[Review] Alter Ego by Rani Puspita

Bahagia dirasakannya, kehilangan pun dihadapinya. Namun, apakah disebut takdir jika orang yang disayanginya satu per satu meninggalkannya. Bahkan saat menemukan cintanya, ia pun kehilangannya.

Secara tidak sadar “sesuatu” telah megubah dirinya sejak kecil. Ia pun bergelut dengan separuh jiwanya, berusaha memahami dirinya sendiri di antara masa suram.

Dan di antara masa suram, masih ada seseorang yang rela menjadi bagian dalam hidupnya. Rela memberikan hal yang selama ini tidak dimilikinya.
Nayla, seorang gadis remaja yang belajar untuk mengetahui siapa yang benar-benar ada untuknya. Ia juga belajar memahami bahwa ia dapat memilih untuk menjadi bahagia.

BIODATA BUKU

Alter Ego
Judul : Alter Ego : Nayla Vs Setengah Jiwanya
Penulis : Rani Puspita
Penerbit : PT Lintas Kata
Cetakan pertama, 2015
Iv + 228 hlm; 14 x 20 cm
ISBN 978-602-71445-7-6
Harga : Rp. 47.000
Kategori : Novel Psikologi, Teenlit


Novel Alter Ego ini dapat dibeli secara online di Bukupedia. Klik tautan dibawah ini untuk informasi selengkapnya.

http://m.bukupedia.com/id/book/id-90623/?m=1


SINOPSIS + REVIEW

Masa kecil Nayla tidak sebahagia anak lain, ia dikekang oleh ayahnya karena persoalan takdir. Ia lebih sering berada di dalam rumah mendengar pertengkaran orang tuanya yang mempermasalahkan hal sama setiap harinya, hingga ia menderita tekanan fisik sekaligus batin. Kejadian buruk sering ia alami, tetapi ia tetap bangkit karena pesan ibunya di dalam mimpi.

“… dunia nyata itulah tempatmu. Nayla tidak boleh berada di sini. Di dunia nyata kamu akan lebih bahagia. Hidupmu masih panjang. Masih banyak orang yang mencintaimu di sana.” (hlm. 23)

Ya, novel ini memiliki pembukaan yang bagus banget, diksi yang keren, analogy yang pas. Seperti saat aku ditanya apa yang buatku tertarik sama novel ini, aku yakin kalau Alter Ego ini pasti punya banyak banget kata-kata bijak. Lalu, tererengg… bener kan tebakanku, emang banyak quotes kerennya setiap chapter.

Untuk memulai kehidupan baru di tempat tinggal baru setelah kematian ibunya, Nayla mencoba menggapai kebahagiaannya. Bersama Popi ia mulai dikenalkan dengan dunia yang seharusnya. Menjadikan awal kehidupan SMA Nayla seindah kisah drama. Ia bertemu dengan Gerald—cowok keren, cool, misterius, kapten basket, pemberontak—oleh pertemuan bersetting tempat dan suasana yang biasa kita temui dalam cerita lain, namun pada cerita ini dibalut dengan cerita yang unik, belum pernah saya temukan di novel lain, jadi terasa asik dibaca.

Apalagi ditambah dengan kekonyolan kejadian yang bikin ketawa.
Dimunculkan pula oleh penulis, seorang tokoh dengan karakteristik cogan populer juga tapi yang ini banyak sifat baiknya deh, kebalikan dari Gerald, namanya Guntur. Pembaca novel mana yang nggak suka sama cogan baik hati plus perhatian? Tapi sayangnya, Nayla tidak menyukai awal kehadiran Guntur yang menurutnya terlalu cerewet.

“Terserah kamu mau marah sama aku atau mau benci sama aku, tapi kamu gak boleh nyakitin diri kamu sendiri.” (hlm. 75)

Bab-bab selanjutnya berisikan tragedi-tragedi yang menjadi inti Alter Ego itu sendiri. Mulai dimunculkan satu demi satu bersama teka-teki kehidupan tokoh lain. Realisasi dari mimpi-mimpi dan gema dalam kepala Nayla itulah cerita yang tak terduga, menegangkan, dan bikin melongo.

“Bunuh… hancurkan dia. Bunuh… hancurkan dia yang tak pantas hidup!”

Dalam tragedi ketiga, orang terdekat Nayla-lah korbannya. Gara-gara tragedi itu Nayla pindah ke London. Selama lima tahun Guntur dan Nayla tidak pernah bertemu, selama itu pula Guntur melakukan penelitiannya tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan Nayla. Karena ia yakin bahwa kematian ‘itu’ bukan karena kecelakaan, melainkan pembunuhan. Di bagian ini kamu akan mendapatkan informasi baru tentang “apa sebenarnya Alter Ego” itu. Kamu akan dikasih tahu jawaban dari semua teka-teki, tentang bagaimana tragedi-tragedi itu dapat berjalan dengan lancar. Juga tentang munculnya kembaran Nayla. Setelah tragedi-tragedi mengenaskan tersebut, kenapa Nayla tak juga dipenjara? Jawabannya karena Guntur melindunginya. Sesederhana itu 😀 romantisnya…

“Karena… aku mencintaimu, Nay.” (hlm 216)

Saat dimana Nayla bertarung hebat dengan si kembar menampilkan pertarungan yang hampir saja merenggut nyawa Nayla maupun Guntur. Adegan itulah yang bikin pertahananku hampir jebol sebenarnya malah udah merembes dikit sih. (iya tau, aku cengeng, baperan.)

Tiba-tiba udah mau selesai gitu aja? Aku bisa apa? Ini cepet banget menurutku. Di awal ceritanya kayak diulur-ulur bikin “ayo dong, ini konfliknya mana?”. Tetapi sepertiga terakhir ini terlalu dipercepat. Rasanya jadi kurang greget apalagi aku ngerasa permasalahannya belum selesai. Masa pertarungan Nayla dan Alter Egonya cuma gitu aja? Tapi, kayaknya aku juga salah, terlalu menghayati kali ya.. jadinya nggak sadar aja kalau udah mau selesai. 😀

Sumpah, ending yang wow bagiku. Saat di mana Guntur melamar Nayla dengan sepiring cup cakes mini beraneka rasa. Sama seperti drama-drama yang bisa kalian tonton, melamar dengan menyembunyikan cincin di makanan atau minuman, tapi kalau ini di dalam cup cakes dan kalau biasanya kan nggak ada yang istimewa dari alasan kenapa harus di masukin ke makanan, dalam ending ini alasannya ya rasa-rasa dari cup cakes itu sendiri. Pokoknya romantis banget lamaran si Guntur ini.

“Di kue-kue pertama itu rasanya manis, kemudian kue selanjutnya aneh, asin dan pahit. Mungkin begitu hidup yang akan kita jalani bersama. Tapi aku akan berusaha semampu mungkin untuk menemanimu melewati semua itu. Hingga kita menghabiskan semua sajian aneh itu dan tersisa kebahagiaan yang menyambut kita.” (hlm 225)

QUOTES
1. “Makin tinggi ia menaiki anak tangga, makin berat beban dan letih kakinya dalam melangkah. Ia harus melepas beban yang ia bawa agar bisa melangkah dengan ringan.”—hlm.35
2. Kalimat pembuka chapter lima itu keren banget menurutku. Kalimatnya gimana, baca sendiri aja. Intinya tentang definisi hidup versi penulis :v
3. “Setiap kesulitan pasti ada kemudahan.”—hlm.85
4. “Bukankah awan tak perbah menyalahkan mendung yang membuatnya turun ke bumi sebagai titik-titik air? Awan mengajarkan kita kepsrahan, karena yang sudah ditakdirkan bagaimanapun harus terjadi pada saatnya.”—hlm. 106
5. “Bila hanya ada keindahan di dunia ini, maka tak ada hati yang berusaha sabar dan ikhlas.”—hlm. 106
6. “Tidak ada yang benar-benar adil di dunia ini. Kalau dunia ini adil, pasti kita akan merasa bahagia selama-lamanya. Ketidak-adilan itu ada untuk menyeimbangkan hidup, agar kita ingat pada sang pencipta.”—hlm.108
7. “Rugi baginya kalau ia tidak mengikuti arus waktu dan tertinggal di belakang, tanpa ada seorang pun yang mau menunggunya.”—hlm. 109

Alhamdulillah di buku ini typo-nya dikit itu aja nggak terlalu fatal kok, terima kasih buat sang editor 😀 dan tolong di perbaiki ya, biar jadi bener-bener perfect.
1. hlm. 129 : “Diliriknya jam yang ada di ruang tamu, sudah pukul 9 lewat. Masih sore, tapi rumah ini terasa sepi.” Fixed, aku nggak paham maksud waktunya sebenarnya kapan. Ada yang paham? Kasih tahu aku ya.
2. hlm. 131 : “… Nayla dari neneknya?hahahha,” itu baru beneran typo.
3. hlm. 182 : “… kamu merasa ga nyama.” Kurang “n” ya kakak 

Sekian review dari saya. Maaf banyak salah, soalnya saya baru satu kali ini nge-review buku secara tertulis dan terpublish di internet. Biasanya cuma ngegrundel atau misuh-misuh sendiri di rumah. Mohon pengertiannya dan masukannya. Arigatou gozaimasu. 🙂

Iklan

One thought on “[Review] Alter Ego by Rani Puspita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s