Somewhere Only We Know – Alexander Thian

image

Cinta itu ada, selalu ada, akan terus ada

“You don’t define love. You just… love.”

Kenzo
Menyusuri jalanan Hanoi yang basah,
menerobos hujan yang masih turun dengan deras.
Gue melangkah tanpa peduli ke mana kaki membawa gue pergi.
Lampu kuning jalanan membuat jejak-jejak rintik huja  tampak jelas.
Entah karena gue yang delusional atau terlalu romantis menjijikan,
gue setengah berharap dia akan muncul di ujung jalan,
bersandar pada tiang lampu, membawa payung, lalu tersenyum melihat gue.

Ririn
Kenangan otu masih sejelas dan sebening film yang berformat blu-ray.
Gue tertawa kecil ketika membuka pintu taksi, membayangkan wajah aneh Arik sore itu. Dalam perjalanan pulang, gue bermimpi tentang berdansa di awan, sementara kembang api meledak-ledak di sekitar gue dan Arik.

Arik, can we be infinite?
Most of all, is this the love we thonk we deserve?

Bagi Kenzo, cinta ibarat secangkir kopi.
Terkadang terasa pahit, tetapi tetap memiliki banyak lapis rasa.
Bagi Ririn, kakak Kenzo, cinta hanya memiliki dua rasa: pahit dan manis.

Meski Kenzo meyakinkan selalu ada ruang untuk dongeng cinta, Ririn berusah melupakan cinta karena pahitlah yang mendominasi kisahnya.

Ketika cinta benar-benar ada di hadapan keduanya, mampukah mereka menerima dan memperjuangkannya,

Ini kisah tentang dua hati yang sama-sama merindukan kehangatan cinta. Tentang dua orang yang selalu berusaha mengartikan cinta, tetapi akhirnya mereka sadar bahwa cinta tak perlu diartikan.

Ririn dan Kenzo belajar dari rasa sakit, meskipun telah banyak kehilangan, mereka tetap memiliki harapan tentang cinta. Bahwa kita hanya perlu jatuh cinta untuk merasakan maknanya. Somewhere Only We Know juga mengisahkan tentang memaafkan masa lalu yang akan membawa kebahagiaan baru. Cinta itu selalu ada.

IDENTITAS BUKU

Somewhere Only We Know
by Alexander Thian
Paperback, 340 pages

22 September 2015
Gagas Media

ISBN 9797808300
ISBN13: 9789797808303

⭐⭐⭐


Novel Somewhere Only We Know ini dapat dibeli secara online di Bukupedia. Klik tautan dibawah ini untuk informasi selengkapnya.

http://m.bukupedia.com/id/book/id-99001/somewhere-only-we-know.html


REVIEW

Sudah lama aku membaca review tentang novel ini, bahkan sampai lupa kenapa aku bisa sangat tertarik. Hingga berbulan-bulan numpuk di wishlist baru akhir Maret lalu aku beli.

Aku membaca benar-benar dari awal. Dari kata pengantar. Dari situ aku langsung menyukai cara Alexander Thian bercerita. Ceritanya hidup, mengalir dengan sederhana.

Membuka chapter satu aku langsung dihadapkan pada paragraf yang sangat menarik. Langsung mengarah ke inti cerita. Jadi bukan pembukaan yang basa-basi. Karakter yang dimiliki Ririn sebagai wanita 26 tahun sangat kontras dengan umurnya. Dia ‘diciptakan’ untuk memberikan tawa.

Sedangkan di chapter selanjutnya, aku bertemu dengan Kenzo—adik Ririn—yang sangat mellow. Pada bab itu juga aku langsung diingatkan pada review yang dulu sempat aku baca. Sesuatu yang membahayakan feel bagi pembaca yang tidak menyukai jenis cerita sensitif. LGBT.

Moodku langsung turun drastis. Namun aku tetap melanjutkan membaca karena aku penasaran, akan kemana cerita ini meruncing? Novel ini menceritakan tentang kakak-beradik sesuatu yang aneh jika tidak ada hubungan yang lebih.

Asumsiku atau dugaanku tambah berkembang ketika bertemu dengan Arik. Siapa dia? Apa ada hubungannya dengan Kakak beradik itu? Atau hanya hubungan sebatas pacar Ririn? Semuanya terjawab ketika aku membaca hingga tuntas.

Yang paling aku suka dari novel ini adalah penokohan dan twist. Perbedaan karakter yang sangat mencolok antara Ririn-Kenzo-Arik. Sangat kontras namun melengkapi. Ririn yang periang, Kenzo yang suka memendam perasaan, dan Arik yang dewasa.

Setiap bab memiliki sudut pandang berbeda. Ririn dan Kenzo. Rasa menghayatinya lebih dalam. Bahkan aku sampai merasa terombang-ambing. Sama seperti kata penulis di pengantarnya, “menulis novel ini sangat menguras emosi. Saya ‘dipaksa’ bertransformasi menjadi perempuan dengan segala roller coaster emosinya dalam sosok Ririn, dan saya ‘dipaksa’ menjadi seorang laki-laki yang berkepribadian berkebalikan 180 derajat dari saya dalam sosok Kenzo.”

Sosok Kenzo benar-benar sukses membuat aku juga harus ikut transformasi alias memahami dirinya. Dia dengan masalah percintaannya sangat menguras emosi.

Lain dengan sosok Ririn. Mungkin karena saya juga perempuan, saya malah sangat menikmati ketika membaca ceritanya terutama ketika bersama Arik.

Tokoh Arik disini dibuat mengagumkan. Kedewasaannya, kecerdasannya dalam mendongeng (unik ya laki-laki suka dongeng?), dan gambaran sempurna tentang wujudnya. Membuat saya senyum-senyum membayangkannya.

Twist. Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya sangat penasaran dengan “akan kemana cerita ini meruncing? Apa hubungannya Ririn-Kenzo-Hava-Arik? Akankah novel ini tetap berlangsung menjadi dua buah cerita yang sekedar terhubung oleh persaudaraan Ririn-Kenzo atau lebih dari itu? (Maksudnya lebih kompleks?)”

Saya menebak mereka berempat akan mendapatkan ‘kenyataan’ yang luar biasa mengagetkan. Mungkin Hava sebenarnya adalah Arik. Mungkin Hava adik Arik? Atau yang lainnya? Ternyata lebih sederhana dari itu. Aku merasa tertipu sekali. Namun aku juga lega karena aku sangat berharap. Cinta itu ada, selalu ada, akan terus ada, pada Ririn dan Arik. Ya, saya sangat mendukung hubungan mereka jadi nggak rela kalau endingnya menyedihkan.

Overall, aku suka novel ini. Kalimat-kalimat yang disampaikan oleh Alexander Thian sangat dalam dan fresh walau intinya sama. Dengan penggunakan majas-majas tertentu serta analogi membuat citra rasanya lebih romantis. Banyak juga quote yang mengena dan tentu saja memberikan sudut pandang baru atau mengubah mind-set pada bagian-bagian tertentu.

“Saya nggak pernah sepercaya diri ini seumur hidup saya. Dan, saya minta kamu untuk percaya.”—218

“I choose to trust him. I choose to trust my man. Above all, I choose to believe in serendipity.”—218

“Why can’t we accept the fact that we are happy NOW, and that’s all that matters?”—326

Satu pertanyaan yang masih mengganjal. Kenapa diberi judul Somewhere Only We Know? 😕

Oh, saya ingat kenapa pengen sekali novel ini. Blurb-nya! Manis galau mellow banget. 😅


Resensi ini diikutkan dalam
#TantanganBacaGRI 2016 bulan April dengan tema “Buku Dengan Sampul Warna Favorit”

image

Iklan

One thought on “Somewhere Only We Know – Alexander Thian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s