis menjurus ke arah “sana”, buat kalian yang suka cerita misteri, psikologis, detektif, horor/supernatural, hingga thriller yang sedikit berdarah, kalian cocok baca buku ini!

Ditambah setting Inggris-nya, bisalah nambah pengetahuan kalian soal daerah-daerah di sana. Jadi, yuk baca bukunya! Siapa tahu bakal ada filmnya!

Iklan

4 thoughts on “[Book Review] Dark Memory by Jack Lance

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s