[Book Review] Another Time in Jogja by Cora Pandu Aslamic

image

Cover – Dok. Pribadi

Putus dari Ardi, membuat Cila hijrah ke Semarang. Semua kisah sedihnya ditulisnya dalam sebuah novel. Untuk melupakan kisah getirnya, Cila bergabung di komunitas backpacker. Di sanalah ia bertemu Bagas, yang menumbuhkan benih cinta di hatinya. Tak disangka, novel Cila diterbitkan. Ardi yang kebetulan membacanya, merasa bersalah dan kembali menemui Cola. Di saat bersamaan, Bagas merasa terluka karena Cila memilih cinta lamanya.


Dalam kesedihannya, Bagas memutuskan bekerja di Sulawesi.
Suatu ketika, Cila bertemu Bagas kembali. Ia tak lagi jauh dan cintanya masih ada untuk Cila. Cila merasa bimbang.


Akankah ia merajuk cinta bersama Ardi atau menerima cinta Bagas kembali?

***

Siapa yang nggak suka dengan blurb asik seperti ini? Ini penggambaran cerita yang luar biasa bagus dan bikin terbawa suasana. But, the real isn’t like that.ūüė≠



Mulai dari yang saya bold itu nggak ada di cerita. Bagas ke Sulawesi ketika hubungan mereka sedang bagus-bagusnya dan ketika Bagas kembali, yang ada Bagas malah milih menjauh dari Cila untuk sebuah alasan yang menjadi twist cerita ini. Terus yang terpenting, Cila selalu punya satu kalimat komitmen yang akan merubah hidupnya. Benar-benar berbeda dengan blurb yang disajikan.


Another Time In Jogja
Penulis: Cora Pandu Aslamic
Editor: Ariata
Penerbit: Sheila Book Fiction
Cetakan I tahun 2015
Tebal: 183 hlm.
ISBN: 9789792951998

Sekuel dari Once Upon A Time in Jogja


Novel Another Time in Jogja ini dapat dibeli di Bukupedia. Klik di sini untuk informasi selengkapnya.


SINOPSIS

Cila hijrah ke Semarang untuk melanjutkan kuliah sekaligus move on dari Ardi si ‘bad boy gagal’ setelah disakiti..

Dalam kesendiriannya Cila mencoba membuka hati untuk orang lain. Ia bertemu dengan seniornya‚ÄĒFico di sebuah toko buku, mereka menjadi dekat karena Fico yang sering menjailinya lalu mereka menjalin hubungan.



Tak selang beberapa lama hubungan itu kandas karena Fico ng-ilfeel-in.
Ia pun malas menjalin cinta lagi, lalu mencoba mencari kesibukan yang ia pikir dapat membantunya move on.
Ternyata Cila malah bertemu dengan lelaki benama Bagas. Sama-sama memiliki ketertarikan dalam travelling membuat mereka semakin dekat dan akhirnya jatuh cinta.

Ketika mereka sedang berada di hubungan yang menyenangkan, Bagas harus bekerja ke Sulawesi. Meninggalkan Cila di Semarang. Pada saat itu pula Ardi datang kembali, membuatnya bernostalgia tentang cinta lama yang pernah terjalin.

Kata orang, hubungan jarak jauh lebih banyak gagalnya daripada berhasilnya. Apalagi ada si masa lalu. Bagaimana dengan Cila? Akankah ia berhasil dengan Bagas atau kembali dengan Ardi, orang yang telah menyakiti hatinya?

***

Bagi saya, cover Another Time in Jogja ini sangat menarik perhatian juga blurb yang menipu saya itu. Tapi entah mengapa diberi judul itu karena saya rasa kurang cocok. Cerita ini lebih banyak berkisah di Semarang (read the blurb). Nggak sinkron, kan, ya? Mungkin ini strategi marketing-nya.

Membuka halaman ketiga, lagi-lagi saya dikecewakan. Saya kurang suka dengan gambar pembuka bab. Memang tugu Jogjanya terlihat jelas tapi background-nya itu kurang mengenakan. Lebih baik cari sudut pandang lain yang tidak memperlihatkan toko di belakang tugu. Atau bisa dengan ilustrasi saja sepert covernya.

image

Ilustrasi Novel – Dok. Pribadi

Penggunaan POV 1 dalam cerita serta narasi yang pendek-pendek membuat Another Time In Jogja menjadi seperti buku harian. Ceritanya seperti remaja labil yang kebaperan dan gamon. Ehm bisa dibilang seperti novelnya Dwitasari yang Raksasa Dari Jogja. Pernah baca? Yaah mirip itulah.

Resensi Novel Dwitasari:

Memeluk Masa Lalu

Jatuh Cinta Diam-Diam

Saya nggak mengerti dengan proses penulisan ini. Konflik yang ditampilkan masih sangaaat kasar, ketika adegan marahnya nggak di-pol-in, malah turn off jadi lucu-lucu garing. saya nggak jadi emosi, jadinya ilfeel.

Mulai pertengahan rasanya penulis mulai merubah sedikit gaya penceritaannya. Kali ini lebih menyenangkan untuk dibaca walaupun masih kurang teratur membuat chemistry cerita.
Di bab-bab awal dan akhir ‘kerikil-kerikil’ sedikit bertaburan. Sedikit mengecohkan. Saya kira Cila bakal sama Fico yang karakternya kuat, iseng, lucu, keren. Ternyata cuma sementara.

Lalu penulis memunculkan Efran yang kalem, tajir.
Dan akhirnya ketemu sama Bagas yang pengertian (menurut Cila).
Bagi saya, karakter terkuat emang di Fico. Sayangnya penulis nggak memberi waktu lebih lama buat Fico berperan. Dia cukup asik untuk menjadi tokoh figuran dibanding Ibung Eep.

Saran aja untuk penulisnya, dieksplore lagi karakter tokoh-tokoh agar bisa membuat konflik yang mencapai klimaks terhebat. Andai kata penulis membuat Efran menjadi penghalang hubungan selain Ardi, saya rasa cerita ini akan lebih baik.

Selebihnya cerita ini cukup menghibur karena kadang ada selipan banyolan-banyolan.

Novel ini merupakan sekuel dari novel Once Upon A Time in Jogja tapi nggak masalah kok langsung baca novel iniūüėÉ

Iklan

One thought on “[Book Review] Another Time in Jogja by Cora Pandu Aslamic

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s