[Sabtu Nongkrong] Jangan Nonton Film Adaptasi Novel Sebelum Melakukan Ini

Maaf #SabtuNongkrong edisi pertama bulan Agustus harus telat pake banget. Kelelahan terus tidur awal. Nggak nanya. Kali ini saya mau ngomongin Novel yang Diangkat ke Layar Lebar.

Tahun 2016 ini ada banyak novel-novel Indonesia difilmkan contohnya Beauty and the Best, Raksasa Dari Jogja, My Stupid Boss, Koala Kumal, Rudy Habibie 2, Sabtu Bersama Bapak, dll. Yah itu cuma bagian kecilnya. Karena masih ada deretan jadwal film tayang lagi!!👏

image

Source: Wikipedia

Terus 11 Agustus ini akan ada Winter In Tokyo. Film yang diadaptasi dari novel bestseller-nya Ilana Tan. The Most Mysterious Indonesian Author.

Melbourne-nya Winna Efendi setahu saya juga sedang proses shooting. Critical Eleven yang terkenal banget di tahun 2015 udah dapet Ph, sekarang lagi proses skenario. Novel mana lagi? Kalau disebutin bakal habis satu halaman A4 sendiri 😂

Nah. Di sini saya mau berbagi cerita soal novel yang difilmkan. Sebulan yang lalu, saya nonton film Sabtu Bersama Bapak, tapi nontonnya hari Selasa dan nggak sama Bapak. Ekspektasi saya, saya bakal dibuat berkaca-kaca sama bapernya saat dua kali baca novelnya. Tapi kalian tahu ekspektasi nggak selalu sejalan dengan realita.

image

Ketika saya menonton saya merasa “nggak sreg”. Bukan karena visualisasi yang jelek. Nggak! Bagi saya mereka tetap keren dan saya tetap sedih pas Satya ‘ketemu’ Pak Gunawan terus saling pelukan. Saya nggak sreg karena ini permasalahan saya sebagai noveladdict.

Saya ini salah satu dari sekian banyak orang yang (mungkin) cuma bisa menikmati salah satu karya yang sama saja. Kalau film ya film, kalau novel ya novel. Saya masih bisa menikmati novel berdasar skenario. Tapi kalau film berdasar novel, sepertinya saya harus mikir lagi mau nonton apa nggak filmnya.

Dan hari itu saya sadar soal hal tersebut. Jadi daripada saya nyinyir soal perbedaan itu, mending saya mikir dulu sebelum nonton. Then, what about Winter in Tokyo yang sangat saya sukai itu? Mari memikirkan kembali mau nonton apa nggak.

Menurut saya, saya suka sama acting para pemain. Mereka keren. Apalagi Cakra yang diperankan Deva Mahenra. Tapi karena perbedaan cerita hll. I hate myself bout it*… Karena perbedaan cerita dan saya masih terpancang pada alur novel, saya nggak bisa menikmati karya baru itu. Mungkin yang kedua kalinya nonton saya bakal bisa lebih enjoy.

Ini beberapa pantangan kalau nonton film yang diadaptasi dari novel.

1. Jangan kebanyakan minum, nanti kebelet dan nggak konsen. *apa-apaan ini!!*

2. Kalau kamu sudah baca novelnya, pikirkan apa kamu siap menghilangkan cerita yang berkembang dalam kepalamu menjadi cerita yang divisualkan (menjadi cerita yang umum diterima).

Mulai dari tokoh yang kamu idam-idamkan, latar yang menurutmu sangat pas, sampai soundtrack yang cocok untuk ceritanya. Semua yang kamu punya dalam imajinasi akan ‘hilang’ dan digantikan oleh pemeran yang diperkirakan mendekati cocok.

You must accept all those little things.

3. Setelah yakin, buat dirimu seakan nggak tahu alur ceritanya. Kenapa? Biar kamu tetap merasa terkejut dan penasaran hingga punya alasan untuk terus menonton. Tapi jangan dipaksain nanti malah jadi resah.

4. Buat dirimu relaks, nggak usah mikir “Oh setelah ini kan adegan yang bapering itu” nggak perlu! Karena kalian harus lupa sama alurnya, ya kan.

Film itu sebuah karya baru yang asalnya cuma text menjadi visual. Jadi kita akan terus dikejutkan dengan perubahan-perubahan mendasar karena imajinasi banyak orang yang berbeda-beda harus disatukan menjadi karya bergambar.

5. Terakhir nih, jangan nyinyir soal perbedaan-perbedaan yang ada. Mari kita nikmati sesuatu yang baru dengan cara yang baru.😊

Lalalala begitulah cerita soal novel yang difilmkan.

I really hope you’re not kind of person like me. 😳

Jadi, kira-kira saya mending tetap nonton Winter in Tokyo nggak? 😕

Iklan

4 thoughts on “[Sabtu Nongkrong] Jangan Nonton Film Adaptasi Novel Sebelum Melakukan Ini

  1. Memang kalau sudah baca novelnya, nonton filmnya jadi berasa banyak yang dibuang ya adegannya. Kebanyakan novel yg difilmkan emang gitu. Hanya sedikit perkecualian saja. Misalnya The God Father, saya merasa puas baca novel dan nonton filmnya….

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s