[Sabtu Nongkrong] Cara Terbaik Menyelesaikan Masalah (Bukan) Dengan Mencari Pelampiasan

Sebenarnya tulisan ini sudah ditulis sejak Rabu, 30 November 2016 sambil nyelesain resensi Sylvia’s Letters. Tapi baru saya publikasikan Sabtu ini biar sama kayak judul kategori dong. Sabtu Nongkrong.

[^Rencana awal mau dipublikasikan awal Desember, tapi baru dipublikasikan saat ini. Mana bukan hari Sabtu lagi. Biarlah. Judulnya tetap Sabtu Nongkrong.]

image

Source: LG Wallpaper


Jadi, ceritanya Rabu, 30 November 2016 itu saya “membiru”. Rasanya campur aduk tapi bukan bahagia melainkan sedih. Berada di titik rendah gitu deh. Mungkin karena UAS yang berkali-kali lipat bikin stres. Tapi ada hal lain. Sindrom perjalanan dan latar belakang dari perjalanan itu sendiri.

Sindrom perjalanan? Mungkin banyak yang nggak tahu penyakit itu, saya juga belum tahu apakah sindrom itu sebenarnya ada.😄 Yang pasti, setiap kali saya hendak melakukan perjalanan ke luar kota, tubuh saya pasti tegang sehingga ada kontarksi di bagian perut yang membuat napas pendek-pendek. Mirip seperti grogi. Ini semua muncul karena masa lalu saya ketika berhadapan pada perjalanan jauh. What’s that? I can’t explain it. Cukup ketahui saja.

Selain karena sindrom perjalanan, hari saya “membiru” karena tes matematika dan seni budaya saya bakalan jeblok. Saya nggak pintar di hitung-menghitung. Menyebalkannya lagi, seni budaya harus ngitungin akor balik yang sama sekali nggak saya pahami. Ya iyalah! Kalau seni musik tuh gampang praktiknya daripada teorinya. Asdfghijklmnopqrstu😡

Tekanan lain datang dari alasan saya harus melakukan perjalanan. Masalah ada di sana yang membuat saya tertekan. Hingga akhirnya saya mengajak ibu saya jalan-jalan. Bukan pakai kendaraan bermotor. Ini benar-benar jalan pakai kaki.

Tepat sekali ibu saya hendak menjenguk saudara. Akhirnya kami pergi jam lima sore dan pulang isya’. Setelah itu kami jalan-jalan nyari sate (Lah mulai nggak fokus nih konten).

Dalam perjalanan saya menyadari sesuatu. Orang stres butuh refreshing, dan jalan-jalan adalah salah satunya. Tapi menurut saya, orang bahagia atau stresnya berkurang bukan karena “jalan-jalan” itu sendiri.

Orang bahagia atau menjadi lebih segar setelah jalan-jalan karena orang itu menghirup udara yang tidak biasa ia hirup. Maksudnya, hawa dan udaranya berbeda dari biasanya sehingga komponen udaranya juga berbeda, oksigen yang diserap lebih banyak “gizinya”.

Juga karena jalan-jalan membuang energi, kita menjadi lebih cepat lelah dan kemudian tidur lebih cepat pula. Oksigen dalam tubuh yang telah diperbaharui akan memperlancar metabolisme tubuh ketika kita tidur. Apalagi kalau jalan-jalan sampai kelelahan terus makan terus tidur. Beuuh. Rasa bahagia berlipat-lipat, kan?

Belum pernah nyobain? Dijamin ketagihan karena jalan-jalan juga membuat mata lebih sehat. Mandangin sesuatu dengan sudut pandang yang lebih luas, menghirup udara yang segar, dan kemudian tidur pun akan lebih baik.

image

Isi folder "Fangirl" di galeri hape saya


Kalau bagi saya mengurangi stres dengan cara jalan-jalan, nonton film, baca novel, nyanyi, diam, fangirling, nangis, bahkan sampai nonjokin orang.😱 (Jangan bayangin yang terlalu buruk).

Hal-hal yang saya lakukan ini tentu saja dilakukan oleh kebanyakan cewek di dunia. Ditambah mereka akan berfoya-foya untuk kepuasan sesaat. Alhamdulillah saya bukan tipe seperti itu.

Berbeda pula dengan remaja cowok atau beberapa orang dewasa di kota besar.

Remaja cowok akan melarikan dirinya pada game, cewek, olahraga, hingga perkelahian. Menurutku itu manusiawi, sama seperti yang ini:

Orang dewasa di kota besar akan melarikan diri pada minuman keras, nikotin, hotel, dan cewek atau cowok.

Manusiawi.

Tapi bukan berarti boleh dilakukan semua orang.

Karena sebenarnya itu nggak baik.

Melarikan diri adalah jalan terburuk dalam hidup. Ketika kita menghindari masalah, yang ada kita hanya akan terbayangi oleh masalah itu dan bukannya selesai berurusan dengan masalah.

Tapi bukan berarti kita sama sekali nggak boleh melarikan diri. Setelah kupikir dan kuyakini, melarikan diri juga penting lho. Manusia itu ibarat hewan yang berakal. Hewan kalau dapat ancaman pasti akan mencari perlindungan dengan berlari menghindari asal ancaman. Nah, manusia kan ibarat hewan yang berakal, tentu saja manusia lebih pintar melarikan diri dari ancaman.

Oleh sebab itu, larilah kalau emang nggak tahan. Tapi itu hanya untuk sementara waktu. Hanya untuk kamu mempersiapkan diri melawan ancaman.

Namanya musuh kalo nggak ditumpas bakal terus ngejar kan? Begitulah hidup.


image
Sebenarnya tulisan ini belum sempurna kutulis. Tapi aku lagi bosan dan menghindari twitter—tempat curhat—maka aku pun akhirnya mempublikasikan. Suatu saat bakal kusempurnain lagi.

Nah kalau kalian, gimana cara ngatasi masalah dalam hidup? Apa kalian ngambil waktu buat berpikir atau istirahat atau ngumpulin energi atau malah melarikan diri selamanya? Share yuk cara kamu mengatasi masalah biar nggak stres sendiri!

Btw, saya lagi stres sekarang. Karena itu menghapus aplikasi twitter. 😭😭. Akhir-akhir ini Temanggung sering hujan lagi, jadi nggak leluasa mau keluar rumah. Mood baca novel menurun drastis. Mau nulis juga males.😭

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s