[Book Review] Wheels and Heels by Irene Dyah Respati

Pangeran memalsukan citra saat bertemu Cinderella di belantara

Cinderella memalsukan busana saat berdansa dengan Pangeran di istana.

Dan toh, mereka bahagia selamanya

Abhilaasha tak bisa lepas dari gaun mewah, high heels, dan dunia gemerlapnya. Sedangkan, Aidan selalu lekat dengan kemeja aneh, serbakaku, dan dunia otomotifnya.

“Orang bilang wanita datang dari planet Venus dan pria datang dari planet Mars. Kurasa dia makhluk dari luar galaksi Bima Sakti. Dari gugusan tata surya antah berantah. Jadi wajar bila aku tidak pernah merasa cukup mengenalnya.”—hlm. 300

Dua dunia berbeda itu mempertemukan Abby dan Aidan.

“Kamu tahu kenapa banyak orang bisa sukses tanpa usaha keras? Karena mereka mengenal orang-orang yang tepat. Itu!”—hlm. 84

Mereka berperan, berpura-pura, beradu dalam rahasia.

Ketika kejujuran ditunjukkan oleh masing-masing pemeran, apakah semua akan tetap sama?

“Aku kenal betul lelaki yang ini, By. Dia layak diperjuangkan.”—hlm. 99


“Karakter tokoh utama yang kuat ditambah kisah cinta yang rumit dan nggak biasa jadi kombinasi cerita yang sempurna” – Evi Mauliza (minvi), admin Twitter @NovelAddict_

Editor’s Note
Novel dengan tema unik, menyuguhkan sesuatu yang baru, dengan teknik bercerita yang membuat nyaman pembacanya. Ketika sampai ending, pembaca bisa jadi terbawa suasana dan menginginkan karakter tokoh pria di novel ini benar-benar hadir di dunia nyata.

image

Cover Novel

ISBN13 9786020275475
Paperback, 320 pages
Published November 4th 2015 by Elex Media Komputindo
Rating ⭐⭐⭐⭐


Novel Wheels and Heels ini dapat dibeli di Bukupedia. Klik di sini untuk informasi selengkapnya.


“Aidan itu kayak kulkas, tinggi, besar, persegi, tertutup, dingin.”

Saya sendiri sebenarnya nggak terlalu suka kalau ada tokoh cewek (Abby) yang genit. Rasanya risih. Tapi di novel ini saya malah merasa kalau sisi negatif perempuan yg seperti ini menimbulkan cerita luar biasa menarik. Sama seperti yang dikatakan penulisnya di halaman penutup. Novel ini berdasar cerita teman-temannya, riset, dll.

Ditambah dengan selera humor yang subhanallah bikin ngakak nggak henti-henti, penulis berhasil membuat saya menyukai karakter Abby yang selalu menggoda Aidan dengan kecantikan dan keseksiannya, yang bikin Aidan salting terus mukanya merah.

Kelucuan lain juga muncul karena Aidan yang alergi kucing. Kalau kalian baca adegan itu pasti ngakak pas bayangin Aidan lari terbirit-birit menjauhi Tumi. Ya Allah, si Aidan yang kayak kulkas gitu ketemu kucing langsung lari! Ckckck polos banget pasti mukanya 😂

“Jangankan pria sepertimu, bahkan kucing jantan pun, Tumi, bisa jatuh dalam pesonaku. Hati-hati.”—hlm. 179

Tapi tenang saja, kebanyakan humor tidak membunuh rasa lain dari novel ini. Malah menguatkan rasa sedih dan marah ketika konfliknya muncul. Rasanya tuh kayak kita diajak ketawa dan bahagia dulu terus akhirnya jantung kita ditikam pakai belati di akhir bab. Bikin sesak napas pas tahu kalau Aidan dapat kabar buruk mengenai hubungannya dengan Abby yang bahkan belum dimulai.

Aidan dan Abby tuh perpaduan yang pas.

“Karena aku menyukaimu, Abby. Itu yang lebih penting.”—hlm. 203

Awalnya saya menanti sekali kapan konflik itu muncul, setelah muncul saya malah nggak kuat. Aseli nyebelin banget. Twist dalam novel ini juga bikin tercengang walau nggak diceitain lebih rinci. Tapi saya paham kok kalau semua itu hanya “uji coba” yang dibuat oleh Poeny (bener ga sih nulisnya?).

I don’t want you to give up on me, Abby. Karena aku juga akan memperjuangankanmu. Bahkan ketika situasi menjadi sulit sekalipun.”—hlm. 266

Ending-nya bagi saya manis, saya terima walau masih kurang puas sama penjelasan kenapa twist-nya begitu. Setelah Poeny melakukan hal itu ortu Aidan nggak komentar apa-apa? Kok kayak dipangkas gitu alurnya, rasanya jadi kecepatan?

Yang kurang dari novel ini ada di selipan informasi, bagi saya novel seperti ini lebih sering dibaca perempuan daripada laki-laki. Sedangkan dunia otomotif cukup berpengaruh di novel ini, karena itu sebaiknya informasi-informasi lain juga ditambahkan.

Overall, tema kepercayaan yang diangkat sangat kental di cerita ini. Bagi kalian pembaca cerita ringan tapi menyentuh dan memiliki moral value yang menyadarkan diri, kalian wajib baca novel “tumbarkemirijahe” alias Wheels And Heels ini!!! Dijamin ngakak nggak habis-habis dan deg-degan

sama tokoh Aidan.

“Sungguh mengherankan bagaimana otak manusia bekerja. Setelah semua yang terjadi antara aku dan Ibu, ternyata rumah itu masih merupakan tempat paling aman bagiku saat terpuruk.”—hlm. 275


Quotes

“Nic! Artalasmana yang itu?”—waks, siapa sebenarnya Artalasmana ini? 😮

“Abby, sometimes we are not okay and it is okay…“—hlm. 147

“Karena kaki-kakimu sulit diabaikan. Nah, puas sekarang?”—hlm. 152


image

Wheels and Heels di IJakarta

Resensi ini dimasukkan dalam #TantanganBacaGRI bulan September 2016 dengan tantangan Buku Bacaan Dari Perpustakaan.

Yeah, saya menyelesaikan tantangan ini dengan membaca buku dari IJakarta. Klik disini untuk link novel Wheels and Heels di IJakarta. Follow akun Ijak saya juga ya:D Pramestya Ambangsari

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s