[Sabtu Nongkrong] Tindak Pelecehan Mengintai Pelajar SMA di Temanggung

Tindak pelecehan menjadi hot topic di tahun 2016. Beberapa kasus mulai dari pedophilia, ekshibisme, sarkasme, dan lain sebagainya terus menanjak di bulan Januari hingga Juli. Mulai dari orang dewasa, teman sepermainan sampai anak balita yang masih belum tahu apa-apa atau siapa-siapa menjadi korban aksi gila.

Mengenaskan, menghawatirkan, serta meresahkan masyarakat terutama kaum hawa.

Beberapa hari terakhir saya kembali dikejutkan oleh cerita dari seorang teman, dia mengatakan kepada saya bahwa hari itu ia (UF) dan kedua temannya akan berangkat sekolah. Sebelum menyeberang jalan mereka melihat laki-laki 30 tahunan menaiki sepeda motor.

Laki-laki itu terlihat ingin menyeberang jalan namun ketika jalanan sudah lengang ia tak juga membelokan motornya.

UF merasa bingung dengan tingkah laki-laki berbaju biru tersebut. Ketika U. F dan teman-temannya hendak menyeberang, tiba-tiba pria asing itu memegang bahu UF. Seketika UF pun berlari jauh menyeberangi jalan.

Kasus sesperti ini sedang marak terjadi di Temanggung. Pada Jumat (29/7) kemarin, informasi kasus yang sama datang dari guru sosiologi bahwa korban pelecehan seperti itu sudah ada 5 anak di sekolah kami.

Kebanyakan dari mereka dilecehkan di sekitar jalan Jenderal Sudirmanbelakang Gumuk Lintang (bukit belakang sekolah SMP N 1 Temanggung). Daerah yang memang terkenal dengan tempat munculnya PK (Penjahat Kelamin). Namun tak urung pula para korban sebenarnya sudah diincar sejak keluar dari sebuah tempat. Biasanya sekolahan bagi para pelajar.

“Dari tadi orang itu liatin kita terus.” kata korban menyalurkan kalimat teman yang ada di lokasi yang sama ketika kejadian itu terjadi. Untung saja U. F segera berlari menyeberang sehingga ia tidak sampai di grepe-grepe lebih jauh seperti korban yang lain.

Dengan kejadian ini dihimbau kepada seluruh murid terutama siswi untuk terus berhati-hati karena tindak kejahatan seperti ini tak mengenal waktu dan tempat. Para guru juga meminta siswa-siswa untuk ikut menangkap para pelaku bersama guru dan juga polisi. Tindak pelecehan tersebut harus segera ditindak-lanjuti sebelum memakan lebih banyak korban.

***

Nah itu benar-benar berita yang belum jadi. Awalnya cuma mau aku tulis di blog, terus kepikiran buat dikirim ke kolom Citizen Jurnalism koran Tribun Jogja tapi gagal karena nggak dapat dukungan kalau berita ini sudah hot.

Sebenarnya masih ada fakta lain yang belum aku bahas di berita di atas seperti, sore harinya UF dapat cerita dari temannya (sebut A) kalau A juga jadi korban. 

Si A juga mau nyeberang jalan Sudirman. Kali ini dia lebih ke timur lagi dan tiba-tiba saja laki-laki yang diketahui memiliki ciri-ciri yang sama dengan pelaku UF, itu menggrepe dada si A. Untung lagi, si A lagi betulin jilbab, jadi yang kena tangan nakal itu cuma tangan si A, tidak dengan dadanya.

Gila. Gila. Gila. Gila. Aku nggak paham dengan jalan pikiran seperti mereka. Apa sih yang mereka pikirkan? Mereka itu kenapa?! Sumpah bikin emosi, rasanya kalau ketemu pengen kuhajar walau ekspektasi belum tentu jadi nyata.

Back to the facts. Cerita lain lagi yang ini aku sama sekali nggak mewawancarai langsung. Aku cuma dapat cerita dari teman kalau salah satu murid di sekolahku juga jadi korban tepat di depan gerbang sekolah. GERBANG SEKOLAH!!! biar dramatis

Pulang sekolah seorang siswi menjadi korban pelecehan. Tindakannya memang belum aku ketahui secara pasti, tapi aku tetap berspekulasi kalau ini mirip dengan si A. Karena banyak orang yang melihat dia menangis. Di pinggir jalan. Gosipnya ini ulah para pelaku pelecehan.

“Satu meter, eh, satu sentimeter setelah kalian keluar gerbang sekolah, sebenarnya kalian udah diincar.” aku merasa ini seperti ancaman bukan peringatan.

Gimana menirut kalian? Kasus seperti ini masih dikira salah paham? Dikira mereka cuma mau nanya sesuatu ke kita? Dikira mereka cuma main-main? 

HALLLOOO!! Ada lain lagi yang ngejutin aku. Kemarin, waktu buka twitter, aku nemu tweet pengaduan dan himbauan masyarakat Jogja kalau pelecehan terjadi di depan mata kepala pengirim tweet itu.

Dia berkata kalau di belakang Amplas dia melihat seorang pengendara motor laki-laki mepet ke pengendara motor perempuan yang sendirian. Dan si laki-laki itu langsung menggrepe dada si perempuan terus langsung pergi.

Si pengetweet itu juga berkata kalau sebelumnya ia sempat melihat mahasiswi menangis sambil memegangi dadanya tapi orang-orang di sekitarnya kelihatan seperti nggak tahu apa-apa. Kemungkinan mahasiswi itu juga menjadi korban. (Info dari twitter @destiariyani)

Ya Allah. Itu aja yang ketahuan, gimana yang nggak ketahuan?!

Please, buat siapa aja, jangan segan-segan bertindak refleks seperti memukul atau menangkis. Kedua hal itu memang tindak kekerasan, tapi kalau hak kita direbut mau terima gitu aja?

Kalau kita di serang, lawan balik untuk mengalihkan perhatian lalu cepatari tunggang langgang. Emang bagi perempuan ngelawan itu sepertinya bakal sia-sia kalau yang musuhmya laki-laki. Tapi guruku berkata, “Setidaknya kita nggak mati sia-sia.

Btw, sampai jumpa dengan #SabtuNongkrong di bulan Agustus. Doain ada giveaway acara syukuran atas ngeblog satu tahun ya 😝

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s