[Book Review] Nyawa by Vinca Callista

Suara-suara itu, selalu datang tiap malam. Melenguh, seakan kesakitan. Tak hanya itu, suara rengekan anak kecil juga terselip diantara daun pintu kamarku. Belum lagi, nenek kakek yang suka datang ke rumah kos ini.

“Siapa kakek-nenek itu? Mereka pasti bukan hantu. Rory tidak percaya hantu.”—hlm. 51

Puncaknya, aku merasakan sesak saat seseorang mencekik leherku di saat tidur. Ini malapetaka. Apa yang tengah terjadi di rumah kos ini?

“Mati. Ya … kematian adalah caraku untuk mendatangimu.”—hlm. 243


image

Cover Novel

Paperback, 300 pages
Published June 2015 by Bentang Pustaka
ISBN13: 9786021383469
Rating: 3,5/5⭐


REVIEW

COVER
Covernya berhasil membuatku penasaran ketika novel ini beredar di akun penerbit. “Keren kan ya covernya, kayak alter ego plus horor setan gimana gitu.” Itu pemikiranku sebelum baca ceritanya, tapi setelah baca, wow, tebakanku salah. Ini bukan soal alter ego.

STYLE
Tanggal 5 yang lalu aku memulai membaca buku ini via iJakarta, pas baca aku lagi ngantuk banget dan pengen tidur tapi nanggung udah mau maghrib maka kuputuskan membaca. Dan prolognya, subhanallah. Menggugah mata tetap melek. Aku suka prolognya. Keren gila banget! Seperti salah satu cerita di Conan. Sang aktris mati di panggung ketika pertunjukan hampir selesai.

VINCA CALLISTA’S BOOK
Ternyata Nyawa ini novel kedua dari Vinca Callista yang kubaca, beberapa tahun yang lalu aku baca Ratu Callista Sang Panglima Onyx, novel petualangan berbalut roman yang bisa dibilang ada kemiripan dengan Alice in Wonderland. Ceritanya seru, gaya berceritanya asik.

GENRE
Buta akan cinta, player, iri, dengki, demburu, psikologi, kejiwaan, obsesi. Banyak banget yang dibahas, bagus sih karena itu artinya penulis mengungkapkan kehidupan manusia memang complicated. Sayangnya kalau terlalu banyak hal juga ada nggak baiknya. Jadi kerasa “ini buat tambahan teka-teki doang?” walaupun cerita tetap berjalan bareng benang merah.

Novel ini bergenre psychothriller, jadi di dalamnya bakal berisi psikis orang-orang yang diceritakan dengan menguatkan karakter tiap tokoh, juga kadang diselipkan teori sosiologi (yang kebetulan ada di materi sekolahku😂) dan karakter-karakter itu akan diceritakan dalam suasana thriller.

“Cewek ‘harus pakai warna pink’ dan cowok ‘nggak boleh pakai warna pink’ itu cuma hasilkonstruksi sosial.”—hlm. 15

PLOT
Di novel Nyawa ini bakal ada 2 cerita yang disampaikan, cerita masa kini dan flashback. Dan pergantian cerita itu tanpa tanda semisal ‘Tahun blablabla’ atau ‘Flashback‘ di awal bab. Tapi dengan perubahan POV. Kalau cerita anak kos akan menggunakan POV3, di cerita yang flashback akan pakai POV1. Bagian flashback itulah yang gila.

“Bisikan-bisikan gaib itu asalnya dari alam bawah sadar, sesuatu yang berhubungan sama psikologis.”—hlm.172

Bagiku bagaimana penulis membuat cerita ini penuh misteri sudah berhasil. Kejadian-kejadian ganjil selalu diceritakan sedikit demi sedikit lalu di akhir cerita akan diungkap dari awal hingga akhir. Itulah yang membuat alurnya jadi lama. Ditambah memang ada banyak hal yang penulis ceritakan.

Berbanding terbalik dengan keseluruhan alur di bagian awal, bagian akhirnya termasuk cepat. Aku sempat bertanya-tanya 200-an halaman aja pertunjukan Kubang kedua sudah hampir dilaksanakan, 100 halaman lagi buat apa?

image

Ratu Callista Sang Panglima Onyx by Vinca Callista

CHARACHTERS

Rory
Tidak pernah mau menerima bantuan tanpa terlebih dulu membuktikan titik maksimal kemampuannya. Dia cewek yang disukai banyak cowok, tapi dari sekian banyak cowok yang mendekatinya tak ada yang ia anggap ‘lebih’. Semuanya ia anggap sebagai ‘teman dekat’. Di cerita ini Rory salah satu tokoh utama yang selalu diceritakan baik di  cerita masa kini atau flashback.

“Iya, aku tertarik banget sama Rory. Dia itu satu orang, tapi jago nyamar jadi banyak orang. Nggak kelihatan aslinya, tapi aku tahu dia satu orang.”—hlm. 131

Sandre
Suka seenaknya sehingga membuat dirinya seperti bad boy keren. Dari setiap angkatan pasti ada minimal satu cewek yang jadi mantan pacarnya. Yang pernah terlihat mesra, tapi tidak pernah menyandang status “pacar”, lebih banyak lagi.

Sandre jelas tokoh laki-laki yang kusuka, paling konyol dari Sandre ada di halaman 123. Kurang ajar banget. Sandre yang gagah, penakhluk cewek-cewek, bule, gitu-gitu takut sama ‘T-Rex’ yang ada di rumah Teh Neni (pemilik kost). Kukira apaan ternyata cuma kayak gitu, aargh nyebelin banget, aku udah deg-degan. 😂😤😄

Changi
Saya rasa karakter terkuat malah Cangi, bukan Rory yang disukai banyak lelaki dan dibenci banyak perempuan, bukan si pelaku utama. Mungkin karena Changi ini menyebalkan, sukanya mengolok-olok, memfitnah, dan lewat Cangi seakan-akan penulisnya sedang menebar kebencian pada pembaca. Biasanya saya nggak suka sama yang kayak gini, nggak baik, tapi untuk kali ini saya merasa asik ditambah karena deg-degan dengan kejadian-kejadian di Rumah Mangga.

Mara
Ada karakter lain yang rasanya pengen kugeplak! Mara. Dia ini ceweknya Danu yang posesif, cemburuan akut. Danu mau pindah kamar saja nggak boleh, kamarnya harus tetap di depan kamarnya Mara. Suatu hari Lian pingsan terus Danu ngegendong Lian, eh si Mara marah-marah nggak keruan. Parah banget pas Mara bermimpi Danu selingkuh lalu menelepon Danu memintanya untuk menemani tapi Danu lagi punya banyak tugas jadi nggak bisa menemani Mara. Kalian tahu apa yang dikatakan Mara di telepon?

Kok, kamu nyuekin aku, sih?! Aku kan kesepian! Aku nggak bisa bobok, kamu malah enak-enakan di kamar! Sekarang aku nggak bisa bobok lagi juga gara-gara kamu! Gara-gara kamu selingkuh!”

“Lho, itu kan cuma mimpi kamu, aku nggak selingkuh.”

Mimpi itu asalnya dari alam bawah sadar! Jadi, itu fakta!”—hlm. 45

FAVORITES
Yang kusuka itu prolognya. Dijamin kalau kalian baca pasti bakal melongo takjub terus pucet. Hahaha!

Selain itu, aku suka bagian Sandre dan ‘T-Rex’ yang ternyata itu twist. Kocak abis!

SHORTAGE
Kekurangan ada di bagian lampu-lampu hias Rory (platonic solids) yang ternyata hanya diceritakan sekali padahal udah keren penjelasan dan istilahnya: tetrahedron, kubus, octahedron, dodecahedfon, icosahedron.

Penyelesaian masalah hanya dengan menceritakan kejadian kejadian dan mengungkap teka-teki lalu mengakhirinya akhir yang pasti.

Endingnya? Datar. Dari awal udah kelihatan siapa pelaku sebenarnya walaupun beberapa kali penulis mencoba memutar-mutar asumsi saya mengenai pelaku. Cara ini digunakan Agatha Christie dalam membelokan pikiran pembaca, sayangnya masih belum berhasil. Tapi cukup mengejutkan dengan bagaimana pelaku diakhiri.

Cerita Kubang kurang dieksplor lebih banyak. Tangisan anak kecil hanya berhenti ketika ‘itu’ semua diungkap oleh satu orang. Sedangkan penghuni kost lain tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Kukira akan ada hubungannya dengan cerita utama, ternyata enggak.

Dan satu lagi yang perlu ditanyakan, kebiasaan menusuk diri dengan peniti tapi kok nggak anemia atau pingsan dengan frekuensi tinggi ya? Kayak sehat-sehat aja.

“Mati. Kematian. Ada sesuatu yang berhubungan sama kematian yang mengganggu pikiran…”—hlm. 219

SUGGESTION-Hmmm, kurasa lebih baik events-nya dikurangi sampai hanya ada beberapa clue yang kuat dan membingungkan sehingga bisa lebih seru lagi karena nggak membuat pembaca terjejali banyak info tapi ternyata infonya kurang efektif dalam mencapai klimaks.

image

Nyawa by Vinca Callista di applikasi iJakarta

OVERALL
Aku suka cerita ini, dari awal udah bikin tegang. Karakter-karakternya yang banyak juga kuat (poin plus), terus cerita ini juga cukup jarang digunakan penulis lain apalagi bagian Fregoli (coba googling apa itu Fregoli pasti penasaran dengan isi novel ini 😈). Novel ini kurekomendasikan buat pembaca yang suka cerita psychology, thriller, mystery, teenlit, darklit. Terutama yang suka cerita seperti Conan, Agatha Christie, Ruwi Meita.

“Sekarang aku sedang tidak punya alasan untuk tertawa, jadi kenapa tidak kupotong saja daun telingaku?”—hlm. 115

QUOTES

“Punya kehidupan sendiri nggak berarti musuhin orang-orang di rumahmu.”—hlm. 109

“Uang tidak berharga selama kita punya karya. Tapi, hasil karya Kaatje pun harus jadi uang dulu agar kami bisa beli makanan.”—hlm. 117

“Kalau kita nganggep seru, ya, jatuhnya bakal seru. Kalau kita tergantung sama orang lain, itu sama aja hidup kita dikontrol orang lain.”—hlm. 282

image

Fregoli | source: google

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s