[Sabtu Nongkrong] Pacaran Itu Nggak Penting!

Seminggu yang lalu saya jalan-jalan ke mal. Maklum jarang jalan-jalan ke tempat begituan. Setelah keliling lalu shalat ashar saya lewat timezone. Saat itu saya lihat laki-laki tinggi memeluk pinggang seorang wanita berjilbab syar’i (jilbab besar yang menutupi tubuh).

“Romantis ya,” kataku pada teman saya yang berjalan bersisian.

“Iya, tapi mereka udah nikah belum?” kata hatiku langsung berontak. Secara logika nggak mungkin mereka belum menikah, si perempuan jilbabnya udah syar’i banget lho. Nggak mungkin orang yang main-main dalam berhubungan rela berjilbab sampai segitunya karena menurut saya itu nggak mudah. It’s about religion.

Teman saya akhirnya juga berpendapat hal yang sama kalau mereka sudah halal.

“Idaman banget ya,”

“Apalagi itu cowoknya lebih tinggi dari si cewek. Ideal…” aku mengangguk setuju karena ini memang pikiran idealis para remaja, bukan? Lalu aku menambahkan sesuatu yang selama ini kupikirkan.

“Kalau lihat yang kayak gitu—pakaian tertutup, yang laki alim—tuh rasanya seneng. Tapi kalau lihat anak seukuran kita pakai pakaian terbuka, pacaran nggak karuan, rasanya malah jijik.”


image

Source: katakata.me

What do you think about this?
Seperti yang saya masukan di artikel sebelumnya, saya seharusnya belum memikirkan hal seperti ini. Tapi ketika dihadapkan dengan pemandangan seperti ini pikiran siapa yang nggak meloncat bersama ratusan harapan dan angan?

Ya Allah, mereka benar-benar luar biasa. Semoga itu bukan sekedar outfit.

Ok back to topic.

Menjadi seorang muslim—apalagi remaja yang ada di tahap hitam-putih atau abu-abu or anything you name it—ada banyak hal yang harus dipertahankan dan diperjuangakan. Terutama iman.

Godaan itu ada banyak. Mulai dari teknologi yang kelewat berkembang sampai menjauhkan yang dekat, mendekatkan yang jauh; pergaulan yang terlalu asik; sampai barang haram yang berasa ‘manis’. Mendapat rasa cinta dari Allah juga sebuah godaan bagi saya. Godaan untuk menyalurkan rasa cinta itu secara berlebihan kepada manusia, godaan untuk ikut arus kehidupan cinta remaja masa kini.

Baca juga: Give Me New Best Friends

Tapi saya selalu berpikir, bakal kedengeran sok bijak nih, kalau saya sampai ikut-ikutan berpacaran dan berhubungan lainnya, saya bakal jadi mayoritas yang salah. Padahal bapak saya sudah pernah berpesan kepada saya yang intinya; jangan jadi orang mayoritas yang mengikuti arus salah, lebih baik jadi minoritas yang benar.

Kelihatan kan kalau saya ini pelopor remaja anti pacaran? Hehe. Menurut saya, pacaran itu belum penting di usia labil seperti ini. Banyak mudhorot-nya daripada manfaatnya. 

Kalau orang pacaran tentu bakal putus terus punya mantan kan? Dan yang namanya mantan itu sesuatu bekas. Kok mau jadi bekas? Seklipun besoknya nikah, tetap bakal ada kata mantan bagi orang yang pernah menikah. Karena itu saya nggak mau jadi bekas. Kalau bisa beli baru kenapa nggak?
Pacaran juga bikin kita nggak bebas mencintai banyak orang, apalagi buat yang punya oacar posesif. Bah! Udahlah, lupakan pacaran. Pikirin jodoh masa depan aja. Lho?

Iya, kalau kamu mikirin jodoh masa depan, kamu bakal berusaha mempersiapkan diri untuk si doi otomatis kamu akan terhindar dari dosa dan mendapat pahala karena berbuat baik.

Alasan lain yang paling kuat kenapa saya sangat berusaha nggak tergelincir adalah harapan. Saya selalu berharap mendapat yang terbaik tak terkecuali untuk jodoh esok hari. Kalau saya terus berusaha menggunakan potensi diri untuk perbaikan, saya yakin saya akan mendapatkan hak saya suatu hari. Paham nggak? Kok enggak sih?
Intinya, I try to be a great woman for my beloved future. Aseek. Haha.

image

Source: katakata.me

maaf kalau ada yang menyinggung perasaan

Lho kok udah selesai Sabtu Nongkrong-nya? Apa dong hubungannya sama ke mal?

Oh itu, hubungannya ada di paragraf terakhir. Dulu saya sempat setuju sama, “Menjadi pasangan itu harus saling melengkapi.”

Tapi setelah sebuah iklan kecantikan dan novel Sabtu Bersama Bapak, saya berubah haluan.

Baca juga: Jangan Nonton Film Sebelum Melakukan Ini

“Menjadi pasangan itu harus sama kuatnya. Biar bisa membangun kehidupan yang baik. Kalau satunya kuat satunya lemah, visi misi nggak bisa tercapai.”

Ya, sama kayak nyari pasangan. Pasti maunya yang seimbang. Kalau “level” di bawahnya pasti nggak ada yg mau, kan? Seperti sepasang sandal, namanya aja “pasangan” jadi kalau yang satu kegedean atau kekecilan, nggak bisa disebut pasanganlah 😎

Pasangan di cerita saya juga (Insyaallah) begitu. Mereka sama-sama memiliki iman yang kuat hingga akhirnya menjadi pasangan yang sekali lihat bikin ngiri dan berharap abis suatu hari bisa melebihi kebahagiaan mereka.

Haaah benar-benar ya kalau gini, benar-benar bikin deg-degan menunggu dan membayangkan the prince charming. 😍
Terima kasih telah membaca artikel absurd saya. Semoga ada yang berguna walau sedikit. Lain kali artiksl ini bakal saya perbaiki lagi, atau jadi essay aja sekalian soalnya kentara banget belum mateng tulisaannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s