[Review] Dear Miss Tuddels by Ginger Elyse Shelley

wp-1450019298821.jpeg

Biodata Buku:
Dear Miss Tuddels
Penulis: Ginger Elyse Shelley

Cetakan Pertama, Oktober 2015
Penerbit DIVA Press

224 hlm; 14 x 20 cm
ISBN 978-602-225-967-2

Rating: ⭐⭐⭐

“Kurasa aku benar-benar jatuh cinta. Aku tahu ini sangat konyol. Aku hampir selalu mencemooh pembicaraan soal cinta selain pernyataan tentang betapa palsunya kata itu. Kurasa ini yang namanya ironi.”

Matteus MacGregor tak pernah percaya pada cinta—pernikahan yang dilandasi cinta. Meskipun ia menginginkannya, itu sama seperti ingin bertemu seekor unicorn. Namun, tanpa ia sadari, Kimberly Tuddles menyelusup ke hatinya.
Namun, Kimberly Tuddles adalah pelayannya. Hubungan cinta antara majikan dan pelayan dan majikan adalah skandal besar di kalangan bangsawan Inggris pada zaman Victoria, tahun 1800-an.
Bagaimana cara Matteus dan Kimberly meraih kebahagiaan dan cinta mereka di tengah situasi sosial yang demikian?

SINOPSIS DAN REVIEW

Cerita tentang Tuan Muda (Matteus Macgregor) anak konglomerat yang tidak percaya cinta, yang akhirnya jatuh pada Pelayan pribadinya (Kimberley Tuddels).

Bagaimana mereka mempertahankan hubungan yang tidak seharusnya itu? Apa mereka harus menyembunyikan terus? Apa yang dapat mereka lakukan untuk mengahadapi tekanan dimana-mana? Dan, akankah mereka mendapatkan kebahagiaan bersama?

Oke maaf sinopsis dariku nggak mutu banget, tapi ya kau harus baca sendiri biar puas. Jadi, ini kesanku setelah beberapa jam baca.

Mungkin kalau sebelumnya belum pernah baca reviewnya pasti bakal nganggap ini novel terjemahan. Aku juga gitu. Tapi nyatanya, ini karya anak bangsa yang memang disajikan dengan bahasa seperti buku terjemahan. I mean, agak susah dimengerti dan keliatan Eropa banget. Jadi butuh konsentrasi lebih kalau kamu nggak biasa baca buku terjemahan.

Penulis seakan tau betul tentang setting Inggris abad ke-18an. Tentang, nama, puisi-puisi, buku, sastra, budaya, dan kebiasaan orang Britania Raya kala itu. Dan itu bikin aku berdecak berkali-kali. Keren, cerdas, pintar banget, wawasan luas.

Segalanya kubaca cukup tenang–walau susah dipercaya pembantu & majikan jatuh cinta kemudian menjalin hubungan kekasih. Kayak… drakor?–hingga pertengahan, namun ketika Matthew mengungkapkan perasaannya semua berubah. Ada beberapa halaman yang nggak aku suka, ya, karena umur. Pesanku, jangan di baca anak yang masih dibawah umur, mungkin ada yang sensitif sama cerita gituan. 😒

Endingnya oh my God! Jujur, ga suka. Feelnya kurang kalau dijadiin ending. Kayak seharusnya ada klimaks yang besar dulu baru ke ending. Ah aku kecewa disini. Nggak ada tulisan TAMAT di akhir, jadi ceritanya belum berakhir kan? Masa cuma gitu aja sih, Mate? *reader nggak terima*

Lupain ending, inget Matthew aja. Jadi di buku ini POV-nya ada dua. Matthew dan Kimberley dengan alur maju terus pantang mundur dan alur cepat tanpa sadar. Ya, ada penanggalan di setiap bagian. Tapi kalau nggak diperhatiin bakal ngiranya kejadiannya itu baru kemarin, ternyata udah bulan lalu. Itulah yang bikin kesan cerita ini beralur cepat.

Tokoh yang kusuka Matthew soalnya dia tokoh utama. Tapi aku juga suka Darius walau dia brengsek di awal. Yang cewek aku suka Rebecca, sayang dia dieksploitasi cuma sebentar.

So, cocok buat yang suka sastra dan cerita berlatar luar negeri atau yang suka  cerita abad 18an.

Maaf kalau malah nggak ada gambaran soal buku ini. You can ask me if you want, but I dont give you too much answers. That’s will make spoiler.

Oh iya, kayaknya ending emang dibuat gitu biar pembaca nggak kehilangan imajinasi liarnya.

“Dia bahkan tidak perlu mengetuk pintu hati saya, Mr. Lawrence. Saya sendiri yang mencongkel kuncinya dan memaksanya masuk. Saya mencintainya, dan dia mencintai saya,” –Matthew [174]

“Jika aku terpaksa meninggalkanmu, maukah kau mengingatku sebagai kenangan yang indah? Karena aku tahu aku akan mengingatmu seperti itu.”–Matthew [175]

“Meskipun kita berpisah, percayalah, di dalam sini tidak ada sosok diriku, sosokmu, atau siapa pun. Di dalam sini hanya ada hatiku yang selalu mencintaimu.”–Kimberley [176]

“Tapi keindahan pahit dan sakit kehidupan itulah yang pantas dipertahankan, Nak. Kami bahagia; semenderita apa pun kami. Dan itulah yang penting. Karena kita tidak akan mengorbankan waktu-waktu bahagia itu, hanya karena segelintir aral.”–Mrs. Walfred [188]

“Cinta abadi tak pernah mudah, tapi itulah satu-satunya keabadian yang bisa kita capai di dunia ini.”–Mrs. Walfred [188]

“Hidup adalah mimpi, dan hanya kematian yang dapat membangunkan kita.”–Matthew [223]

*kalau udah baca sampai halaman terakhir terus baca lagi kata-kata Matthew yang ini, rasanya nyesek. Padahal sebelumnya nggak.*

image

image

Terimakasih telah membaca kesan saya tentang Dear Miss Tuddels. Semoga bermanfaat, maaf banyak salah dan see you! 😎

 

Iklan

One thought on “[Review] Dear Miss Tuddels by Ginger Elyse Shelley

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s