Bayangan Maret

wp-1456966855993.jpeg

“My friends keep tellin’ me, that if you really love her, you’ve gotta set her free. And if she returns in kind, I’ll know she’s mine.” lagu Heaven Knows milik Rick Price menggema di setiap sudut ruangan. Bersamaan itu pikiran gadis yang tengah membaca novel melayang ke tiga tahun yang lalu. Ketika semuanya bermula. Tepat di bulan yang sama. Maret. Dimana rasa itu tumbuh dan perlahan berkembang hingga dua bulan kemudian, sang pencipta rasa membunuhnya dengan terpaksa.

Lalu lagu dengan suara Adam Levine yang menyanyikan Payphone. Rahang sang gadis mengeras, matanya terpejam, pikirannya terhempas pada sosok yang tiga tahun lalu sering kali menyanyikannya lagu itu ketika pelajaran kosong dari belakang bangkunya. Lagu yang berisi kenangan penuh akan rindu, cinta, dan masa lalu.

Yeah, I, I know it’s hard to remember
The people we used to be
It’s even harder to picture
That you’re not here next to me
You say it’s too late to make it
But is it too late to try?
And in our time that you wasted
All of our bridges burned down

Masa lalu? Aaah! Sontak ia membuka mata. Tak seharusnya ia teringat akan kenangan pahit. Tapi nyatanya ‘First love never dies” telah menjamur dalam pikiran banyak orang. Tak terkecuali ia, walaupun sudah mencoba untuk tidak percaya, namun kenyataan memerangi dirinya. Dia terjebak dalam nostalgia.

I’ve wasted my nights
You turned out the lights
Now I’m paralyzed
Still stuck in that time
when we called it love
But even the sun sets in paradise

Helaan napas panjang menghentikan seluruh penyesalan yang terus saja bergumul dalam hatinya. Ia mencoba tetap berjalan, sendiri tak masalah, asalkan ia melihat orang yang pernah ia cintai bahagia. Cinta memang membutakan dan tidak rasional.

You turned your back on tomorrow
Cause you forgot yesterday
I gave you my love to borrow

But just gave it away
You can’t expect me to be fine
I don’t expect you to care

Sang gadis melanjutkan membaca buku yang berjam-jam ini menceritakan tentang cinta. Hingga matanya tertuju pada paragraf khusus di akhir bab. Dia tercengang.

“Dipersembahkan untuk orang-orang muda di masa lalu, apakah kalian sudah berbahagia sekarang?”

image


Cerita ini terinspirasi dari Kumpulan Cerpen Autumn Once More karya Ilana Tan, Ika Natassa, AliaZalea dkk.

Secara spesifik lebih terinspirasi dari cerpen berjudul Her Footprints on His Heart karya Lea Agustina Citra.

image

Mohon untuk tidak mengutip tanpa seizin saya.

Terima kasih telah menyempatkan membaca ūüôā have a nice future.

Remember you,
Pramestya Ambangsari

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s