[Flash Fiction] Balon si Emak

Kau tahu, kenapa hidup di desa membuat penglihatanku tetap terjaga jernih? Karena di desa minim pencemaran dan pemandangan baru seperti kota. Maka ketika aku diajak emak pergi ke kota, aku tak mau menolak. Bukan karena aku pengen tercemar, tapi sesuatu baru.

“Maak… Aku mau balon!” aku mulai merajuk dan berhenti berjalan ketika mata awasku keturunan dari emak menemukan balon berwarna-warni dijajakan bapak-bapak dengan sepeda.

“Emak belum punya uang, Nduk.” selalu seperti itu. Emakku ini pelit, nggak pernah membelikanku mainan, padahal teman-teman desaku saja sering dapat mainan baru.

“Pokoknya beli!” aku mulai menyeret ibu ke si penjual.

“Nduk!” sentakan emak menghentikanku. Beliau marah, aku tahu dari matanya yang memerah. Aku bertanya-tanya dalam hati kenapa emakku seperti itu. Merajuk sering aku lakukan, tapi tak pernah seperti ini akhirnya. Biasanya beliau akan menyeretku pergi atau langsung menggendongku dengan punggunggnya yang bungkuk.

“Nanti Emak belikan. Kalau Emak berhasil menjual mata Emak di rumah sakit.”

image


Flash Fiction ini diikutkan dalam Pesta Fiksi 04: Pilih Sketsa Tulis Cerita

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s