[Book Review] Sylvia’s Letters by Miranda Malonka

Ada surat-surat yang takkan pernah dikirim. Ada surat-surat yang telah dikirim dan mungkin tak pernah dibaca penerimanya.

Hidup mengajari Sylvia tentang obsesi. Persahabatan mengajarinya tentang masalah. Dan Sylvia yakin semua orang bisa diselamatkan dari masalah hidup mereka.

Hingga ia bertemu dengan Anggara, yang mengajarinya tentang cinta yang melepaskan ikatan. Dan untuk pertama kalinya Sylvia menyadari bahwa ia tidak bisa menjadi penyelamat semua orang.

Terkadang peraturan keselamatan tidak lagi berlaku ketika berkaitan dengan obsesi dan cinta.


image

Covernya cantik 😍

Paperback, 200 pages
Published April 6th 2015 by Gramedia Pustaka Utama
ISBN13 9786020315256
Series: Young Adult GPU
URL http://gramediapustakautama.com/buku-detail/88777/Young-Adult:-Sylvias-Letters
Rating: 3,5⭐
Read via iJakarta


Blurb-nya ribet ya, setelah baca novelnya aku masih belum paham sama blurb ini. Soalnya ceritanya juga sama rumitnya, ada bagian yang tidak dijelaskan secara detail. Bagian yang sengaja diumpetin dari awal hingga akhir yang kemudian menjadi pemicu konflik-klimaks-ending.

“Menolak makan sama saja dengan menolak jati dirimu sebagai makhluk hidup.”—hlm. 134

“Aku harus mencoba menyelesaikan masalahku sendiri dulu, baru minta bantuan orang lain.”—hlm. 156

Setelah membaca prolognya aku merasa ini bacaan remaja walaupun kategori Young Adult. Cerita ini menggambarkan permasalahan remaja banget. “Memandang diri sendiri, bertanya siapakah aku?”, remaja yang sedang berada ditahap selfish tinggi, penilaian orang yang mengubah hidup diri sendiri, merasakan cinta untuk pertama kali, mimpi yang tidak disetujui orang tua, dsb dsb…

Dan ternyata prolognya punya twist. Kurang ajar. Hahaha. Aku tertipu pangkat dua.

“Kita hidup di masa ketika batasan benar dan salah dikaburkan oleh perasaan dan hormon.”—hlm. 74

“Kalau kamu merasa bodoh, berarti kamu sedang melakukan hal yang benar.”—hlm. 88 (alasan Gara setelah kalimat ini benar-benar bikin tersenyum puas. Penulis ini ya, dia psikolog-kah? Tau banget sih sama urusan remaja)

EXCESS

Aku suka bagaimana penulis keluar dari konstruksi budaya yang terjadi. Topik arti warna yang nggak umum bagiku ini out of the box. Aku penasaran, apa emosi dalam warna-warna ini adalah hasil penggambaran diri penulis? Karena menurutku akan sulit jika mengubah mindset pribadi dalam menulis cerita. Ditambah emosi dalam warna itu layaknya ketetapan universal. Hampir semua orang sama jadi kalau diubah untuk menciptakan suatu karakter pastinya akan sulit dilakukan.

“Warna biru bagiku adalah semangat dan keingintahuan, karena ketika aku membayangkan kata ‘semangat’, yang muncul adalah gambaran lautan dalam yang memantulkan angkasa tak terhingga.”—hlm. 32

“Dalam kamusku, kuning artinya energi yang garang seperti sinar matahari.”—hlm. 58

“Merah artinya rasa takut.”—hlm. 59

“Warna merah muda adalah simbol kesedihan yang berlarut-larut.”

“Nggak ada gunanya memoles avatar-mu sebagus apa pun kalau isinya kosong.”—hlm. 192

SHORTAGE

Ada salah satu bagian yang belum kumengerti. Bagian ketika Gara dan Sylvia bolos lalu Gara merogoh tas dan mengambil kertas bertuliskan “tiiit” dengan stripe line. Maksudnya… Gara tahu? Tapi pertanyaan yang italic itu untuk siapa??😯 Maafkan aku yang kurang fokus.

Hal lain yang mungkin bikin bertanya-tanya setelah selesai membaca adalah, email-email di akhir cerita, kok bisa nggak sinkron dengan apa yang Sylvia tulis? Jawabannya cuma satu. Sylvia punya email lain.

Aku merasa bingung ketika ini. Tapi setelah mengecek semua email, akhirnya aku tahu walau tetap bertanya-tanya, “Kapan sih Sylvia ganti email?”

“Apa yang harus kulakukan supaya aku tak merasa perbuatanku sia-sia dan salah? Mengapa aku menyesalkan tiap lembar kertas yang kutulis tangan ini?”—hlm. 47

STYLE

Ini kali pertama aku baca karya Miranda Malonka. Karya lokal yang memiliki bahasa seperti buku terjemahan. Bukan negatif kok. Malah kesannya kayak luar negeri banget padahal setting tetap di Indonesia.

Aku baca novel ini sejak… 31 Oktober😱 dan selesai tanggal 5 November. Pada awalnya ketika membaca surat-surat yang ditulis Sylvia kadang aku merasa greget. Isinya benar-benar cuma surat yang nggak terkirim? Retelling kehidupan Sylvia? Anggara kapan keluarnya? Yakin nih bakal cuma telling tanpa show? Ternyata buku ini dibagi menjadi 6 termasuk Prolog dan Epilog. Empat bab itu isinya adalah…

Bagian Satu: Surat-Surat yang Tak Pernah Dikirim
Bagian Dua: Surat-Surat yang Tak Pernah Dikirim
Bagian Tiga: Surat-Surat yang Tak Pernah Dikirim
Bagian Empat: Surat-Surat yang Tak Pernah Dikirim

Yup!! Hampir semua isinya adalah pergulatan batin Sylvia, retelling kehidupan Sylvia, alias diary. Karena itu aku greget. Tapi di epilog semuanya berubah karena judulnya adalah “Epilog-Sepucuk Surat yang Telah Dikirim”

Alur yang panjang dan pelan membuat konfiknya terus memanas lalu ctar di Epilog. Klimaksnya membuat aku sadar kalau isi novel ini ternyata lebih dalam daripada ketika kita baca surat-surat Sylvia tentang Gara. Sangat dalam, penuh makna, dan nggak kita sadari dari awal.

image

Baca lewat iJakarta

CHARACTERS

Sylvia itu anak polos walaupun sudah SMA. Terkadang ia juga konyol dan lugu membuat sense of humor cerita ini sukses meningkatkan semangat baca. Yaah kalian bisa dibayangin anak lugu kalau bicara dan berpikiran.

Tapi dibalik itu, karakter Sylvia yang blak-blakan juga nylekit lho. Dia ini cewek cerdas, kritis dan kadang sarkastis. Apalagi di surat yang dikirim kepada pihak sirkus. Belum tentu ada remaja yang kayak Sylvia dan Gara ini. Mereka mengungkapkan apa yang mereka pikirkan dengan fokus apa adanya, tentang eksploitasi hewan.

PLOT

Sambil dengerin Shawn nyanyi This is What it Takes, sambil baca Scarlet dirawat, beuh rasanya sediiih banget. Ini yang sering terjadi pada remaja kan? Selfish, lupa sama orang sekitar. Begitu juga yang terjadi pada Sylvia.

Jelas banget malau penulis memang ahli di science (Tentang Penulis). Mulai dari penyakit yang menyerang fisik sampai psikologi.

Sisipan sibling rivalry ini juga bagus sekali. Selain mengungkap apa yang sering remaja rasakan, sepertinya buku ini cocok dibaca orang tua juga deh. Biar mereka tahu bahwa kita remaja nggak suka disama-samakan—atau dibeda-bedakan (secara langsung atau pun tidak langsung) karena itu tanpa sadar membangkitkan sisi pemberontak jika remaja tidak kuat. Bukannya ikut termotivasi tapi malah makin ugal-ugalan.

“Kupikir orang-orang dewasa mengerti hal ini, tapi ternyata banyak sekali hal yang tak dimengerti oleh mereka.”—hlm. 118

ORIGINAL

Dari sekian banyak buku remaja/teenlit/young adult, seingatku baru kali ini aku baca yang banyaaak banget bahasan soal psikologi remaja dan anoreksia. Dan ini semua selain benar banget, juga membuatku sadar, paham, dan tahu bagaimana harus menyikapi kehidupan remaja.

Tema yang diangkat Miranda Malonka memang keren. Alurnya itu lho!! Asdfghjkl-lah! speechless

ENDING

Mungkin cuma ini yang bisa mewakili perasaan saya, “Hampa dan linglung”

Nggak nyangka banget, ya Allah.

OVERALL

Isi buku ini asyik untuk diingat-ingat. Sebulan lebih selesai baca fan ketika menulis ini saya malah merasa tambah suka jadi bingung harus ngasih rating berapa. Jadi kuputuskan 3,5⭐ (antara liked it dan really liked it)

RECOMMENDATION

Buat para remaja, haloo, iya kalian, baca ya buku ini. Ada banyak story life tentang remaja di cerita ini. Mulai dari masalah pribadi, masalah drngan orang tua, masalah dengan teman, sampai bagaimana menyelesaikan kemarahan dalam diri. Selain itu kalian juga akan disadarkan oleh perbedaan antara cinta dan rasa suka yang menuju obsesi.

Remaja banget kan? Apalagi kutipan-kutipan di bawah ini. Check it out!


image

Miranda Malonka via goodreads


QUOTES

“Selalu ada saat pertama untuk segalanya, termasuk menjadi sinting.”—hlm. 24 (FAVORITKU)

“Aku sudah hampir hapal seluruh jadwal pelajaranmu sekarang. Apakah aku gila?
Jawabannya bisa ya atau tidak, tapi dengarkanlah hal yang lebih gila berikut ini: kamu nggak kenal aku.”—hlm. 26

“Anak-anak selalu mengira dirinya benar dan menganggap orang tua tidak mengerti situasi mereka, tapi para orang tua justru terlalu memahami pikiran dangkal mereka sehingga tidak lagi memprotes.”—hlm. 51

“Mungkin, orang paling masokistik di dunia adalah orang yang masih berani mencintai walaupun hatinya tergores-gores dalam.”—hlm. 37

“Kita harus begitu supaya mereka nggak belagu. Kalau kamu baik-baikin junior, nanti mereka nyolot.”—hlm. 40 (SETUJUUU!!)

“Aku percaya kita semua gila, namun kebanyakan orang begitu lihai menutupinya dengan kehidupan sok serius atau puasa tertawa.”—hlm. 86

“Teman Saling Suka, tapi tak lebih dari itu?”—hlm. 127

“Di mana aku ketika dia membutuhkanku? Sementara dia selalu ada tiap aku memerlukannya, untuk hal-hal paling sepele sekalipun?”—hlm. 140

“Bagaimana sahabatku itu bisa mendefinisikan masa depannya, jika ia bahkan tidak bisa mengenali dirinya sendiri?”—hlm. 159

“Kamu terlalu disetir oleh perasaanmu sendiri.”

“Kita saling memberi nasehat satu sama lain, padahal kita sama-sama sinting.”

Iklan

2 thoughts on “[Book Review] Sylvia’s Letters by Miranda Malonka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s