17:17 by Sheva Thalia

image

Aku senang melihat angka-angka berdampingan dengan selaras, ketika ada banyak probabilitas yang bisa menunjukkan angka yang berbeda. Pada akhirnya, ada angka yang sama bertumpu pada satu titik. Sebelas dengan sebelas. Nol dengan nol. Tujuh belas dengan tujuh belas.

Raka dan Sara bertemu pada hari yang serba ganjil. Pada hari ketiga dalam suatu minggu di sebuah ruang tunggu wawancara. Di antara hujan deras serta lampu padam, menambah kenahasan hari keduanya yang gagal mendapat kerja.

Rupanya benar apa kata orang: bahwa jawaban ditemukan pada proses perjalanan. Raka dan Sara menemukan sesuatu yang menggenapkan hari mereka yang ganjil, di sela-sela musik, canda tawa, dan riuhnya Ibu Kota. Keduanya menikmati Jakarta yang sibuk. Menyusuri tiap jalan seolah waktu berjalan begitu lamban. Raka dan Sara mengobrolkan apa saja, sepanjang itu menahan kebersamaan mereka.

Akan tetapi, malam tidak pernah datang terlambat. Hari akan segera usai. Dan, di atas segala ketidakpastian yang ada di muka bumi, akankah keduanya bertemu kembali suatu hari nanti?

“Namun, tawa lepasnya barusan membuatku mulai bertanya-tanya, apakah aku bisa melihat tawa itu esok hari.”

Paperback, 192 pages

Published March 14th 2016 by Gramedia Widiasarana

ISBN13 9786023753772

URL: http://www.gramedia.com/categories/books/fiction-literature/romance/17-17.html

REVIEW

Ihir! Akhirnya selesai juga baca 17:17, sekarang cuma kurang baca 11:11 yang entah kapan mau bacanya. Hehe 😄

Jadi, setelah saya baca 00:00 saya langsung penasaran dengan 17:17 ini. Butuh waktu beberapa hari hingga akhirnya tuntas juga (padahal kalau emang niat, sehari semalam juga bisa langsung kelar, masalahnya waktu nggak mendukung saya, jadi lama banget deh).

Hal yang pertama kali saya pertanyakan adalah, “apa yang terjadi saat pukul 17:17?” saya tidak bertaruh banyak di novel ini karena saya memang belum sempat membaca reviewnya, itu membuat saya puas dengan cara saya sendiri.

Pertama kali kenalan dengan tokoh Raka dan Sara, saya langsung suka dengan karakter Raka yang cozy abis. Dia ini memang tipe orang yang dibutuhin pada hari yang sendu—sekalipun bertemu hari sial, ia akan tetap menunjukkan wajah tertawasama seperti perkataan Indy kepada Sara, “Coba aja perhatiin. Apalagi orang-orang kayak lo yang cepet patah arang, lo butuh orang-orang seperti itu.—hlm. 48

Sedangkan Sara memiliki karakter seperti perempuan pada umumnya. Sebagai perempuan metropolitan, ia dipaksa untuk tetap waspada setiap saat. Bahkan ketika ia sudah berbincang-bincang cukup lama dengan Raka, ia tetap menaruh kecurigaan kepada Raka.

Novel ini memberatkan diri pada percakapan-percakapan yang mengalir terus hingga berjam-jam. Suatu hal yang membuat saya bertanya-tanya, “Mereka ini kok bisa ya nyambung terus? Adaa aja yang dibicarain. Padahal baru kenal.“.

Selain itu, selipan informasi penunjang cerita juga membuat cerita lebih luas dan kadang membingungkan. Karena setelah saya membaca selipan informasi itu saya akan lupa apa yang sebelumnya dibahas. Tapi, saya menyukai bagaimana penulis menyelipakan info-info itu, sangat membangun keutuhan cerita.

Janggal. Pada saat Raka berpamitan sama Opa Yoga (hlm. 6), kenapa Raka meledek dengan menyebut Om? Tiga kali saya baca bagian itu dan spekulasi saya tetap ini typo atau emang Opa Yoga masih kelihatan muda terus diledek om yang nggak sesuai sama umur aslinya?

“Kalau bonsai itu rasanya udah nggak terlalu sehat lagi, potnya harus diganti …. Sama juga dengan hidup. Kalau rasanya lo jenuh, atau apa pun, lo nggak harus buang bonsainya. Lo cukup ganti potnya.”—hlm. 112

Sara seharusnya nggak tahu nama Raka. Kan awalnya cuma panggil mas-mbak (dari awal-hlm. 38), terus kok tiba-tiba Sara tahu nama Raka? (Hlm. 39) Hmm, itu masih menjadi pertanyaan saya yang suka sekali dengan detail. Atau mungkin saya yang kelewatan bagian itu?

Hanya ada satu typo yang keulang. Dua dong? Oh iya. Kalimat “Hujan membanjuri” pada halaman 23. Beneran typo kan ya?

Terlihat dari blurb yang membahas probabilitas dengan deretan angka dan ketika Raka menggambarkan “pencapaian mimpi seseorang” lewat diagram venn. Sepertinya kak Sheva ini menyukai matematika. Saya paham maksudnya, ada irisan, gabungan, atau blablabla tapi cara menyebut “seseorang berada di bagian mana” itulah yang kurang pas. Lebih baik disebut saja sesuai istilah matematika lalu diberi footnote.

“Kayaknya memang hanya sedikit ya, orang-orang yang kayak om lo itu. Tahu apa yang diinginkan, berjuang meraih itu, dan jadi apa yang dia mau. Tapi untuk orang lain, keadaannya bisa berbanding terbalik dengan cita-cita mereka sendiri.”

Ketika saya menghabiskan 17:17 sampai halaman 101, saya menyadari bahwa plot masih kurang perencanaan matang, rasanya masih datar, gejolak itu ada tapi belum mengguncang dan bikin tegang.

Kalau sebelumnya saya membaca 00:00 karya Ardelia Karisa yang lebih banyak menceritakan tentang cinta, kini saya berhasil membaca 17:17 karya Sheva yang menceritakan tentang cita.

Novel ini lebih banyak mengangkat tentang kehidupan Jakarta dari segi pekerjaan, harapan, dan kenangan. Hingga membuat porsi tentang cinta hanya sepertiganya.

“Harus ada pembicaraan yang dimulai, karena jika tidak, ia mungkin sudah akan  berjalan menuju gerbong kereta yang akan membawanya ke Stasiun Depok.”—hlm. 132

Dunia paralel juga menjadi benang merah cerita ini. Sebuah cerita mitos yang menggambarkan bahwa di dunia ini, ada aku dan mungkin juga beberapa aku di belahan dunia lain.

Yang terakhir nih, gue suka endingnya!!! Yeay. Dua kali baca novel dengan tema dan judul sepaket gue puas banget sama endingnya. Ending yang bikin kita berharap kalau esok hari masih ada hari bahagia yang perlu diperjuangin.

image

Menjawab tantangan Monday Flash Fiction untuk Reading Challenge Mei 2016 dengan tema Buku yang Mengambil Setting di Indonesia, kuputuskan akan mengirim 17:17 sebagai jawabannya! 🎉🎉

Sebenarnya saya nggak tahu boleh ikut challenge ini apa nggak, soalnya saya bukan member MFf sih 😒

1. Kesan yang kamu harapkan saat ingin membaca bukunya.

Kesan? Dia awal sudah saya katakan, nggak bertaruh tinggi soalnya belum sempat baca review para book blogger. Ya, semua pembaca buku pasti pengen puas. Dan saya puas.

2. Kota apa yang dipilih penulis di buku itu? Penggambaran kotanya bisa buat kamu berimajinasi dan merasa ada di kota itu nggak? Atau setidaknya, bikin kamu pengen ke kota itu atau nggak?

Kota yang Sheva pilih adalah Jakarta dengan segala hiruk pikuknya. Kota yang sangat sering saya temui dalam novel hingga membuat saya hapal walau bukan  bagian dari mereka dan mudah ‘masuk’ ke sana. Saya rasa penggambaran kota di 17:17 tidak secara deskripsi tempat tapi lebih ke suasana.

3. Intisari dari buku tersebut apa aja *NOTE: no spoiler ya

Seperti kata M. Aan Mansyur di cover depan novel ini: “Novel yang menyenangkan ini memberi tahu saya bahwa perihal yang rumit dalam hidup ini adalah serangkaian hal sederhana yang kita abaikan, sementara sesuatu yang sederhana adalah perkara rumit yang tidak sungguh kita perjuangkan.”

Setiap keganjilan yang ada di hidup ini, bukanlah hal yang buruk hingga membuat kita ingin memaki, tapi adalah corak kehidupan yang harus ada untuk menggenapi.

4. Tokoh-tokoh yang ditonjolkan dari buku tersebut. Siapa saja, dan menurut kamu, karakter mereka bagaimana

Tiga buku dengan paket yang sama—00:00, 11:11, dan 17:17—menceritakan suatu kejadian di satu hari. Hingga membuat tokoh yang dirampilkan sangat sedikit.

17:17 kali ini menggunakan dua tokoh utama dengan POV bergantian yang selalu ditonjolkan. Walau kadang mereka sering membahas mengenai Om Randu—Om-nya Sara—dan Indy—sahabat Sara yang entah kenapa sering disebut tapi nggak pernah muncul.

5. Bagaimana alur ceritanya? Maju, mundur, atau maju mundur?

Alur ceritanya adalah maju, karena ya, ini seperti dasar cerpen tapi dibuat novel.

6. Kamu greget nggak sama endingnya? Apa sesuai dengan harapanmu?

Endingnya tenang. Sama seperti 00:00. Bikin kita dewasa menyikapi hidup. Harapanku sih bukan di ending hahaha

7. Apa manfaat yang kamu peroleh setelah membaca buku tersebut?

Setelah baca novel ini, (semoga) aku siap menghadapi UKK. Ceritanya refreshing gitu.

Btw, ada banyak quotes dan pembelajaran hidupnya. Itu yang paling penting.

“Jangan cepat putus asa. Kalau cepat menyerah, ibarat makanan belum matang, apinya keburu dimatikan hanya karena takut pancinya panas.”—hlm. 7

“Setiap makanan itu berbeda. Ada rendang yang dimasak lama, dan ada ikan goreng yang dimasak cepat. Dua-duanya sama-sama enak, tapi prosesnya nggak sama. … Mungkin waktunya aja yang belum tepat.”—hlm. 8

8. Kalau kau ditakdirkan bertemu langsung dengan penulisnya, apa yang kamu ingin sampaikan padanya, berkaitan dengan bukunya yang telah kamu baca.

Whoaa! Keren kalau bisa ketemu langsung terus kita ngobrol. Aku bakal nodong penjelasan soal Indy! 😈
Aku juga mau nanya apa 17:17 akan dibuat sekuel? Soalnya ini punya ending serta cerita yang menuju ke kemungkinan itu. Contohnya di ending yang gitu itu terus cerita soal neneknya Raka yang nggak suka cucu cowok. Itu sama sekali belum ada penyelesaian, bikin penasaran. Kalau emang mau dibuat sekuel, aku tunggu kak Sheva! 😍

9. Berapa ratingmu untuk bukunya?

Ekhem. Untuk kak Ardelia Kariza, terima kasih atas hadiah blogtour 00:00 ini, sebuah kemenangan yang membuat saya mencicipi novel berating 3,5.

Iklan

One thought on “17:17 by Sheva Thalia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s