[Book Review] Wonderful Life by Amalia Prabowo

​“Sen… dok, Qil.”
“Nes… dok.”
“Sendok….”
“Nesdok….”
Jalan hidup Amalia Prabowo terasa runtuh ketika tahu Aqil, putra sulungnya, menyandang disleksia. Perempuan dengan pendidikan dan karir cemerlang ini harus berlapang dada putranya divonis tak akan mampu meraih prestasi akademis. Aqil tidak hanya kesulitan dalam melafal kata dan merangkai kalimat, tapi juga membaca, menulis, dan berhitung.

“Oleh-Nya Aqil dititipkan padaku, aku harus melapangkan dadaku menerima rencana-Nya. Aku tak berhak mencetaknya menjadi sosok yang kuinginkan. Kehidupan adalah miliknya, begitu pula Aqil.”—hlm. 82

Tak mau menyerah pada nasib, Amalia berusaha masuk ke dunia Aqil. Berbekal kesabaran, kemauan untuk mendengar dan memahami, Amalia menemukan dunia yang penuh warna, imajinasi, dan kegembiraan. Dunia yang mengubah secara total kehidupan pribadi dan keluarganya.

“Cara terbaik untuk bertahan dalam kehidupan yang bukan milik kita ini adalah berdamai dengan kehidupan.”


image

Cover Novel

Paperback, 177 pages
Published April 2015 by Penerbit POP
ISBN13: 9789799108548
Edition Language: Indonesian
Rating: 🌟🌟🌟🌟🌟


“Namaku Amalia, putri bungsu keluarga nigrat Jawa yang berpendidikan tinggi dan berkecukupan materi.”

Ketika membaca halaman pertama, saya mengira kalau buku ini akan membahas lika-liku kehidupan Amalia secara kental. Namun ternyata yang ingin diceritakan adalah anak dari Amalia. Aqil yang menderita disleksia.

SIMILAR-​
Tema buku ini benar menarik. Disleksia, mirip dengan novel Summer Breeze karya Orizuka. Namun bedanya disini bukan tokoh utama yang memiliki disleksia, tapi anaknya.

image

Karakter Tersirat

CHARACTERS
Mulanya kita akan diberi pengenalan tentang kehidupan Amalia Prabowo semasa kecil. Ia dilahirkan sebagai perempuan dari keluarga ningrat dengan budaya Jawa yang halus, lemah lembut, disiplin tinggi, bahkan dididik oleh ayahnya untuk menjadi orang yang sempurna dan terkesan perfeksionis.

“Sebagai orang tua, bapak tidak akan mewariskan harta untuk kalian. Yang kuwariskan adalah pendidikan dan pengetahuan yang baik. Bapak yakin, dengan bekal itu kalian akan menggenggam dunia.”—hlm. 8

“Meski demikian, tetap saja ada ‘orang-orang malas’, yang perilakunya selalu tak masuk akal bagiku. Di mataku, merekalah penghuni kasta terendah.”—hlm. 28

Bagi saya bagian ini sangat berhasil menciptakan karakter Amalia sendiri. Ia menjadi berkarakter sinis jika ada orang yang tidak berperilaku sempurna. Ia juga menjadi pribadi yang selalu penuh perencanaan yang kemudian akan kita sadari bahwa kehidupan ini diatur oleh Yang Maha Kuasa sekalipun kita sudah berusaha menyusun rencana.

“Hidup ini milikku, aku yang mengaturnya dan kamu hanya pelakunya… Maka turuti dan jalanilah. Jangan engkau berbalik peran!”—hlm. 54

EVENTS
Kehidupan yang sempurna itu berubah. Berbagai masalah menimpa Amalia membuatnya bangkit, merangkak, berdiri, tersandung, jatuh, kembali bangkit untuk merangkak dan terus berputar.

“Hidup adalah perjuangan untuk memenangkan persaingan. Tidak ada tempat bagi orang-orang malas di kehidupan ini. Mereka akan terkalah dan tersingkir. Mereka akan menempati posisi terbawah. Aku bukan dari kalangan seperti itu.”

Klimaksnya terjadi ketika Aqil, anak pertama Amalia dengan suami kedua ternyata menderita disleksia. Awalnya Amalia menganggap tidak ada masalah dengan Aqil. Aqil hanya butuh belajar lebih. Amalia menyangkal.

“Dan aku pun kehilangan cara berkomunikasi dengan anakku.”

Tapi dokter mengatakan kebenarannya. Aqil mengidap disleksia.

Ciri Disleksia: Kesulitan membaca, membaca huruf terbalik-balik, kesulitan mempelajari bahasa, keterlambatan berbicara, sulit mengikuti arahan, bahkan sulit mengingat nama benda atau orang.

Pada saat membaca ini, saya sedih luar biasa. Apalagi ketika Amalia frustasi. Dia merasa bahwa kehidupan mempermainkannya.

image

Tertekan. Siapa yang salah?

“Dimana kesalahanku sebagai orang tua?”—hlm. 67

“JADI AKULAH YANG BERMASALAH?”

Berbagai terapi dilakukan Aqil dan Amalia namun tak menunjukkan progres berarti. Ketika mereka berdua sedang menggambar bulat-bulat yang merupakan bagian dari terapi, tercetuslah ide untuk menyuruh Aqil menggambar dirinya. Dan Aqil pun menggambar Amalia dengan bentuk mirip alien lalu berlanjut pada gambar selanjutnya yang memperlihatkan aktivitas Amalia dan Satria yang penuh keseruan. Pada saat itu kebahagiaan datang pada mereka bertiga.

image

Contoh Kutipan

Burung, ikan, dan monyet. Mereka memiliki keahlian masing-masing namun juga memiliki kekurangan masing-masing. Burung dapat terbang namun tak dapat berenang. Ikan dapat berenang namun tak dapat memanjat. Monyet yang sekalipun hidupnya bergelantungan di atas pohon pun tak dapat terbang. Seperti kata pepatah, dibalik kelebihan selalu ada ketidaksempurnaan. Itulah hidup. Dan ini normal.

Rasanya saya merinding setiap baca kehebatan Aqil mengalahkan kekurangannya. Aqil akhirnya mendapatkan “tempatnya” yaitu menggambar. Seperti yang terlihat di ilustrasi bukunya, gambaran berkarakater, hidup, runut bercerita seolah gambarannya adalah wujud visual kehidupan Amilia-Aqil-Satria sendiri.

Dan ini subhanallah luar biasa bikin terharu, bangga, campur aduk. Apalagi bacanya diiringi lagu Still Falling For You Ellie Goulding. Skenario Allah selalu luar biasa indah sekalipun ada banyak jurang untuk menuju keindahan itu.

image

Screenshot Ilustrasi dalam novel

Nah itu campuran antara sinopsis dan review. Kali ini saya ingin mengulas beberapa bagian dari Wonderful Life.
Saya nggak ragu untuk ngasih bintang 5 di buku ini. Sesuai judulnya, Wonderful Life benar-benar indah, bagus, luar biasa.
GENRE
Sejujurnya saya kurang tahu seperti apa novel grafis. Tapi Wonderful Life mungkinkah bisa dikatakan sebagai novel grafis? Soalnya di sini memang selain prosa juga dihiasi oleh ilustrasi atau gambar-gambarnya yang mirip doodle.

ORIGINAL
Karena ilustrasinya yang besar, novel Wonderful Life cukup sulit dibaca nyaman lewat IJakarta via mobile. Saya terkadang kurang paham dengan apa yang dikatakan atau yang dimaksud penulis. Pasalnya, seperti yang saya katakan sebelumnya, gambar-gambar ini sebagai pendukung cerita. Kalau gambarnya tidak jelas (terpotong), tentunya imajinasi saya juga kurang jelas. Untungnya saya teringat kalau kita bisa mengganti transisinya menjadi kesamping, walau ada beberapa yang tetap butuh layar lebar tapi kekurang-jelasan itu dapat diatasi.

RECOMMENDATION
Novel ini saya rekomendasikan dibaca melalui tablet atau buku print out. Dijamin bakal lebih menyenangkan melihat gambar-gambar karya Aqil.

PLOT
Menceritakan soal perjuangan, tentu kurang pas jika tidak ada kata-kata semangat. Di novel ini, kita akan menemukan banyak kata-kata semangat bertebaran. Bisa jadi amanat dan juga bumerang bagi mood pembaca yang lebih suka show bukan tell. Namun hal ini juga bisa jadi penguat cerita karena lawan kata semangat adalah keputusasaan. Dan itulah kunci dari cerita apa yang akan terjadi selanjutnya.

“We can not undo what we have done.”

image

Biodata Penulis

STYLE
Membaca biodata penulis di akhir buku, saya menyimpulkan kalau ini memanglah cerita nyata sang penulis. Hebatnya di sini adalah diksinya yang bagus sekali. Nggak puitis tapi indah, nggak menggurui tapi lebih mirip kumpulan kata mutiara yang berhasil menyadarkan kita.

Seperti yang tertulis di kisah ini tentang sabda Allah yang sampai pada telinga Amalia melalui banyak perantara, lewat tulisan ini Amalia Prabowo pun berhasil menyampaikan sabda-sabda Allah.

SUGGESTION
Kekurangan dari novel ini ada pada gambar yang terlalu besar seperti yang saya katakan sebelumnya dan gejala disleksia yang dijabarkan masih kurang kuat atau banyak. Juga dengan alurnya yang cepat sehingga ada hal yang terlewat contohnya bagian Satria yang menunjukkan tanda-tanda iri karena di album foto isinya Aqil semua. Seharusnya itu bisa menambah jumlah halaman buku ini dan menciptakan cerita yang lebih banyak. Atau setidaknya berikan penjelasan atau mungkin sedikit alasan kenapa kebanyakan Aqil.

OVERALL
Saya sangat suka cerita ini! Wajib dibaca siapa saja yang membutuhkan pembelajaran hidup. Yang membutuhkan “tamparan” lewat tulisan kalau hidup ini nggak cuma tentang diri sendiri. Hidup nggak ada yang sempurna sekalipun kita sudah merencanakan sesuatu dengan keras untuk sempurna. Kita nggak pernah tahu selanjutnya. Hanya Allah. Karena Dialah segala-galanya.

“Ada orang lain dalam pusaran hidup kita, ada sisi dunia yang lain yang tak pernah kusadari.”

END
Kalau saya bagian-bagian terakhir baca sambil mendengarkan lagunya One Direction yang Infinity. Cocok banget! Terus setelah selesai baca, sambil buat resensi, backsound-nya Canon Rock. Whooah! Rasanya seperti sebuah film yang telah berakhir lalu di layar hanya terdiri dari kredit pertanda kesuksesan film.

“Apa yang membuatku melangkah dengan ringan dan penuh canda? Perubahan cara pandang!”—Ini kutipan favorit kedua saya.

Akhir kata, semoga film Wonderful Life juga sama suksesnya dengan puncak kejayaan Amalia Prabowo dan buku Wonderful Life ini. Amiin!

Trailer Film: https://youtu.be/KzVPoPHdc_g
Ost. Film: https://youtu.be/fiKeejZ2DKQ

image

Dan saya pun setuju dengan ini.


Quotes

​”Membaca itu adalah jendela dunia.”—hlm. 5

“Masa depanku, hidupku, sepenuhnya milikku!”—hlm. 7

“Aku percaya penolakan hanyalah soal penundaan. Aku masih bisa membuat rencana baru, menjalankan, mengevaluasinya dengan seksama. Jika tidak sekarang, suatu hari nanti pasti akan kudapatkan. Pasti.”—hlm. 14


UPDATE 8 Oktober 2016

Hai! Wuih rasanya seneng banget deh hari-hari ini. Resensi ini saya publikasikan tanggal lima, mepet deadline. Saya nggak tahu kapan mau diumumin, kukira butuh waktu semingguan lebih. Ternyata tanggal 7 sudah langsung diumumin via twitter dan instagram.

Saya tahu pengumumannya waktu ekskul pramuka Jumat kemarin. Ketika buka handphone ternyata ada notif masuk dan itu mention dari penerbit KPG yang menginformasikan kalau saya salah satu pemenangnya. Whoaaaah saya nggak nyangka pake banget kalau saya bisa seperti ini.

image

Pemenang #WLReadingChallenge Wonderful Life


Alhamdulillah banget saya bisa mewujudkan cita-cita jangka pendek saya. For the first time saya bisa kayak gini. Padahal saya sudah sedikit frustasi dengan kemajuan ngeblog saya (baca artikel Monolog). Dan akhirnya saya bisa membuktikan kalau saya bisa.

Niat saya ikut lomba ini dominan pada keinginan untuk pembuktian diri. Kalau saya bisa menjadi book reviewer. Saya bisa dipercaya. Dan saya bisa.

Bahkan kalau dipikir-pikir kegiatan ini bagi saya bukan Reading Challenge. Tapi Penantangan Diri. Sanggupkah saya menakhlukan kelemahan diri sendiri? Lewat kegiatan inilah saya tantang diri saya untuk mengalahkan reviewer lain. Lewat kegiatan inilah saya gunakan untuk meningkatkan kualitas saya. Sebagai ajang menakhlukan diri sendiri.

Karena itu, saya sangat-sangat nggak nyangka bakal menang. Semoga ini menjadi awal baik untuk kesuksesan karir ngeblog saya. Amiin. Fighting!!

Iklan

8 thoughts on “[Book Review] Wonderful Life by Amalia Prabowo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s