Purple Eyes by Prisca Primasari

image

“Karena terkadang, tidak merasakan itu lebih baik daripada menanggung rasa sakit yang bertubi-tubi.”

Ivarr Amundsen kehilangan kemampuannya untuk merasa. Orang yang sangat dia sayangi meninggal dengan cara yang keji, dan dia memilih untuk tidak merasakan apa-apa lagi, menjadi seperti sebongkah patung lilin.

Namun, saat Ivarr bertemu Solveig, perlahan dia bisa merasakan lagi percikan-percikan emosi dalam dirinya. Solveig, gadis yang tiba-tiba masuk dalam kehidupannya. Solveig, gadis yang misterius dan aneh.

Berlatar di Trondheim, Norwegia, kisah ini akan membawamu ke suatu masa yang muram dan bersalju. Namun, cinta akan selalu ada, bahkan di saat-saat tergelap sekalipun.

Paperback, 144 pages

Published April 30th 2016 by Penerbit Inari

ISBN13 9786027432208

⭐⭐⭐🌛

Setelah membaca beberapa review tentang novel ini, saya bisa menyimpulkan kalau Purple Eyes itu unik. Cerita fantasi tentang dewa kematian (Hades), misteri pembunuhan, dan kisah cinta Solveig-Ivarr dicampur jadi satu ditambah rasa sedih yang makin diperdalam setiap bagiannya. Perpaduan genre yang benar-benar aku suka!

Banyak hal yang sebelumnya bikin aku penasaran akhirnya terjawab.

Seperti kenapa judulnya Purple Eyes?

Karena novel ini menceritakan tentang pemilik mata biru tua yang hampir terlihat seperti ungu jika tertimpa cahaya remang-remang. Siapa lagi kalau bukan Ivarr Amundsen? Ivarr digambarkan sebagai laki-laki dewasa yang tidak ekspresif, bahkan terlihat seperti tidak memiliki perasaan atau hati. Jangan berpikiran macam-macam kenapa seperti itu, alasannya simpel banget dan saya cukup setuju.

Selain Ivarr, ada pula Solveig. Dia adalah perempuan berumur 24 tahun yang telah meninggal pada tahun 1895 di Inggris. Seharusnya dia sudah tenang di alam lain, tapi karena Hades memilihnya sebagai asisten, dia harus tinggal di suatu ruangan tempat para manusia transit untuk menentukan hidup. Mati atau bertahan.

“Pemuda itu masih hidup, dan gadis itu sudah mati.”

Karakter dari Solveig ini sangat perempuan Aristokrat. Masa lalunya yang memang tuan tanah, sikap dan sifatnya pun seperti ningrat. Halus dan baik. Sayangnya, dia terlalu ‘bodoh’ pada klimaksnya.

Bisa dibilang Purple Eyes memiliki tiga tokoh utama, selain pasangan di atas, ada satu yang menjadi kunci cerita berkembang. Halstein/ades/dewa kematian/Pluto/Hel.

Menurut mitologi Yunani, Hades adalah dewa yang sangat rupawan. Tubuhnya tampan dan gagah ditambah sayap besarnya. Hanya saja, yang namanya Dewa Kematian tetap saja kejam menurut manusia. Dia pun begitu. Tapi Prisca Primasari tidak menonjolkan sisi terkejam Hades setiap saat, sekalinya mau ditonjolkan langsung diubah karena ternyata ada hal lain yang membuat Hades berubah pikiran. Eh feelnya tetep dapet kok. Bikin deg-degan! 😝

Hades yang menyamar menjadi Halstein malah terlihat menyenangkan. Apa mungkin karena pengaruh Solveig yang hangat? Hmmm…

Kenapa genrenya fantasy? Kenapa penulis memberi nama tokoh dari nama dewa Yunani?

Ini berkaitan tentang ide cerita yang mengusung mitologi Yunani serta cerita mistis dan sangat sulit dipercaya di dunia nyata. Memang banyak cerita mengusung plot Dewa Kematian, lagi-lagi Prisca Primasari membuat cerita ini sangat menarik dan unik karena genre lain seperti Romance dan Misteri.

Bagaimana penulis bisa membuat plot sedemikian rumit namun romantis?

Bagaimana? Nggak tahu. Pastinya Purple Eyes memiliki konflik mengguncang sekaligus melegakan. Dari awal sampai hampir akhir aku nggak nemu tokoh lain selain tokoh di atas, bikin aku nggak punya tersangka pembunuhan Nikolai dan akhirnya malah nuduh ada yang aneh dengan Ivarr.

Kerumitan cerita terlihat dari kiat-kiat Hades mendekatkan Solveig dengan Ivarr. Sifat Hades yang kelewat misterius itu membuat aku merasa harus cepat menyelesaikan dan mengetahui siapa pembunuhnya dan alasan dibalik kemisteriusan Hades.

Purple Eyes juga memiliki sisi humor. Beberapa kali saya tertawa akibat obrolan Solveig-Hades. Bahkan sebelum baca novelnya, aku udah ketawa karena sinopsis dari kak

Nurina Sumarmanto.

“Seseorang sudah tidak dapat merasakan. Banyak orang yang kehilangan levernya membuat Hades turut menyelesaikan masalah.”

Menurut saya, ada kaitannya antara kenapa si pembunuh mengambil lever korban dan sifat Ivarr yang seperti tidak berperasaan. Pasti ada. Dan itu keren. Sederhana tapi luar biasa.

Seperti yang telah dikatakan di blurb. Setting tempat di Norwegia. Salah satu tempat terdingin di dunia karena dekat kutub utara. Penulis menggambarkan setting dengan pas. Setting suasana dan tempat juga ditakar dengan baik.

Endingnya saya menerima dengan ikhlas. Jenis ending yang damai tapi bukan happy ending.

“Tidak semua orang menganggap bahwa menikah dan yang lain-lainnya itu kebahagiaan. Tidak ada alasan khusus; itu hanyalah masalah pilihan.”—hlm. 125

Overall 3,5 untuk novel ini. Saya suka tapi belum sampai pada sangat menyukai. Konfliknya masih kurang dikit. Padahal saya sudah hampir mencapai titik terendah ketika Ivarr dan Solveig pisah. Mungkin kurang banyak lagi plot. Walau ceritanya memang udah ditakar dengan pas. Itu saja.

“Dia akan selalu mencintai Ivarr, sekarang maupun selamanya.”—hlm. 116

Btw, adakah yang tahu soal covernya yang seperti itu? Ada dua bagian yang digambar dengan timbul yang saya asumsikan sebagai pena. Benarkah?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s