[Book Review] Satu Mata Panah pada Kompas yang Buta by Suarcani

​Judul: Satu Mata Panah Pada Kompas Yang Buta

Pengarang: Suarcani

Penerbit: Jendela O’ Publishing House

Cetakan I: Maret 2016

Tebal: 226 Halaman

Rating: 4/5 bintang


Novel Satu Mata Panah Pada Kompas Yang Buta ini dapat dibeli di Bukupedia. Klik di sini untuk informasi selengkapnya.


Kompasmu, apakah kamu memperhatikannya? Ada dua arah di sana. Utara dan selatan. Sama halnya seperti matamu sendiri, arah itu menyelamatkanmu dari kesesatan.

Tapi kompas milikku buta. Tidak ada utara selatan dalam hidupku, semua hanyut dalam ketakutan dan masa lalu. Lima belas tahun penjara mencuri jarum kompasku dan setelah bebas, aku pun masih belum tahu ke mana arah hidupku.

Aku pembunuh, korban hasrat yang menyimpang. Dunia luar menungguku, berpura-pura menyambutku dengan semarak, untuk kemudian kembali meremukkanku dalam ketakutan. 

Aku butuh jalan, butuh mata kompasku. Apakah kamu bisa membantuku menemukannya?

Aku Ravit, bekas tahanan yang kini kembali terpenjara rasa takut.


SINOPSIS

Ravit akhirnya keluar dari penjara. Seharusnya ia sangat senang keluar dari tempat yang pengap dan sempit itu. Seharusnya ia lega bisa bisa menghirup udara segar. Seharusnya ia senang memeluk kebebasan. Seharusnya…

Tapi ini dunia nyata bukan dunia ideal. Ravit tidak bahagia, ada perasaan takut yang mencekam dirinya.

Keluar dari penjara, terpuruk di Depok, bertemu Ryan, melarikan diri ke Bali. Lalu semua terjadi, segala hal-hal yang tidak terjangkau akal sehat. Pengalaman-pengalaman aneh yang entah bagaimana, mampu membuatku merasa lebih ringan.

Dan bertemu Uci.

Apakah Uci orang yang tepat untuk memanduku? Bagaimana jika suatu saat dia dia tahu aku mantan napi, seorang pembunuh. Aku takut menghadapi tatapan mereka dari setiap orang yang kutemui, takut .ereka ketakutan lalu mencemooh, mengira aku akan membunuh setiap dari mereka yang tahu.

(Dikutip dari isi novel)


Akhirnya resensi novel ini saya terbitkan di blog setelah menunggu dua bulan kepastian salah satu web yang ingin mempublikasikan resensi ini. Tapi nyatanya nggak jadi😥😭

Sebelum memulai membahas isi novel ini saya ingin mengatakan bahwa saya suka bahan covernya, tapi tidak dengan ilustrasi matanya. Ya, mungkin beberapa dari kalian ada yang paham dengan ‘mata satu’. Itu terlalu sensitif bagi saya.✌

Memasuki bab awal, saya merasa diberi cukup banyak nasehat dari Om Rus—satu-satunya keluarga Ravit yang tersisa. Sangat moralable tapi sepertinya bahasa yang digunakan sedikit kurang pas jika dibayangkan orang lain di dunia nyata yang mengatakan. Mungkin karena terlalu baku? Entah, ini subyektif sih.

Contohnya seperti ini:
“Sungguh, tempat tertutup begini hanya akan mengingatkanmu pada penjara. Lihatlah alam. Lihatlah langit biru. Matahari, cahaya, dan riuhnya dunia. Kamu tahu, alam itu punya energi yang besar untuk meluruskan jiwa-jiwa yang tersesat,…”

Novel ini adalah pemenang utama lomba yang diadakan penerbit JOPH dengan tema Way Back Home atau penyembuhan diri atau pencarian jati diri. Dengan mengangkat isu sosial yang aktual, budaya, serta cinta—saya rasa novel ini memang pantas memenangkan lomba karena ada banyak isu yang dibeberkan penulis seperti kekerasan seksual, politik di Bali, bahkan sistem kepercayaan yang sangat kental.

Ditambah dengan satu keunikan yang mendominasi adalah diangkatnya kehidupan Bali dari segi budaya, kepercayaan, dan juga alam. Hal yang jarang ditemukan di novel Young Adult.

Untuk informasi, novel ini memuat beberapa adegan dewasa, bukan adegan sepasang suami istri melainkan kekerasan seksual seperti yang saya sebutkan tadi. Jadi, saya sarankan pembaca sudah cukup umur membaca cerita bergenre ini.

Dengan menyelang-nyelingkan alur setiap bab, SMPKB ini terkesan bergenre misteri. Setiap bab pembaca akan diberikan clue atau pengungkit benang merah sehingga saya merasa ingin segera tahu apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu Ravit. Kenapa Ravit bisa menjadi pembunuh? Inilah kelebihan dari si penulis. Sangat baik dalam menyembunyikan lalu mengungkap rahasia. Saya pun sempat merasa ada hal rancu dalam novel ini. Ternyata itu merupakan clue yang sangat halus.

Saya menyukai bagaimana penulis berperan menjadi tokoh utama (POV 1). Cerita dapat disampaikan dengan baik dan lancar. Tak kurang karakter yang dimiliki Ravit serta penggambaran Ravit mengenai karakter lain. Dapat diterima dengan baik.

“Apa artinya kebebasan ini jika pada akhirnya aku kembali dipenjara oleh ketakutan?”

Rasa konfliknya juga pas, terus menanjak menegangkan. Hingga klimaks saya dibombardir oleh banyak twist yang mencengangkan. Tak disangka, di akhir cerita pun ternyata masih ada banyak rahasia yang penulis luapkan.

Konflik mengenai sebab-akibat Ravit membunuh yang diceritakan penulis di akhir cerita memiliki bagian yang mudah sekali tebak. Cerita yang terlalu mainstreem tapi lagi-lagi diakhiri twist yang hebat.

Tapi twist akhir itu mengurangi rasa dari twist sebelumnya. Twist tentang siapa sebenarnya Uci sedikit merusak cerita masa lalu Uci sendiri. Karena twist yang terakhir itu, saya jadi nggak fokus sama masalah masa lalunya Uci.

Saya suka endingnya. Damai, penuh harapan akan masa depan.

Kekurangan dari novel ini ada pada penggambaran suatu lokasi di Bali secara panjang membuat saya sedikit bosan. Memang menurut saya itu sangat membantu dalam pembuatan alur cerita perjalanan, tapi jika terlalu panjang serta minimnya interaksi antar tokoh, pembaca pasti akan bosan.

Typo di beberapa tempat juga mengurangi rasa nyaman ketika membaca. Seperti ketiadaannya spasi di beberapa tempat dan hilangnya tanda petik untuk sebuah pernyataan langsung. Contoh pada halaman 98: “Di atassana,” seharusnya “Di atas sana,”.

Selesai membaca Satu Mata Panah Pada Kompas Yang Buta, seperti ada satu kutipan yang mewakili keseluruhan cerita dan pesan moral.

“Adakalanya masa lalu harus diabaikan. Semua memang harus terjadi, akibat susunan dari karma.”—hlm. 118

Novel ini juga memberikan saya pemikiran bahwa kita hidup saling berdampingan dengan perbedaan. Untuk itu kita dituntut agar tetap toleransi. Dan sebagai umat beragama, hendaknya kita menjalankan agama dengan sungguh-sungguh. Itulah yang saya dapat ketika membaca cerita tentang umat Hindu dan kepercayaannya. Mereka sangat menghormati Tuhan mereka dan melaksanakan kewajiban dengan sebaik mungkin. Semangat hidup yang patut dicontoh seluruh manusia.

Quote:

“Ke mana tubuhku dibawa, ke sanalah kebahagiaan dengan ketakutan yang tertatih di belakangnya itu, turut serta.”—hlm. 5

“Setiap arah akan membawa kita ke satu jawaban, hanya saja, manusia kadang tidak tahu apa yang sebenarnya mereka tanyakan.”—hlm. 47

“Ada beberapa pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu dicari jawabannya. Kadang, jawaban itu akan muncul sendiri jika waktunya tepat.”—hlm. 87

“Yang penting, hidup sudah sepenuhnya di tanganmu sekarang. Kompasmu sudah memiliki mata arah, tidak sepenuhnya kosong seperti kemarin-kemarin.”—hlm. 221


Terima kasih untuk kak Frida yang memenangkan saya di blog tour #SMPKB, terima kasih juga buat penulisnya kak Arik dan penerbit JOPH.

Semangat berkarya kak! 😄

Iklan

One thought on “[Book Review] Satu Mata Panah pada Kompas yang Buta by Suarcani

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s