Faith and the City by Hanum Salsabiela Rais & Rangga Almahendra

image

Setelah malam penganugerahan Hero of The Year untuk Phillipus Brown, semua wartawan menginginkan wawancara eksklusif dengan Phillipus Brown dan Azima Hussein beserta kedua anak gadis mereka Sarah Hussein dan Layla Brown. Pasangan penyatu jembatan yang terpisah, pasangan yang dirundung kebahagiaan, Hanum dan Rangga, tak pelak ikut menikmati media frenzy. Bagi Hanum, New York City masih ingin menahannya. Tidak bagi Rangga, tugas belajar dan riset telah menunggu setia di Wina.

Out of the blue, Cooper dari Global New York TV hadir dalam hidup mereka. Ia menawarkan sebuah penawaran mustahil tertolak oleh Hanum : menjadi produser sebuah acara Global New York TV yang meliput dunia Islam dan Amerika.

“Menundukkan New York City berarti menundukkan dunia.”—hlm. 33

Ini adalah secuplik dunia media yang gelap, dunia rating dan share yang manis sekaligus menjebak. New York yang elegan, namun mengintai mahligai soliditas Hanum dan Rangga. New York yang romantis, mengembuskan mantra magis, namun melahirkan kenyataan ironis.

“Kota ini memanjakan ambisi. Atau sekarang ini bermutasi menjadi im-pi-an,”—hlm. 82

Akankah Hanum mampu mengelak dari pesona Cooper dan New York City? Mampukah Rangga mempertahankan cinta sejatinya dari impian yang membelitnya?

Atau jangan-jangan impian yang menjadi kenyataan, tetaplah ilusi, jika melupakan iman dan keyakinan?

Paperback, Indonesian, 227 pages
Published December 12th 2015 by Gramedia Pustaka Utama
ISBN 139786020324333

⭐⭐⭐⭐


Novel Faith and The City ini dapat dibeli secara online di Bukupedia. Klik tautan dibawah ini untuk informasi selengkapnya.

http://m.bukupedia.com/id/book/id-100373/faith-and-the-city.html


Tiga minggu waktu yang bisa digunakan Hanum untuk menjadi bagian GNTV. Dalam kurun waktu tersebut Hanum berusaha mati-matian membuat acara terbaik yang bisa menaikan poin share and rating sekaligus menjawab tantangan dunia bahwa ia bukanlah jurnalis kecik yang selalu dunia katakan.

Sayangnya ia lupa satu hal. Bahwa dunia ini berisi oleh ketidakpuasan. Semakin target tercapai, semakin tinggi pula tantangan yang diberikan oleh Cooper selaku atasan dan Tuhan selaku sutradara kehidupan.

Hingga akhirnya “belenggu” itu muncul ke atas permukaan dan memporak-porandakan kehidupan keluarga kecil Hanum dan Rangga.

Hanum yang semakin sibuk dengan acaranya ditambah tuntutan atasan mulai melupakan kewajibannya sebagai istri dan arti dari iman dan keyakinan.

Waktu terus bergulir, rating dan share merangkak naik, namun kejatuhan pun tak dapat dianulir.

Time has a precise way to show what’s really precious to our life.“—Philipus Brown. Hlm. 141

REVIEW

Faith and The City dibuka oleh sebuah cerita mengenai seorang istri dengan julukan Faith yang mengikhlaskan suaminya menikah dengan perempuan lain—Ny. Reeds—yang telah memiliki dua anak.

Ini pertama kalinya saya membaca karya Hanum Salsabiela ataupun Rangga Almahendra, first impression saya mengenai tulisan ini adalah penggunaan diksi yang sangat bagus dan mudah dipahami. Penggunaan analogi/persamaan-persamaan dalam megibaratkan suatu hal menambah rasa sastra yang kental.

Setelah saya membaca prolognya, saya berpikiran akan mendapati keseluruhan novel ini bercerita mengenai si Faith itu. Ternyata saya salah total. Ini tentang kehidupan tokoh yang memiliki nama sama dengan kedua penulis.

Setelah 15 bab saya baca, saya mendapatkan kabar buruk mengenai Faith and The City ini. Buku ini adalah seri keempat setelah 99 Cahaya di Langit Eropa, Berjalan di Atas Cahaya, dan Bulan Terbelah di Langit Eropa. Dimana ketiganya belum pernah saya baca! Dan maaf, bahkan belum semua saya tonton filmnya.

Sebenarnya setelah membaca prolognya saya juga merasa ini seperti cerita sambungan. Akhirnya saya mencari spoiler-an dari teman-teman saya.

Namun kalau dipikir-pikir, nggak masalah kok kalau baca tidak beturutan. Soalnya cerita ini memiliki inti yang (sepertinya) berbeda dengan buku sebelumnya. Dalam buku ini juga kadang masih disebutkan hubungan-hubungannya dengan cerita yang sebelumnya. Benang merahnya tetap mudah diraba.

Selain menceritakan tentang aktivitas Hanum sebagai penggiat Islam melalui media, novel ini juga tersisipi mistery guest yang akan tampil di bab selanjutnya dengan konflik yang mengguncang.

Dengan mengusung tema kehidupan juru tinta di balik layar, cerita ini memperlihatkan konflik yang ironis. Banyak hal yang dapat saya pelajari dari kehidupan ini. Seperti, share and rating dapat mengalahkan hati nurani. Demi itu dan pundi-pundi kredit di rekening, jurnalis tega mengenyahkan kebahagiaan narasumber! Menyedihkan sekali. Semoga hal itu tidak banyak terjadi di Indonesia.

Hanum Salsabiela Rais, yang saya ketahui telah bergelut dalam dunia pertelevisian sejak lama membuat cerita novel ini benar-benar terlihat realistis. Seperti sebuah jurnal perjalanan hidup. Hingga saya (yang kurang update) merasa kalau cerita ini memang benar pernah terjadi dalam hidup seorang Hanum. Tapi sepertinya tidak juga.

Kira-kira apa lagi yang dapat saya review? Hmmm… Bintang 4 sangat pas untuk novel ini. Saya suka bagaiman penulis membuat karakter, dari awal hingga akhir saya nggak suka sama Hanum. Dia benar-benar bikin gregetan. Obsesisnya untuk menunjukkan pada dunia dan mudahnya dibodohi sangat kuat. Lain halnya dengan tokoh Rangga, dia ini sejenis pria (suami) yang sabar dan menyanyangi istrinya dengan baik. Dia rela berkorban demi istrinya.

Lalu cerita mengenai keluarga Iqbal, Faith/Zuraida, Rhonda, dan Alex mampu membuat saya terharu dan percaya bahwa Islam adalah agama yang mengantarkan pada jalan yang lurus.

The last but not least, epilognya mengingatkan saya banyak hal. Mengenai dunia nyata itu seperti mimpi dan kita hanya akan terbangun kalau sudah meninggal.

Kehidupan di dunia ini adalah panggung pertunjukkan. Dengan Tuhan sebagai sutradara serta kita sebagai pemeran. Dalam panggung ini, ada banyak plot yang ditampilkan, ada banyak pula hubungan antar pemain. Pada saat itu kita hanya bisa berusaha untuk tidak terhanyut dalam peran. Karena semakin kita menghayati, semakin hilang kesadaran dan jati diri kita. You got it? How good parable this, right?

Btw, anw, sepertinya aku harus baca dari seri awal. Aku pengen banget baca cerita bagaimana Azima dan Brown bisa bersatu.


Resensi ini diikutkan dalam #ResensiPilihan Gramedia Pustaka Utama dan Event Blind Date With A Book


The last. Suer ini yg terakhir. Terima kasih untuk kak Wijatnika Ika (kak Ika lupa ngasih nama samaran di paketannya, aku jadi tambah yakin kalau itu dari kakak) atas bukunya. Awalnya aku nggak tau clue yang diberi akan merujuk ke judul apa, aku hanya penasaran dan percaya kalau novel bagus itu belum pernah kubaca.

A novel, New York, Faith, Love.

Terima kasih pula untuk hosts Blind Date With A Book yang ngadain acara kayak gini. Adain lagilah 😉

Nggak tau mo ngomong apa lagi. Yang pasti, makasiiih banyak dan maaf sering nyepam lewat twitter “kenapa teman kencanku belum juga datang”. Maapken yak 😚

Adakah yang penasaran dengan buku yang aku ajuin buat acara Blind Date With A Book ini?

Ini dia bukunya:

1. Perseteruan dua remaja cewek bersaudara yang mirip langit dan bumi. Project dari tiga penulis lokal.

image

Hujan dan Pelangi by Idawati Zhang, Mikayla Fernanda, Ch. Marcia (Clara Ng Book Project)

2. Masa kecil. Sahabat. Cokelat panas. Atap. Cinta segitiga. Senja. Gunung Kidul. KKN.

image

Hot Chocolate by Rizka Amalia

3. Sulit untuk melepaskan orang berarti, tapi seseorang misterius membuka kenangan pahit. Akankah ia berhenti bimbang?

image

Kira by Dhian Gowinda

So, siapa yang nebak dengan benar? 😁

Iklan

2 thoughts on “Faith and the City by Hanum Salsabiela Rais & Rangga Almahendra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s