[Sabtu Nongkrong] Awal PeDeKaTe Sama Buku

Halo, saya kembali dengan revolusi dari Red Blue Story nih. Sebut saja Sabtu Nongkrong, hari Sabtu kita Nongkrong. Nggak ada arti khusus sih dari sebutan Sabtu Nongkrong, jadi kalau ada yang mau usul kepanjangannya juga boleeh. Hoho

Nah, Sabtu Nongkrong adalah curhatan atau artikel-artikel absurd yang ingin saya bagikan buat para pembaca blog ini. Semua berawal dari hobi saya yang sering kultwit nggak jelas di twitter.



Karena dunia twitter terlalu kecil (karakternya) dan karena seringnya saya monolog di twitter tanpa ada yang menggagas, maka saya putuskan untuk merangkum kembali kultwit saya menjadi artikel blog. Alias curcolan-yang-semoga-bisa-bermanfaat-walaupun-meragukan.

Pada kesempatan pertama ini saya putuskan untuk menyeret topik “Awal PeDeKaTe Sama Buku.

Dilihat dari banyaknya posting-an, udah kelihatan jelas kalau saya ini bookaddict. Saya baca hampir segala buku kecuali buku gambar porno. Mulai dari buku anak-anak, agama, remaja, kamus, buku pelajaran, sampai buku pr teman pun saya baca! Alhasil saya jadi anak yang lebih suka hidup di dunia susunan huruf dan kata daripada menyelesaikan kewajiban dunia nyata. please jangan ditiru 😓

Seperti kata pepatah “Tidak akan ada asap jika tidak ada api“. Saya pun nggak akan se-addict ini jika nggak ada penyebabnya atau pendukungnya.

Baca juga: Manfaat Membaca Buku

Dari kecil (umur empat tahunan) saya sudah suka membaca, biasanya sih ikut-ikutan kakak. Terus SD saya membaca buku ringan seperti komik Doraemaon, Monika, Bobo. Terus beranjak ke Conan, Kungfu Boy, Coraline sampai Shinchan. 😚

image

Source: http://sigitpriambodo.blogspot.co.id

Kelas 5 SD saya mulai baca novel. Yang paling saya ingat itu Gajah Mada karya Langit Kresna Hariadi. Tuh seri ada lima buku. Dan saya habiskan dalam waktu tiga-empat bulan. Dari situ saya suka sama novel lebih dalam karena saya mendapatkan manfaat luar biasa setelah baca Gajah Mada. Apalagi kalau bukan lebih tahu soal sejarah Majapahit daripada teman yang lain.

Beberapa kali sempat ngumpet-umpet baca novel remaja milik kakak, bahkan ada novel dewasa yang saat itu nggak saya paham kalau novel dewasa. Tau novel SUMI? Nah, itu sudah saya baca di kisaran umur 12 tahun.

image

Detik-detik terakhir masa SD, saya baca Winter In Tokyo-nya Ilana Tan dan banyak teenlit.

Saat itu saya juga berniat menjadi penulis. Saya membuat satu buah cerpen yang idenya cukup matang, tapi ya gitu, aliran mainstreem dan sinetron abis.

SMP saya semakin keranjingan baca novel. Hampir setiap minggu pinjam dua buah novel di perpustakaan. Salahkan saja perpustakaan yang kelewat seperti surga dan karena ada acara ‘siapa yang banyak-banyak pinjam buku, akan diberi hadiah sertifikat dan dua buku gratis!’.

Ho’oh. Perpus SMP saya itu benar-benar amazing. Dua rak tinggi isinya novel sumbangan murid baru atau pihak sekolah yang beli. Nggak bisa disangkal kalau liburan semester saya rela pinjam lima buah kartu perpus milik teman cuma buat stok bacaan pas libur.

Statistik membaca yang terus menanjak itu membuat saya juga terus berkeinginan menjadi penulis. Di awal kelas 9 (kelas 3 SMP), ada acara Kampus Fiksi di sekolah. Nggak mau nolak kesempatan, saya pun ikut. Berkali-kali ikut kompetisi menulis, waktu itu belum pernah menang juga.

Lalu saya sibuk ujian, novelisasi berkurang. Setelah selesai ujian, libur satu bulanan. Karena nggak ada kerjaan saya pun nyari lomba lagi. Terus iseng buka twitter, main twitter, follow sana, follow sini, lalu ketemu deh yang namanya giveaway.

Awalnya saya bingung apa maksud dari giveaway. Karena penasaran saya cek aja langsung. Dan ternyata itu acara bagi-bagi hadiah secara gratis!

Menang giveaway pertama kali tuh waktu kuis di twitternya penulis Alter Ego, Rani Puspita. Nggak nyangka banget bisa menang. Rasanya kayak, “Ajaib lo, Ya!”.

Saya juga mulai mengenal yang namanya mereview buku. Dahulu meresensi buku sudah ada dalam materi bahasa Indonesia kelas delapan. Tapi dulu, saya sama sekali nggak bisa buat resensi sendiri. Tidak menguasai. Maka saya pun googling, ‘cara meresensi buku’. Lalu muncul deh resensi pertama saya. Alter Ego karya Rani Puspita.

Baca juga: Resensi Novel Alter Ego by Rani Puspita

Sampai akhir tahun 2015, saya menggila oleh giveaway. Dari buku yang diinginkan sampai iseng-iseng. Dari acara-acara itu saya jadi selalu update sama buku-buku baru atau ter-hits. Sebuah pencapaian yang luar biasa.

image

Tapi memasuki 2016, saya mulai mengkeret. Saya berpikir, “Ini buku beneran pengin kamu miliki nggak? Kalau nggak mending nggak usah, kasian yang benar-benar pengin.”. Yah walau kenyataannya emang belum tentu saya akan menang.

Sampai sekarang saya jadi jarang ikut giveaway. Tapi setidaknya saya harus punya stok bacaan untuk bulan selanjutnya.

Jadi, begitulah asal muasal blog ini. Singkatnya dari iseng membaca-ketagihan-keinginan menulis-nothing to do-twitter-giveaway-resensi buku.

Baca juga: Acara Buku Pertama Saya

Sebenarnya masih banyak yang mau diomongin, tapi nanti buat part dua aja deh.

Lalu, gimana sama kalian? Buku apa yang membuat kalian jadi bookaddict lalu blogger buku? Yuk share di komentar. Pasti seru-seru nih! 😝

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s