[Book Review] An Ember in the Ashes by Sabaa Tahir

Laia seorang budak. Elias seorang prajurit. Keduanya bukan orang merdeka.

Saat kakak laki-laki Laia ditahan dengan tuduhan pemberontakan, Laia harus mengambil keputusan. Dia rela menjadi mata-mata Komandan Blackcliff, kepala sekolah militer terbaik di Imperium, demi mendapatkan bantuan untuk membebaskan kakaknya. Di sana, dia bertemu dengan seorang prajurit elit bernama Elias.

Elias membenci militer dan ibunya, Sang Komandan yang brutal. Pemuda ini berencana untuk melarikan diri dari Blackcliff, menanggung risiko dicambuk sampai mati jika ketahuan. Dia hanya ingin bebas.

Elias dan Laia. Keduanya akan segera menyadari bahwa nasib mereka akan saling silang, dan keputusan-keputusan mereka akan menentukan nasib Imperium, dan bangsa mereka.


image

Cover Novel beserta replika topeng Prajurit Mask | Dok: Pribadi


Paperback, 520 pages
Published December 1st 2016 by Penerbit Spring
(first published April 28th 2015)
Original Title: An Ember in the Ashes
ISBN13: 9786027432284
Edition Language: Indonesian
Series: An Ember in the Ashes #1
Characters: Laia , Elias
Rating: ⭐⭐⭐⭐⭐


Laia
Aku tinggal punya satu saudara, dan aku tak ingin dia mengabaikanku seolah dia memiliki orang lain atau dia menjadi pengkhianat bangsanya sendiri. Menjadi pihak Imperium.

“Berjuang untuk kebebasan, melindungi yang tak bersalah, mengutamakan kesetiaan terhadap rakyat mereka di atas segalanya. Apakah kelompok Resistance masih mengingat prinsip tersebut? Bisakah mereka membantu Laia?”

Elias
Aku bertanya-tanya apa yang akan dia katakan jika tahu apa yang sebenarnya kulakukan di dalam terowongan. Aku bertanya-tanya bagaimana perasaannya jika tahu tentang kebencianku terhadap Imperium. Aku bertanya-tanta apa yang akan dia lakukan jika tahu sahabatnya berencana melarikan diri.

“Hidup tidak selalu seperti apa yang kita pikirkan. Kau adalah bara di tengah abu, Alias Veturius. Kau akan menyala dan membakar, merusak dan menghancurkan. Kau tak bisa mengubahnya. Kau tak bisa menghentikannya.”—hlm. 80

“Kau akan lolos. Kau akan meninggalkan Imperium. Kau akan hidup. Tapi, kau takkan menemukan kedamaian ketika melakukannya.”—hlm. 90

“Tapi, kalau kau tetap di sini, kalau kau melakukan tugasmu, kau punya kesempatan untuk memutus ikatan di antara kau dan Imperium, untuk selamanya.”—hlm. 80


REVIEW

Awalnya aku bingung dengan sistem pemerintahan di buku ini, ini semua karena aku tidak tahu banyak soal pemerintahan Imperium.

Di buku ini akan banyak membahas soal; Imperium, bangsa Martial, bangsa Scholar, Blackliff. Lalu di halaman 200-an akan muncul bau-bau politik yang lebih rumit lagi, seperti Blood Shrike dan Taius. Untung saja sedikit demi sedikit sejarah mereka diungkap dan kita akan sadar apa fungsi kisah mereka dalam hidup Elias dan Laia.

“Tugas adalah yang utama, sampai mati.”

PLOT
Deskripsinya detail—terutama di bagian awal yang menjelaskan tentang fisik—jadi kita harus membaca dengan tenang. Jangan terburu-buru! Buat sedikit demi sedikit latar belakang permasalahan merasuk ke dalam pikiranmu maka kamu akan merasa menjadi saksi tiap kejadian kehidupan Laia dan Elias.

Selain diajak berputar-putar oleh cerita kehidupan di Blackliff yang menyeramkan, cerita romance-nya juga dapat banget! Terus meruncing dan berkelok.

“Mencintaimu adalah hal terburuk yang pernah terjadi padaku—lebih buruk daripada cambukan Komandan, lebih buruk dari Ujian. Ini siksaan, Elias.”—hlm. 380 (aku paham perasaannmu Hel, that’s hurts you)

Aku juga suka, selalu suka bagaimana Sabaa Tahir menggambarkan ekspresi dan perilaku Elias terhadap Laia. Bikin senyum-senyum karena lucu, kadang bikin melting, dan akhirnya fangirling.

“Aku menatapnya, menyadari aku sedang menatapnya, menyuruh diriku sendiri untuk berhenti, tapi terus menatap.”—hlm. 152

“Jangan biarkan ibuku menghancurkanmu.”—hlm. 153

Buku ini penuh kejutan, bukan twist juga, tapi lebih ke teka-teki. Banyak banget clue yang berterbangan tapi semua tertutupi oleh pemikiran Elias dan Laia sehingga kita menjadi shock bahkan speechless.

CHARACTERS
Karakter tiap tokoh kuat, apalagi Prajurit Mask yang identik dengan kekerasan, kedisiplinan, dan darah. Semua melekat dengan pas.

“Hidup terdiri dari begitu banyak momen yang tidak berarti apa-apa. Lalu suatu hari, satu momen datang untuk mendefinisikan setiap detik yang datang setelahnya.”—hlm. 29

Tingkatan di Blackliff
1. Yearling
2. Fiver
3. Cadet
4. Skull (di sinilah Elias)
Kemudian, setelah mereka lulus, mereka akan mendapatkan perintah sendiri, misi sendiri. Belum lagi uang, status, dan rasa hormat.

Dalam bayanganku, topeng yang dipakai Prajurit Mask itu seperti laba-laba di Spiderman 3 yang menempel seperi parasit di muka para prajurit. Dengan topeng itu, mereka juga “kehilangan” jiwa mereka. Ada tuntutan ketika mereka memakai itu.

image

Source: ghofurblog.id

Bagaimana kalau saya jadi menyukai Keenan? Duuh itu yang saya rasa setelah beberapa kali bertemu Keenan. Antara Elias dan Keenan, mereka punya keunggulan masing-masing yang nggak mungkin disangkal bisa menciptakan fans-fans gila. Aku saja bingung mau berpihak ke Elias atau Keenan.

Elias itu ibarat cowok dengan segala kesempurnaannya (ganteng, hits, pantang menyerah, banyak orang yang menyukainya, terlatih untuk menjadi sama hebatnya dengan keluarganya) namun ia memiliki masalah dengan ibunya, Sang Komandan.

“Dia akan melakukan segala yang mungkin untuk mencegahmu memenangkan Ujian.”—hlm. 150

Sejujurnya aku suka sama karakter tegas Komandan. Dia itu mendidik sekali. Tapi karena ambisi, dia jadi seperti psikopat.

“Temukan cara untuk menyelesaikan tugas-tugas yang sudah kuberikan, atau mati dalam usaha kalian. Pilih.”—hlm. 195

Sedangkan Keenan itu seperti cowok sederhana, punya sikap yang baik hati kepada semua orang. Kesederhanaannya-lah yang memikat hati. Berbeda dengan Elias yang glamor dan menawan.

Kalau Laia bagaikan cewek miskin, lemah. Tapi dalam darahnya ada darah pejuang. Semangat perjuangan dari orang tuanya. Dia punya tekad kuat.

“Terlalu banyak rasa takut, kau akan lumpuh. Terlalu sedikit rasa takut, kau menjadi arogan.”—hlm. 490

Dan mungkin karakter baru Laia itu akan menonjol di buku kedua. Buku pertama ini baru permulaan. Ciri khas dystopian banget kan?

“Menjadi mata-mata Resistance—itu bagian terkecil dirimu. Iti bukan apa-apa.”—hlm. 466

Helene itu Elias versi cewek. Kuat, statusnya sama dengan Elias. Tapi dia lebih cerdas dan penurut. Berbeda dengan Elias yang diam-diam pemberontak.

Karakter seperti ini tentu sudah sering pembaca teenlit jumpai terutama di novel-novel lokal. Eits, jangan salah. Di buku ini diceritakan dengan versi yang sangat keren. Bahkan belum tentu kalian sadar kalau ternyata karaktermya mirip sama karakter-karakter di novel remaja Indonesia.

Salah satu hal yang kusuka ketika sang tokoh utama membenci tokoh lain adalah si tokoh utama akan mengolok-olok tokoh lain dengan cara yang bikin kita tertawa.

Elias-Helene dan Laia-Keenan. Empat tokoh ini menciptakan ekspektasi cerita romance yang tinggi di kepalaku. Ditambah Kakek Elias seperti menjodoh-jodohkan Elias dan Helene. Duh.

“Hatimu menginginkan Keenan, tapi tubuhmu bernyala-nyala ketika Elias Veturius berada di dekatmu.”—hlm. 465

Ngomongin Kakek Elias, aku rasa aku pernah membaca cerita yang ada kakek dari tokoh utama laki-laki memiliki selera humor tinggi. Kakek yang sangat mendukung cucunya, kakek yang masih memiliki semangat juang tinggi.
image
STYLE
Menurutku cerita ini sangat to the point. Buku ini tebal karena banyak hal yang diceritakan penulis. Apalagi bagian Laia yang disuruh menjadi mata-mata Komandan padahal baru saja bertemu Mazen—ketua Resistance.

“Kau takkan pernah melupakan mereka, bahkan setelah bertahun-tahun. Tapi suatu hari nanti, kau bisa bertahan semenit penuh tanpa merasa sedih. Hatimu akan pulih. Aku janji.”—hlm. 114 (Keenaaaan! Melting nih)

SETTING
Aku kurang tahu apa novel ini mengambil setting tempat yang ada di dunia nyata. Karena aku (saking penasarannya) googling tentang Tribe, Martial, Imperium, Scholar, hasilnya? Nggak ada tanda-tanda bahwa setting-nya nyata. Yang muncul hanya Imperium Romawi. Tapi dalam bayanganku sih settingnya di sekitar Mesir gitu. Ada gurun, perbukitan, panas.

Fakta bahwa Sabaa Tahir lahir di London dan hidup di Amerika membuatku semakin penasaran bagaimana ia bisa berimajinasi sedemikian hebatnya tentang setting tempat An Ember in The Ashes. Dia begitu hebat mendeskripsikan setting di novel. Bukannya itu sulit jika dia nggak hidup di daerah yang sama? Kecuali ia emang pernah ke sana.

Kejutan lain datang setelah saya mencari tahu tentang Sabaa Tahir pada laman Former Journalist Sabaa Tahir Writes Dystopian Fantasies Inspired By The News. Yang akhirnya membuat saya paham asal muasal ide cerita ini.

Ya memang benar kalau novel ini mirip dengan Hunger Games. Saya juga merasa seperti itu terutama bagian Penyerbuan (bagian 1) dan Ujian (bagian 2). Dan argumen Marie Rutkoski juga benar, novel ini tentu saja punya sesuatu yang berbeda daripada Hunger Games yaitu bagian dampak sosial terhadap Imperium lebih kuat.

Membaca novel ini, mengetahui pemikiran Resistance dan Imperium, kurasa konsep novel ini akan seperti sejarah Renaisans. Dan buku yang pertama ini menceritakan tentang The Dark Ages—masa kegelapan yang akhirnya berujung pada revolusi-revolusi menuju pembaharuan dunia.

image

Setelah membuka ini, kusarankan buat teriak sekeras mungkin.
Ada kejutan mengharukan menanti kalian

SHORTAGE
Ada bagian di masa lalu Elias yang tidak dijelaskan dengan detail padahal masa lalu itu diungkit dalam Ujian Pertama. Yaitu tentang korban pertamanya Elias. Mungkin beberapa dari kalian nggak masalah, tapi aku penasaran dengan cerita pembantaian itu. Rasanya kurang.

Juga mengenai Prajurit Mask yang membunuh Nenek dan Kakek Laia. Nggak ada cerita lebih lanjut tentang dia tapi tiba-tiba dia disebut di akhir buku.

Dan yang masih nggak kumengerti, kenapa semua murid memanggil Komandan dengan “Sir” padahal dia perempuan?

Untuk bookmarknya, kurang sesuai dengan bayanganku sih. Soalnya Elias itu…susah jelasinnya :3 tapi buat yang Helene, udah oke. Dalam bayanganku dia kayak gitu dan lebih kurus. Hehe

EVENTS
Greget itu pas Elias diuji di gurun, Ujian Keberanian. Dia diauruh menghentikan ketakutan terbesarnya. Rasanya aku pengen banget teriak “Elias, Bertahan! Ayo semangat!”

UNIQUENESS
Selain plot dan setting yang unik, ada satu lagi yang berhasil membuat saya terkesan. Cerita atau legenda atau mitos makhluk gaib seperti jin, ifrit, dan ghul. Terutama ghul yang haus jiwa, memakan kesedihan seperti burung pemakan bangkai.

Kebalikannya Dementor, ya? Tapi akibatnya sama. Orang yang “dimakan” ghul akan kehilangan jiwa.

image

vignette1.wikia.nocookie.net/

FAVORITES
1. Ketika Elias gombalin Laia di Festival Bulan.

“Sebagai pembuat selai, kau membuatku terkesan.
Benarkah? Kenapa?
Karena kau begitu manis.”—hlm. 315

  1. Ketika Elias cemburu dengan Keenan, dia mengomentari tinggi Keenan yang lebih pendek 15 cm. Yaelah. Sekalipun Keenan pendek, dia tetap 180 cm!

“Dia lebih pendek dariku. Jauh lebih pendek. Lima belas senti, setidaknya.”—hlm. 308

Masih ada orang baru yang terjun ke “permainan” ini. Orang yang kenal dengan Klan Veturia, Orang-orang Tribe dan Klan Saif—keluarga yang memomong Elias semasa kecil.

POV
Buku ini mengambil dua sudut pandang, Laia dan Elias. Hal ini membuat cerita semakin kompleks. Seperti yang disebutkan di blurbnya. Keduanya akan saling silang. Setiap jalan yang masing-masing ambil akan saling mempengaruhi.

Elias tentang Laia dan Helene:

“Laia adalah tarian liar di api unggun perkemahan Tribe.

Sementara Helene adalah nyala biru dingin di perapian seorang alkemis.”—hlm. 352

Laia tentang Elias dan Keenan:

“Ada kebebasan dari caranya bergerak, kekacauan terkendali yang membuat udara di sekitar pemuda itu (Elias) berapi-api. Jauh berbeda dari Keenan, dengan keseriusan terkendali dan perhatian dingin.”

ENDING
Jujur, setelah aku selesai membaca buku ini, aku merasa lemas banget. Speechless, melongo, bingung, kosong. Pokoknya kelelahan sama ceritanya. Mungkin karena seharusnya aku baca kelanjutannya.

Sayang, kita masih harus nunggu sampai 2019 atau bahkan lebih lama lagi untuk membaca seri buku ini hingga tamat. Efek ini juga terjadi pada kak Sari lho. Dia juga merasa lelah setelah membaca buku ini. Sampai-sampai ketiduran.

Menyedihkan. Aku sedih banget sebelum akhirnya aku lemas. Lemas selemasnya. Elias bodoh! Augur benar! Augur selalu benar!

“Perang yang menghantui mimpi-mimpi kami. Bayangan berkumpul, dan pertemuan mereka tidak bisa dihentikan. Kegelapan timbuh di jantung Imperium, dan itu akan tumbuh lebih besar lagi, sampai menyelimuti tanah ini.”—hlm. 418

Benar-benar efek yang luar biasa baru dalam hidupku.

Seperti yang kita ketahui, buku berseri selalu memiliki ending yang nggantung. Nggak masalah, karena alurnya bikin berhasil mempermainkan semuanya. Se-mu-a-nya.

image

Ya Allah, masih 2019. Keburu tua😫


OVERALL
Terima kasih kepada Penerbit Spring (terutama Penerjemah, kak Yudith Listiandri), terjemahannya enak, kalian semua keren abis! Ditunggu buku selanjutnya.

Selengkapnya, cukup baca resensi di atas. Saya kalau ingat akhir ceritanya jadi lemas lagi. Butuh asupan buku kedua biar semangat hidup lagi😥

RECOMMENDATION
Kalau genre favoritmu: Romance, Fantasy, Thriller, Young Adult, Mystery, Dystopia, kamu harus baca ini. Apalagi buku ini masuk New York Times Best Seller dan punya sederet penghargaan.

Huft. Saya masih lemas. Maaf banyak salah di resensi ini.

Selanjutnya mari kita bergiveaway saja.


image

Daftar Blog Yang Wajib Dikunjungi

-GIVEAWAY-
20-24 Desember 2016 23.59 WIB
Indonesian Shipping Only

Yap. Berikut hadiah yang akan dibagikan:

  1. Satu set bookmark tiap blog host
  2. Satu novel An Ember in The Ashes di Fanpage Penerbit Spring pada GA Final
  3. Satu merchandise di Fanpage Penerbit Spring pada GA Final

HOW TO JOIN THESE GIVEAWAY?
1. Follow akun twitter/instagram @p_ambangsari dan @penerbitspring

  1. Like fanpage Penerbit Spring

  2. Follow blog Red Blue Story lewat wordpress atau email yang ada di sidebar

  3. Share info ini di twitter/instagram, mention kedua akun di atas dan sertakan hashtag #AnEmberinTheAshes.
    Boleh juga dibagikan di media sosial lain😁

HOW TO WIN A BOOKMARK SET?
1. Tulis komentar di kolom komentar bawah ini dengan format
Nama:
Link share:
Jawaban dari pertanyaan:
Kalau kamu, pilih mana:
A (Elias-Helene)
B (Elias-Laia)
C (Laia-Keenan)
D (Keenan-Helene)

HOW TO WIN A NOVEL “An Ember in The Ashes” or MERCHANDISE on GIVEAWAY FINAL?
1. Isi komentar di Fanpage Penerbit Spring pada tanggal 24 Desember dengan jawaban dari masing-masing pertanyaan yang diberikan host blogtour.

Jadi, kalian harus keliling blog semua host buat dapetin pertanyaannya lalu dikumpulkan di fanpage Penerbit Spring pada tanggal 24 Desember.

  1. Pertanyaan dariku adalah
    Sebutkan nama-nama tokoh yang telah saya sebutkan di resensi ini! (Min. 5) (Jawab di Fanpage Penerbit Spring)

Kalau ada yang mau ditanyakan, silakan mention saya di twitter/instagram
GOOD LUCK!!!😀

Iklan

37 thoughts on “[Book Review] An Ember in the Ashes by Sabaa Tahir

  1. Rimadian Ulfa Y berkata:

    Nama: Rimadian Ulfa Y
    Link share:
    mobile.twitter.com/AdinRim/status/810999710559260672
    Jawaban: aku milih Elias-Laia, soalnya berdasarkan review yg kubaca, mereka itu tokoh utama yg penting dan sangat berpengaruh dlm cerita. Biasanya di setiap novel itu ada dua tokoh yg sangat cocok untuk segi romancenya juga (contohnya Katniss-Peeta, Tris-Four, dll) dan menurutku yg plg pas tetep Elias-Laia lah. 🙂

    Suka

  2. Nama: Erika Putri Gustiana / @erikagustyana
    Link share: https://twitter.com/ErikaGustyana/status/811169214853615616

    Jawab:
    Aku lebih suka Laia x Keenan. Haha gak tau kenapa setelah baca review diatas, sepertinya aku bakalan lebih suka tokoh Keenan daripada Elias. I know, pilihan ku selalu beda daripada yang lain. 😂
    Tapi baca penggalan sifatnya Keenan, kayaknya fix deh aku bakalan jadi fansnya. Wkwk lagian sifat Laia dan Keenan aku rasa cocok. 😆

    Suka

  3. Wandhai berkata:

    Nama : Wanda Istiqomah Z.
    Link Share :https://mobile.twitter.com/wandha_i/status/811066861500567558
    Jawaban : Setelah berbingung-bingung ria milih Elias-Laia atau Keenan-Laia, akhirnya aku pilih Keenan-Laia. Dua tokoh utama (dalam hal ini Elias dan Laia) tidak harus selalu bersama, kan? Menurutku sikap Keenan yang ramah itulah yang membuat Laia lebih cocok dengan pria itu ketimbang Elias yang glamour. Meskipun tidak bisa dipungkiri kalau perbedaan antara Elias dan Laia juga membuatku tertarik :’D

    Suka

  4. Bety Kusumawardhani berkata:

    Nama: Bety Kusumawardhani (@bety_19930114)
    Link share: https://mobile.twitter.com/bety_19930114/status/811164091356037120?p=v

    Jawaban: Elias-Laila
    Karena meskipun mereka mempunyai nasib yang sama (orang yang belum merdeka) namun, penyebab penderitaan dan latar belakang mereka berbeda. Elias si glamor dan menawan yg dipaksa ikut militer saat kecil sedangkan Laia si cewek miskin tapi, punya tekad kuat dan semangat demi menyelamatkan kakaknya. Biasanya, perbedaan lah yang mampu menyatukan keduanya. Seperti dua kutub magnet Utara dan Selatan yang selalu tarik menarik.

    Suka

  5. Nela Norhela berkata:

    Nela Norhela S

    Aku pilih B. (Elias-Laia) karena, dari review2 yg kubaca mereka, cocok bgt, Laia yg lemah tp punya semangat juang yg tinggi, dan Elias yg menawan tp diam2 pemberontak, yg sepertinya pas aja gitu kalau disatuin. Meskipun ada Helene yg dijodoh-jodohin dgn Elias oleh Kakekny Elias, yg kalau sekilas memang terlihat serasi, karena status yg sama2 kuat dan menawan. Tp, karakter mereka terlalu mirip, kalau dijadikan pasangan, keknya nggak asik bakalan sama2 keras kepala ntar. Dan jg meskipun ada Keenan yg keknya bikin meleleh, tp Elias itu.. cute 😁 apalagi pas dia ngegombalin Laia dan cemburu itu koq keknya lucu bgt. Ah, jd pengen baca bukunya 😍😍

    Suka

  6. Insan Gumelar Ciptaning Gusti berkata:

    Nama: insan gumelar ciptaning gusti
    Link share: https://twitter.com/san_fairydevil/status/811383584988635136
    Jawaban dari pertanyaan:
    Kalau kamu, pilih mana:
    A (Elias-Helene)
    B (Elias-Laia)
    C (Laia-Keenan)
    D (Keenan-Helene)

    Aku pilih D, Keenan dan Helene. Kenapa? Soalnya dijelasin kalo Keenan itu sederhana aja, baik hati, tapi di dalam pemikiran Laia, Keenan adalah orang yang bisa mengendalikan keseriusannya (emosi mungkin yg dimaksud) dan juga perhatian yang dingin. Oh, sial. Aku selalu lemah dengan karakter yabg perhatian tapi sok jahat. Menurut aku yang begitu, sekalinya beneran ngasih perhatian yang hangat, uhh meleleh. Lalu kenapa Helena. Intinya, nanti kayak teman aku, dia pendiam, lemah lembut dan pacarnya juga pendiam. Kan hidupnya sepi. Makanya aku pilih Helene. Dikatakan Helene karakter mirip dengan Elias, nah gimana cara si Keenan dengan pesonanya yang sederhana tapi istimewa bisa membuat Helene menurut. Gitu sih. ^^

    Suka

  7. mimichinori berkata:

    Nama : Mimi Fachriyah

    Link share : https://mobile.twitter.com/mimichinori/status/811718968583065601?p=v

    Jawaban :
    Aku pilih C (Laia-Keenan)

    Setelah membaca review, apalagi setelah membaca kutipan quote Keenan. Aku pikir, Keenan orang yang tepat untuk Laia. Dengan kesederhanaan dan kebaikan hatinya, mungkin dia akan mampu membimbing dan mendukung Laia untuk menyelamatkan Kakaknya. Selain itu, karakter Keenan sepertinya bisa menenangkan atau mengendalikan Laia saat semangat juangnya berlebihan. Sementara kalau Laia dengan Elias, aku khawatir ibunya Elias akan membuat kehidupan Laia semakin rumit. Selain itu, aku juga tidak sanggup jika harus merelakan Elias untuk orang lain. Jadi, biarlah Elias untuk aku saja ya (//∇//)

    Suka

  8. Tulis komentar di kolom komentar bawah ini dengan format
    Nama: Afifah khoiriyah
    Link share: https://twitter.com/Afifah_1412/status/811894976564981760

    Jawaban dari pertanyaan:
    Kalau kamu, pilih mana:
    A (Elias-Helene)
    B (Elias-Laia)
    C (Laia-Keenan)
    D (Keenan-Helene)

    B. Elias-Laia. Karena Elias yg mnurutku lebih dibutuhkan Laia. Walau glamor, Elias berani jika itu salah. Pokoknya berani deh. Dia bisa melindungi Laia jika dia terancam. Kalo Keenam buat aku aja hehe

    Suka

  9. Nama: Salsabila Chairunnisa Ramadhani
    Link share: https://twitter.com/zaenays/status/812227100333592576
    Jawaban: B. Elias-Laia! Hampir di semua buku yang aku baca, aku kena semacam sindrom pendukung main characters as OTP /eh beribet banget njelasinnya/. Maksudnya, di sini Elias sama Laia kan karakter utamanya, mereka sering muncul dan karena sudah terbiasa melihat karakter utama bersama jadinya aku nggak bisa bayangin salah satu dari mereka punya another romantic-relationship sama orang luar. Walaupun aku belum baca buku ini tapi aku punya firasat kuat bahwa Elias dan Laia itu memang ditakdirkan untuk bersama (yaampun bahasanya lol). Diliat dari review di atas, mereka berdua juga saling melengkapi dibanding dengan pilihan OTP lain, jadinya sudah cocok sekali^^

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s